Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXXXII


__ADS_3

"Bagaimana bisa penjaranya terbakar?" Ungkap Izumi ikut melangkahkan kakinya di samping Haruki.


"Entahlah. Aku pun belum tahu kejadian pastinya," sambung Haruki menjawab perkataan Izumi.


"Nee-chan, apa kau baik-baik saja?" Tukas Eneas yang tiba-tiba telah berjalan di sampingku.


"Aku baik-baik saja, bisakah kau membantuku membawa kantung minum ini?" Ungkapku menatapnya, kuarahkan telapak tanganku yang memegang kantung kulit berisi air padanya.


"Tentu. Aku benar-benar mengkhawatirkan kalian berdua tadi," sambungnya seraya kutepuk-tepuk pelan kepalanya menggunakan telapak tanganku.


"Kalian berdua lamban sekali sampainya," cibir Niel tanpa menoleh sedikit pun pada kami yang berdiri di samping kuda yang ia tunggangi.


"Tutup mulutmu! Jika saja..."


"Nii-chan," ucapku memotong perkataan Izumi, sedikit suara decakan lidah keluar dari dalam bibirnya.


Kugerakkan tubuhku berjalan meninggalkan mereka, aku bergerak ke kanan dan ke kiri membelah kerumunan beberapa Kesatria yang berdiri di depan penjara seraya kuarahkan tanganku merebut sebuah obor yang ada di genggaman salah seorang Kesatria. Teriakan yang Niel lontarkan beberapa kali memanggilku, kuhiraukan begitu saja.


"Mau kemana kau?" Ucapnya menarik pergelangan tangan kananku.


"Aku akan masuk ke dalam nii-chan. Siapa tahu, kita dapat menemukan petunjuk sekecil apapun," ungkapku membalas tatapan Izumi, ikut kurasakan genggaman tangannya di lenganku melemah.


"Kalau begitu, berjalanlah di belakangku," sambungnya melangkah berjalan masuk ke dalam penjara, kualihkan pandanganku pada tangannya yang semakin kuat menggenggam pedang miliknya yang telah bersih dari sisa-sisa darah.


Hawa panas membentur tubuhku tatkala kakiku melangkah masuk ke dalam ruangan. Sinar dari obor yang kugenggam di tangan kiriku sedikit menerangkan ruangan di sekitar, kepulan-kepulan asap kecil yang keluar dari beberapa kayu yang menghitam di sekitar ikut memenuhi ruangan.


Kututup hidungku menggunakan lengan kananku yang masih menggenggam erat sebilah pedang. Bau daging terbakar menusuk-nusuk hidungku diikuti udara panas yang semakin menguat tatkala langkah kaki kami berdua semakin berjalan masuk ke dalam.


Berkali-kali kugerakkan kedua kakiku menapaki lantai berulang-ulang. Panas yang ada di lantai serasa mengalir masuk menusuk-nusuk telapak kakiku. Obor yang aku genggam kugerakkan ke atas menatapi dinding tanah yang menghitam pekat itu.

__ADS_1


Aku melangkah mengikuti Izumi yang telah berjalan menuruni tangga. Izumi mengarahkan telapak tangannya ke arahku, kuraih dan kugenggam telapak tangannya tadi. Pandangan mataku jatuh tertuju pada mayat seseorang yang hangus terbakar, mayat tersebut berdiri tegap dengan kedua tangannya menggenggam jeruji besi yang mengurungnya.


Mulut mayat tersebut menganga lebar dengan kedua bola matanya yang telah menghilang. Seluruh tubuhnya menghitam diiringi bau gosong yang menyengat hidung. Tubuhku terperanjat saat kurasakan tepukan beberapa kali menyentuh pundakku.


"Kalian masuk ke dalam tanpa izin dariku?"


"Semakin cepat masalah ini berakhir, semakin bagus juga untuk kita bukan?" Sambung Izumi membalas perkataan Haruki, ikut kuarahkan pandanganku menoleh menatap Haruki.


"Apa kalian menemukan sesuatu?"


"Belum, kami baru saja mau mencari petunjuk," ucapku seraya kembali kuarahkan tatapan mataku pada mayat tadi.


"Daisuke, periksa ruangan yang ada di sudut sana. Pastikan tak ada sesuatu yang membahayakan untuk kami ke sana," ucap Haruki diikuti suara langkah kaki yang berjalan melewatiku.


