Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXXIV


__ADS_3

Kou mendaratkan tubuhnya di atas puing-puing reruntuhan tembok. Aku melemparkan anak panah yang sebelumnya menusuk lenganku itu sembari kugerakkan kuda milikku itu berlari ke arah Kou yang masih mencengkeram seorang manusia di mulutnya. “Kou, jangan lakukan itu!” teriakku, dia yang sebelumnya seakan tak menggubrisku, perlahan mulai kembali menggerakkan tubuhnya menatapku.


Kou menggerakkan kepalanya, melemparkan tubuh laki-laki yang digigitnya tersebut sebelum dia berjalan ke arahku. Kutarik tali kekang kudaku itu, dengan perlahan kuusap kepala kuda yang aku tunggangi tersebut agar tak panik. Mataku sedikit terpejam ketika embusan udara dingin menyapu lenganku yang terluka, kupeluk dan kuusap lehernya ketika rasa sakit di lenganku tersebut telah menghilang.


“Kau memanggil Kou?”


Aku menoleh ke belakang tatkala suara Izumi terdengar, “aku tidak memanggilnya. Aku pun sama terkejutnya sepertimu, nii-chan.”


“Lupakan hal itu sejenak, masalah yang harus kita hadapi sekarang … Justru bertambah runyam,” lirikan mataku beralih kepada Haruki saat kudanya itu berjalan melewatiku dan juga Kou.


Aku menurunkan rangkulanku pada Kou, sekali lagi aku baru tersadar … Kerusakan apa yang ia timbulkan kali ini. Hanya sekejap mata saja ia menyerang, puluhan nyawa telah melayang. Beberapa dari mereka ada yang tertimbun reruntuhan, ada pula yang membeku diselimuti es, ada yang kepalanya hancur sebelah, bahkan ada yang dadanya berlubang besar … Entahlah, mungkin yang satu itu, tak bisa mengelak dari ekor Kou yang menyerangnya.


Aku mulai menggerakkan kembali kudaku ketika suara hiruk-pikuk terdengar, seiring kudaku itu berjalan … Seiring itu pula, bayangan manusia yang berjalan mendekat kian terlihat. Aku tidak bisa memastikannya, namun ada sekitar puluhan Kesatria dengan beberapa orang perempuan yang berdiri di belakang seorang pemuda.


Pemuda yang berdiri di depan para perempuan itu berteriak dengan bahasa yang tak aku mengerti. Tatapan mataku, dengan cepat melirik ke arah Haruki yang menjawab teriakan pemuda itu sambil kudanya berjalan lalu berhenti membelakangiku. “Sudah aku katakan! Kami ke sini, hanya untuk menjalin hubungan antar kerajaan,” tukas Haruki dengan suaranya yang terdengar sedikit meninggi.


“Lalu kenapa kalian menyerang Kesatriaku?!”


“Mereka yang menyerang kami terlebih dahulu, mereka melukai salah satu di antara kami. Mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa … Jika mereka bisa menahan diri untuk mendengarkan penjelasan kami, mungkin mereka masih hidup sampai sekarang, mungkin,” balas Haruki, aku mencoba menatapnya yang masih tak bergeming menatap pasukan yang ada di hadapan kami itu.


“Jika kalian tak ingin menyambut kami, apa kami harus menghancurkan tempat tinggal kalian ini? Dengan melihat apa yang terjadi di sekitarmu, kau pasti paham siapa yang sekarang sedang disudutkan, bukan?”

__ADS_1


_________________.


Aku menghela napas setelah turun dari atas kuda, kedua kakiku berjalan dengan sesekali melirik ke arah lengan pakaianku yang penuh darah di balik jubah. “Kou, jaga situasi untukku. Jika kau merasa ada sesuatu yang mencurigakan, hancurkan mereka semua tanpa ampun!” perintahku dengan masih mengikuti langkah Haruki yang berjalan di depanku.


“Lux!”


“Aku mengerti, aku akan membantu kalian memperhatikan situasi di sekitar,” balas Lux berbisik, kuarahkan lirikan mataku ke kanan, menatap bayangan kecil yang dengan cepat keluar dari penutup jubah yang menutupi kepalaku itu.


Kami terus berjalan mengikuti pemuda tadi, sesekali aku melirik ke arah beberapa Kesatria yang juga ikut berjalan mengawal kami. Aku membuang pandangan mataku kembali ke depan tatkala lirikan mataku sebelumnya, terjatuh ke arah laki-laki yang berjalan di sampingku itu.


Aura membunuhnya, terasa sekali. Apa laki-laki ini memiliki masalah hidup denganku?


