
Kedua mataku terbuka pelan saat suara ketukan terdengar tanpa henti mengetuk telingaku. "Siapa?" Tanyaku malas diikuti bibirku yang menguap lebar, kedua mataku beberapa kali berkedip menahan kantuk yang mendera.
"Luana, dan juga Sasithorn."
"Apa kami boleh masuk?" Tanya suara itu kembali dari balik pintu, "masuklah," ucapku dengan suara yang enggan keluar, kugerakkan tubuhku beranjak berdiri ke samping ranjang.
"Tunggu, aku akan membuka pintunya," ucapku kembali, kedua kakiku melangkah mendekati pintu lalu membuka kunci yang menempel padanya.
"Apa kau selalu bangun siang seperti ini?" Tanya Luana berjalan masuk saat aku memundurkan langkah menjauhi pintu, "apa maksudmu, kak Luana?" Tanyaku kepadanya, kulangkahkan kakiku mendekati jendela lalu membuka tirai gorden yang menutupinya.
"Apa kau ingin ikut bersama kami?" Tanyanya, kugerakkan tubuhku berbalik menatapnya, "ikut? Ikut ke mana?" aku balik bertanya
dengan kedua tanganku bergerak merapikan rambut.
Luana berjalan melewatiku, kedua tangannya bergerak membuka pintu yang ada di samping jendela. Kugerakkan kedua kakiku mengikutinya yang telah berdiri menyandarkan tubuhnya di balkon.
"Para laki-laki sedang pergi, apa kau ingin ikut kami berkeliling desa?" Luana tersenyum lebar menatapku.
"Berkeliling desa?" Aku balik bertanya diikuti kedua kakiku yang melangkah mendekatinya.
"Di sebelah sana, aku dengar ada sebuah bukit yang indah. Sejak dulu, kami ingin sekali mengunjunginya," ucapnya dengan sedikit mendongakkan kepalanya ke atas.
"Kenapa kalian tidak pergi mengunjunginya saja? Maksudku..."
"Kakakmu Haruki, memerintahkan bibi Gritav untuk mengawasi kami tanpa henti. Kami, hanya diperbolehkan berkeliling di sekitar rumah," ucapnya menundukkan pandangan, aku melirik ke arah Sasithorn yang juga ikut melakukan hal yang sama.
"Jadi, kita akan pergi diam-diam selama mereka tidak ada di sini?"
Kutatap mereka berdua yang terdiam menatapku tanpa bersuara, "baiklah, aku akan mengganti pakaianku," ucapku menatapi mereka berdua bergantian.
"Kau yakin?" Tanya Luana, "aku akan pergi bersama kalian," ucapku lagi kepada mereka.
"Terima kasih, kami juga akan berganti pakaian secepatnya," ucap Luana tersenyum lalu berjalan melewatiku.
"Kak Sasithorn," kutatap Sasithorn yang berbalik menatapku.
__ADS_1
"Apa ka..." Ucapanku terhenti, "kumohon, rasanya sangat memalukan sekali untuk dibahas," ucapnya memotong perkataanku, kutatap dia yang tertunduk dengan kedua tangannya bergerak menutupi wajahnya.
"Maafkan aku. Tapi yang pasti, aku akan mendukung kalian," ucapku tersenyum menatapnya, "terima kasih," Sasithorn menurunkan telapak tangannya dari wajah, kutatap bibirnya yang bergerak membalas senyumanku.
____________________
Kami bertiga mengendap-endap ke luar melalui pintu kayu lapuk yang ada di bagian belakang rumah. "Sejak, sejak kapan kalian mengetahui tentang pintu ini?" Tanyaku dengan napas tersengal, pintu kayu yang berusaha kami dorong itu tetap tak bergeming.
"Kami, menemukannya sejak pertama kali datang ke sini," Luana membalas perkataanku dengan napas yang juga ikut tersengal, wajahnya sedikit terpejam saat dia berusaha menarik pintu tersebut dari arah yang berlawanan denganku.
"Ke-na-pa, kita ti-dak melewati jalan utama saja? Sasithorn membuka suaranya, benar seperti yang Izumi katakan. Telinga perlu bekerja dua kali lipat agar mengerti maksud dari perkataannya.
"Apa, kau pikir ... Penjaga yang ada di depan akan membuka pintu kepada kita jika kita memintanya?" Suara Luana semakin terdengar berat, napas yang ia keluarkan pun semakin tak beraturan.
Pintu kayu itu perlahan-lahan bergeser ke arah Luana, kugerakkan tubuhku semakin kuat mendorongnya ke samping. Kuarahkan kepalaku ke atas, keringat mengalir deras dari kulit wajahku diikuti napasku yang keluar tak beraturan.
"Akhir-nya, ter-buka ju-ga," ucap Sasithorn terputus-putus dari arah belakangku, aku melirik ke arahnya yang tengah membungkukkan tubuhnya mengatur napas.
"Kita harus segera pergi dari sini, sebelum mereka sadar," ucapku kembali beranjak berdiri, "kau benar," Luana menimpali perkataanku, kedua kakinya bergerak melewati pintu yang terbuka tadi.
Langkah kaki kami bertiga semakin cepat bergerak menyusuri semak-semak, beberapa kali aku berbalik ke belakang menatap Sasithorn yang berjalan dengan mengangkat sedikit gaunnya. "Kak Luana, kenapa kau tidak menggunakan gaun?" Tanyaku dengan sedikit melirik ke arahnya yang berjalan di samping.