"Jangan melakukan sesuatu sekehendak hati kalian. Aku, masih pemimpin kota ini," suara Niel tiba-tiba memenuhi ruangan, kugerakkan kepalaku menatapnya yang tengah berjalan dengan seorang Kesatria ke arah kami.


"Heh, bangsawan yang melarikan diri membutuhkan rasa hormat?"


"Heh, pemimpin yang tak becus mengurus masalah yang ada di wilayah kekuasaannya, berusaha menampakkan kekuasaannya?"


"Jangan menguji kesabaranku," ucapnya membalas perkataan Haruki.


"Harusnya aku yang mengatakannya. Kami bisa saja pergi dari sini dan membiarkan kalian hancur, apa kau tahu? Adik-adikku hampir kehilangan nyawa mereka karena pihakmu yang tak bisa dipercaya," ungkap Haruki melangkah dan mencengkeram erat pakaian yang dikenakan Niel.


"Apa maksudmu?"


"Dengan kau melihat sendiri penampilan kedua Adikku, kau pasti paham apa yang mereka alami selama perjalanan," ucap Haruki kembali seraya didorongnya tubuh Niel mundur ke belakang menabrak Kesatria yang berdiri di belakangnya.


"Berhenti menatap kami. Kami masih hidup, walaupun lima belas orang bergerak hendak membunuh kami," ikut terdengar suara Izumi.

__ADS_1


Niel diam membeku saat Kesatria yang berdiri di belakangnya mengarahkan pedang tepat ke lehernya. Kutatap Kesatria tadi yang menatap kami dengan senyum kecil yang tersungging di sudut bibirnya. Aku masih diam tak bergerak menatapi laki-laki tadi, begitupun dengan kedua kakakku.


Kesatria tadi tiba-tiba terhentak dengan suara tertahan, bola matanya membesar dengan darah yang keluar mengalir dari bibirnya. Tubuh Kesatria tadi jatuh ke samping, pandangan mataku teralihkan pada Eneas yang berjalan menginjak tubuh Kesatria tadi.


"Aku telah melakukan perintahmu, nii-chan," ucap Eneas berjalan mendekati Haruki.


"Kerja bagus Adikku," balas Haruki dengan telapak tangannya mengusap-usap kepalanya Eneas.


"Apa maksudnya ini?"


"Seseorang berkhianat padamu, aku meminta Eneas untuk menunggu beberapa saat di luar sebelum dia masuk menyusul kami. Karena, seperti kejadian tak terduga seperti tadi... Dia dapat membantu kami menyerang musuh secara diam-diam," ucap Haruki menimpali perkataan Niel.


"Sebenarnya ini sebagian dari rencanaku dan Izumi untuk mengetahui ada kah pengkhianat yang bersembunyi di belakangmu. Kami sengaja tidak memberitahukan Sachi karena mungkin dialah yang menjadi target musuh, walaupun tanpa diberitahu dia akan cepat mengerti rencana yang kami lakukan."


"Maafkan Kakakmu ini," ucapnya lagi seraya berbalik menatapku, kubalas perkataannya dengan anggukan pelan kepalaku.


"Aku sengaja membicarakan rencana tersebut padamu dan pasukan milikmu, dengan begitu si pengkhianat itu akan berusaha membunuh Adikku yang terpisah dari rombongan utama. Melawan dua orang sangat menguntungkan terutama jika salah satunya perempuan dibandingkan melawan sekumpulan laki-laki yang pandai bertarung. Kabar kepintaran Adikku yang menjadi ancaman untuk mereka memanglah memberikan keuntungan untuk rencana ini..."


"Jadi yang ingin kau katakan, bahwa... Aku dipermainkan oleh kalian dan juga pengkhianat itu?" Sambung Niel memotong perkataan Haruki.


"Aku masih belum bisa memastikannya, bagaimana menurutmu Sa-chan? Apa kau memikirkan sesuatu?"


"Yang Mulia, semua ruangan telah aku periksa. Aku tidak menemukan apapun, kecuali mayat dua orang yang hangus terbakar di dalam sana," terdengar suara Daisuke diikuti suara langkah kaki yang mendekat.


"Sebenarnya, selama di hutan. Aku telah memikirkan dalang dari semua ini," ucapku mengalihkan pandangan kepada Niel.


"Siapa? Siapa dia?"


"Bisakah kita kembali ke Kastil mu? Aku akan mengizinkanmu menanyakan hal tersebut kepadanya secara langsung," ucapku membalas tatapannya.

__ADS_1


__ADS_2