
Aku berjalan masuk mengikutinya, sembari kakiku melangkah, ikut kulemparkan lirikan mataku ke sekitar. Ke arah para perempuan yang menoleh ke arah kami dari kursi mereka masing-masing. Putri Khang Hue membawa kami ke sebuah meja yang ada di tengah ruangan, karena hanya itu meja yang tersisa tak bertuan.
Aku menarik sebuah kursi yang ada di meja tersebut sembari mempersilakannya untuk duduk. Kuperhatikan dia yang duduk dengan perlahan sambil memegang perut dan punggungnya, “apa kau baik-baik saja?” tanyaku dengan setengah berbisik ke arahnya.
Dia melirik ke arahku lalu menganggukkan kepalanya. Aku berjalan mendekati sebuah kursi yang ada di hadapannya, menarik kursi tersebut lalu mendudukinya. “Bisakah kalian pindah dari kursi ini? Ini kursi khusus untuk Keluarga Duke,” aku mengangkat sedikit wajahku, menoleh ke arah seorang perempuan yang berdiri di samping meja.
“Ini kursi khusus? Tapi aku, tidak melihat adanya nama di salah satu kursi atau meja yang ada di sini,” ungkapku sambil melirik ke arah meja.
“Makanan di restoran ini, tidak akan sanggup untuk dibeli oleh perempuan seperti kalian,” ungkapnya sambil menatap kami berdua bergantian.
Aku melirik ke arah Putri Khang Hue yang mendecakkan lidahnya diikuti senyum yang terlihat dari wajahnya yang tertunduk, “apa seperti itu, cara kalian memperlakukan seorang pembeli?” Aku mengangkat tanganku ke meja sembari kepalaku bertumpu padanya diikuti lirikan mataku yang mengarah kepada perempuan tadi.
“Harap ingat statusmu,” ungkapnya membalas lirikanku.
Aku mengangkat tubuhku bersandar di kursi, “kau benar, aku akan mengingatnya,” sambungku dengan mengalihkan pandangan darinya.
Aku melirik kembali ke arah perempuan tadi ketika dia terlihat merapikan pakaian yang ia kenakan, ikut kuarahkan pandanganku ke arah matanya yang tertuju ke, “Julissa?” bisikku lirih ketika aku, menjatuhkan pandangan ke arah tiga orang perempuan yang baru berjalan masuk ke dalam ruangan.
Julissa membelalakkan matanya saat kedua mata kami bertemu, aku memperbesar kedua mataku, berusaha untuk memintanya agar dia berpura-pura untuk tidak mengenalku. “Ada apa ini?” tanya seorang perempuan paruh baya yang menghentikan langkahnya di dekat kami.
“Siapa kalian? Ini kursi khusus untuk keluarga kami,” sambung perempuan paruh baya itu kembali dengan pandangan matanya yang beralih kepadaku.
__ADS_1
“Ada apa ini? Apa kamu tidak tahu malu?” tukas Laila, perempuan yang aku temui di jalan beberapa hari yang lalu.
Dia melangkah lalu memainkan tangannya mengetuk-ketuk kepalanya Putri Khang Hue, “seharusnya, saat Yang Mulia menolakmu, menjauhlah darinya … Jangan, selalu berkeliaran di dekatnya sambil menikahi tangan kanannya sendiri,” ucap perempuan itu, yang juga dibalas dengan tawa kecil dari perempuan paruh baya yang ada di dekatnya.
Aku melirik ke arah Julissa, “apa yang kau lakukan, Laila?!” Julissa meninggikan suaranya seakan mengerti apa yang aku maksudkan.
Dia membungkukkan tubuhnya ke arah Julissa, “maafkan kami, Putri. Sebenarnya kami ingin menjamu Putri dengan makanan terbaik yang ada di sini. Tapi mereka,” ungkapnya terhenti dengan melirik ke arah kami.
Aku menghela napas, “aku mengerti,” ungkapku sambil beranjak berdiri lalu melangkah mendekati Putri Khang Hue. “Aku, tidak bisa makan di tempat menjijikkan seperti ini, bagaimana jika kita mencari tempat lain?” tanyaku sambil membungkukkan tubuh di sampingnya.
Dia menganggukkan kepalanya, kuangkat tanganku membantunya yang terlihat sedikit kesulitan untuk beranjak, “bisakah kau menungguku sejenak, Putri?” tukasku sembari menghentikan langkah saat kami telah berjalan sedikit menjauh dari mereka.
“Keluarga Duke, haruslah menjadi wajah untuk sebuah Kerajaan. Apa Raja kalian, tidak memperingatkan hal ini?”
“Lancang sekali!”