Aku ikut duduk di salah satu kursi, ketika pemuda tadi mengangkat sebelah tangannya, dengan lirikan matanya yang terlihat meminta kami untuk duduk. “Apa yang ingin kalian diskusikan?” tanyanya diikuti kepalanya yang sedikit mendongak menatap kami.


“Kami, ingin bertemu dengan Ibu dari Putri Sasithorn Sittichai,” tukas Haruki, pemuda tersebut sedikit membelalakkan matanya. Namun, bukan itu yang membuatku terkejut, aku lebih terkejut ketika lirikan lima orang perempuan yang berdiri di belakang pemuda tadi, mengarah ke salah satu perempuan yang terlihat tak menunjukkan reaksi apa pun.


“Maksudmu dia, dia sudah lama meninggal bersama Raja terdahulu,” ucapnya sambil merekahkan senyum menatap ke arah kami.


Helaan napasku kembali keluar, aku beranjak mendekati Haruki sambil membungkukkan tubuh di sampingnya dengan bisikan-bisikan pelan yang aku lakukan padanya. “Adik kami, meminta untuk ditemani ke kamar mandi dengan salah satu perempuan yang ada di belakangmu. Apa kau, bisa mengabulkannya?”


“Hanya pilih saja beberapa Kesatria yang ada di sini.”

__ADS_1


“Aku, tidak ingin ditemani oleh Kesatriamu yang di mana, aku tidak bisa menjamin keselamatanku di tangan mereka,” ucapku dengan menoleh ke arah pemuda tadi, “dan juga, aku lebih nyaman jika ditemani sesama perempuan,” sambungku dengan tersenyum menatapnya setelah menurunkan kembali penutup kepala pada jubahku itu.


Pemuda itu mengangkat sebelah tangannya hingga salah satu perempuan berjalan maju, perempuan tersebut terlihat semakin menundukkan pandangannya ketika lirikan tajam pemuda itu tak sengaja tertangkap oleh mataku. “Si-silakan!” ucapnya pelan. Aku tersenyum ke arah perempuan tadi yang terlihat pucat pasi dengan wajah sedikit tertunduk.


Aku melangkah mengikuti perempuan tersebut dengan melirik ke arah Haruki. Aku terus melangkah dengan tetap menatap punggung perempuan tadi yang terlihat gusar. Dia membawaku ke sebuah ruangan dengan sebuah pintu geser, aku terus mengikuti langkah kakinya dengan sesekali melirik ke arah ranjang kayu yang ada di dalam ruangan tersebut.


“Kamar mandinya, ada di dalam,” ucap perempuan itu sambil menunjuk ke arah sebuah pintu yang tak terlalu jauh dari lemari.


Aku melepaskan busur dan tabung panah berserta jubah yang aku kenakan, “bisakah, kau memeganginya?” tanyaku dengan mengarahkan jubah milikku itu kepadanya.


“Terima kasih,” tukasku kembali sambil tersenyum saat dia telah meraih jubah yang aku berikan.


“Tahukah kau?” sambungku yang juga melepaskan tas yang aku bawa, lalu meletakkan tas milikku itu bersama busur dan tabung panah ke atas kursi yang juga tak terlalu jauh dari kami, “aku tidak tahu, apa maksud dari kakakku menanyakan perihal perempuan tersebut. Namun, apa laki-laki itu masih memerlukan perempuan lain untuk melayaninya?” ucapku, mata perempuan itu membelalak saat aku tersenyum menatapnya.


Aku membuka pakaian yang aku kenakan tersebut di depan perempuan tadi, lalu membungkukkan tubuh meraih tas, “bodohnya aku menanyakan hal ini. Karena sudah terlihat jelas, tubuhku ini akan lebih memuaskannya dibanding tubuhmu itu dan tubuh perempuan yang lain.”


“Aku benar-benar berharap, dapat menghabiskan hari dengan sentuhan yang ia lakukan di seluruh tubuhku. Membayangkannya saja, sudah membuatku tak bisa berpikir jernih,” tukasku setengah berbisik dengan sebuah baju yang baru saja aku ambil dari tas.


“Jangan bercanda! Yang Mulia tidak akan pernah melirik perempuan lain kecuali perempuan tua itu!”


Aku tersenyum sembari menggerakkan kepalaku menoleh kembali padanya. Perempuan itu tertunduk dengan menutup mulutnya setelah teriakan kuat yang ia lakukan. Dia menjatuhkan diri dengan duduk menangis sambil memeluk jubah milikku, “Saya mohon, berpura-puralah tak mendengar apa yang Saya katakan. Saya mohon,” tangisnya lagi dengan sesekali lengan kanannya terangkat menyeka mata.

__ADS_1


__ADS_2