"Apakah aku harus bertanya hal yang sama kepadamu?" Luana balik bertanya, "sejak keluar dari hutan, aku sudah tidak ingin memakai pakaian yang merepotkan itu," sambungnya seraya mengalihkan pandangan menatap lurus ke depan.
"Lalu, ke arah mana lagi kita selanjutnya pergi. Ke arah sana, atau ke sana?" Ungkap Sasithorn dengan kedua jarinya bergerak menunjuk ke arah kanan dan juga kiri.
"Kita akan menghindari jalan yang ramai," ucapku, kulangkahkan kakiku bergerak ke arah kanan. Langkah kaki kami bertiga terhenti saat di kejauhan lima orang laki-laki berjalan mendekat, "mundur, mundur," ucapku pelan, kutarik lengan Sasithorn yang diam membeku tak bergerak.
"Tunggu!" Teriakan laki-laki itu semakin mempercepat langkah kaki kami berlari menjauh.
Aku ... Mustahil untukku bertarung dengan mereka, terlebih lagi harus melindungi mereka berdua.
Kugerakkan kepalaku ke sekeliling saat langkah kaki kami terhenti. Para laki-laki itu berhasil mengejar, mereka berdiri mengelilingi kami. "Apa yang dilakukan para perempuan di sini?" Seorang laki-laki berkulit putih, bermata sipit dengan rambut hitam pendek, melangkahkan kakinya ke arah kami.
"Apa yang kau inginkan?" Aku balik bertanya kepadanya, kuarahkan lenganku ke samping berusaha menahan Luana maupun Sasithorn untuk tak melangkah maju.
"Hutan ini berbahaya, apa yang kalian lakukan di sini?" Dia kembali melemparkan pertanyaan, "ka-kami hanya ingin pergi ke bukit," ucapan Sasithorn membuatku dan juga Luana menoleh ke arahnya.
"Jangan mencampuri urusan kami. Enyahlah," ucapku ke arah laki-laki tadi. "Bukit? Jika kalian ingin pergi ke bukit, kalian seharusnya melewati jalan itu," ucapnya dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah kanan tubuhnya.
__ADS_1
Aku melirik ke arah Luana, Luana berjalan dengan menarik lengan Sasithorn di sampingnya. Kugerakkan kedua kakiku melangkah ke samping mengikuti mereka berdua, kedua mataku masih mengarah tajam ke arah para laki-laki tadi.
Jika mereka melakukan sesuatu, aku akan langsung memanggil Kou untuk menyelamatkan kami.
Kami bertiga kembali berlari cepat meninggalkan hutan, kedua kakiku bergerak semakin cepat saat kutatap bukit rumput yang ada di hadapan kami. Angin yang berembus, semakin kuat terasa saat tubuhku bergerak semakin menaiki bukit tersebut, berkali-kali aku melirik ke arah Sasithorn yang mengangkat sebelah lengannya menahan topi yang menutupi kepalanya.
"Lelah sekali," ucap Luana menggerakkan tubuhnya duduk di atas hamparan rumput saat kami berhasil mencapai puncak bukit. "Sasithorn, duduklah di samping kami," ucap Luana kembali, ikut kugerakkan kepalaku melirik ke arah Sasithorn yang berdiri di belakang kami.
"Ini kedua kalinya untukku dapat melihat pemandangan seperti ini," ucapnya tersenyum ke arah kami.
"Lalu, kapan kali pertamanya?" Tanyaku saat dia berjalan mendekati kami, "saat kita di hutan," ucapnya bergerak duduk di samping Luana.
"Aku benar-benar tidak ingin mengingat tempat itu," ucap Luana mengangkat kepalanya ke atas, "aku pun," ucapku menimpali perkataannya.
"Maaf," ucap Sasithorn dengan kepala tertunduk, "untuk apa meminta maaf, tak ada yang perlu dimaafkan," Luana mengangkat sebelah lengannya merangkul Sasithorn.
"Sachi?" Suara Luana dan juga Sasithorn terdengar saat aku beranjak berdiri, "ada apa?" Suara Luana kembali terdengar saat aku melangkah maju meninggalkan mereka.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu," ucapku diikuti kedua mataku yang masih menatap lurus ke arah kumpulan bintik-bintik hitam yang bergerak mendekat dari kejauhan.
"Memastikan?"
"Kalian berdua kemarilah," ucapku menoleh ke arah mereka berdua yang telah melangkahkan kakinya mendekatiku.
"Lihatlah ke sana," ucapku dengan menggerakkan jari telunjuk ke arah bintik-bintik hitam yang aku lihat sebelumnya.
"Memang apa itu?" Tanya Luana kembali dengan sedikit menyipitkan mata menatap sesuatu yang aku maksudkan itu.
"Perang?"
Suara laki-laki tiba-tiba terdengar, dengan cepat kugerakkan kepalaku ke arah belakang. "Aku mengkhawatirkan keadaan kalian, jadi kami memutuskan untuk mengawal kalian," ucap laki-laki yang sebelumnya kami temui di hutan.
"Apa maksudmu?"
"Kami juga melihat sesuatu yang sama dari arah sebelah sana," ucapnya dengan menggerakkan ibu jarinya ke arah belakang tubuhnya.
"Bukan itu yang aku maksudkan, siapa kalian? Apa tujuan kalian?"
__ADS_1
"Kami hanya penduduk desa," ucap laki-laki itu yang dibalas anggukan kepala oleh laki-laki lainnya.
"Yang paling penting ialah, bagaimana caranya menyelematkan diri dari sini. Desa ini, terletak di tengah-tengah dua Kerajaan besar. Jika kedua Kerajaan itu berperang? Maka, habislah desa ini," ucapnya kembali padaku.