“Lancang sekali?” Aku balas berbicara dengan melirik ke arah perempuan paruh baya itu, “walaupun aku hanya mengenakan pakaian seadanya seperti ini, harusnya kalian … Yang merasa sudah ahli dengan barang-barang berharga, bisa menyadari kualitas kain yang digunakan untuk pakaian yang aku kenakan sekarang. Jangan mengangkat wajah kalian, jika status kebangsawanan yang kalian dapatkan sekarang hanya berasal dari rasa terima kasih seorang Raja untuk suami dan Ayah kalian,” ungkapku sembari melirik ke arah mereka bergantian.
“Dan untukmu,” sambungku dengan mengalihkan pandangan ke arah Laila. Aku berjalan mendekatinya, mengangkat tanganku lalu menampar kuat wajahnya hingga kepalanya hampir terjatuh menyentuh sudut meja, “jangan karena kau, berteman dengan Raja sejak kalian kecil, jadi kau bisa melakukan apa pun kepada perempuan yang ada di sini,” ungkapku lagi, aku melirik tajam ke arahnya yang mendongakkan sedikit kepalanya menatapku.
“Sadari statusmu! Kau hanyalah teman, bukan pasangan ataupun calon Ratu untuk Raja. Apa gelar dan harta yang baru saja kalian dapatkan, membuat mata kalian tidak bisa melihat?!” bentakku sambil mengalihkan pandangan ke arah perempuan paruh baya yang menghentikan langkah kakinya, “kau ingin menamparku?” tanyaku kepadanya sembari menatap ke arah telapak tangannya yang terangkat itu.
__ADS_1
“Kalian bisa bebas seperti sekarang karena seseorang. Sadari semua perbuatan kalian, sebelum aku sendiri yang menyadarkan kalian langsung,” ucapku berbalik lalu melangkah jauh meninggalkan mereka.
“Aku benci saat seseorang dibeda-bedakan oleh sesuatu yang tak bisa dia pilih, kalian hanya sedikit beruntung terlahir di keluarga bangsawan. Jangan merendahkan seseorang, jika kalian sendiri pun tidak akan mampu bertahan hidup seperti yang ia lakukan. Dan untuk kalian yang berkerja di tempat ini, bersiaplah mencari perkerjaan baru,” ungkapku kembali menghentikan langkah lalu berbalik menoleh ke arah pelayan yang berusaha mengusir kami tadi, “karena aku, akan memastikan untuk menutup tempat ini. Kalian, lebih rendahan dibanding mereka yang kalian anggap rendah,” aku tersenyum ke arahnya sebelum berbalik lalu melanjutkan langkah.
“Menjengkelkan sekali!” gerutuku sambil menerjang kuat tembok di sampingku ketika kami telah berjalan keluar dari lorong.
Aku menoleh ke arah Putri Khang Hue yang tertawa kuat sambil sesekali mengusapi matanya, “aku dulu merasa kau sangat menjengkelkan, tapi sekarang … Entah kenapa, aku menganggapmu sangatlah keren,” ucapnya seraya berjalan lalu menyandarkan tubuhnya di tembok.
“Hidup, kadang lucu, bukan?” sambungnya kembali dengan melirik ke arahku.
Aku menghela napas sebelum berdiri di sampingnya, “apa kau baik-baik saja?” tanyaku, dia tersenyum menatapku lalu mengangguk pelan.
“Saat menjadi Putri, aku menjadi sebuah mainan tak bernyawa untuk keluargaku sendiri, Ketika aku memutuskan untuk melepaskan semuanya untuk menjalani hidup baru, aku justru direndahkan. Tapi, entah kenapa … Aku masih bisa bersyukur,” ungkapnya tertunduk, dia tersenyum sambil mengelus kembali perutnya.
“Aku menikah dengan Kabhir.”
“Kabhir?”
Dia menoleh lalu mengangguk menatapku, “saat kami pulang dari Balawijaya, aku menolak untuk diantarkan kembali ke rumahku. Karena, Ayah pasti akan langsung membunuhku jika dia tahu Pangeran tersebut menolakku mentah-mentah. Jadi Zeki, mengajakku pulang ke Yadgar … Aku sempat tertekan, aku bahkan memikirkan ide-ide jahat agar bagaimana pun, aku harus bisa mendapatkan tunanganmu itu.”
“Tapi takdir berkata lain, aku malah jatuh cinta pada Kabhir yang ditugaskan Zeki untuk merawatku. Aku sangat bahagia hingga tidak bisa melukiskannya dengan kata-kata ketika Kabhir melamarku, dan kami … Sudah tidak sabar menunggu kelahiran bayi kami. Kebahagianku lengkap, aku memiliki keluarga yang sangat aku idam-idamkan sejak kecil. Memalukan sekali rasanya, menceritakan hal ini kepada seseorang yang dulunya pernah aku anggap sebagai saingan,” ungkapnya sambil menengadahkan kepalanya ke atas.
__ADS_1