Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXXV


__ADS_3

Kutatap dia yang telah melepaskan pelukannya pada dua laki-laki tadi, kualihkan pandanganku pada Haruki dan juga Izumi yang berbalik menatapku dengan kedua mata mereka yang memerah...


Sesekali telapak tangan mereka mengusap mata dan hidung mereka bergantian. Langkah kakiku bergerak tanpa sadar semakin mendekati mereka... Pandangan mataku kembali teralihkan oleh para Kesatria yang juga ikut menatapku dengan sembab, beberapa dari mereka bahkan tertunduk dengan kedua telapak tangan menutupi wajah...


Kutatap kembali Ayahku itu, kedua lengannya telah terbuka lebar padaku. Kuangkat kedua lenganku melingkar di tubuhnya seraya ikut kubenamkan wajahku semakin dalam dan semakin dalam ke dadanya...


"Terima kasih, terima kasih... Kalian bertiga baik-baik saja," ucapnya dengan suara bergetar, ikut kurasakan jari-jemarinya yang juga bergetar saat mengusap kepalaku.


"Kalian bertiga kemana saja? Apa kalian tidak memikirkan Ayah kalian?" ucapnya lagi seraya kurasakan pelukan di tubuhku semakin kuat.


"Kami tidak punya pilihan Ayah, kami melakukannya untukmu... Apa kau tahu? Hatiku juga hancur Ayah, saat aku melihatmu menangis di pemakaman kami enam tahun yang lalu," tangisku padanya, semakin kuat genggaman tanganku menggenggam pakaian yang ia kenakan.


"Bagaimana Ayahmu ini akan baik-baik saja, duniaku seakan runtuh saat mendengar kabar kematian ketiga anakku. Pulanglah... Aku sudah tidak tahu lagi, berapa banyak kata-kata itu terucap..."


"Kalian semakin besar tanpa pengawasan dariku membuat hatiku sakit, apa yang harus aku katakan saat nanti bertemu dengan ibu-ibu kalian lagi?"


"Aku ingin sekali menghancurkan Istana, setiap kali aku berjalan menyusuri Istana... Bayangan kalian memanggilku Ayah selalu muncul, hatiku hancur Putriku... Hati Ayahmu ini hancur karena gagal melindungi kalian..."


"Untuk apa, aku memimpin Kerajaan yang kuat, kalau aku saja tidak bisa melindungi ketiga anakku," sambungnya terisak.


"Maaf Ayah, maaf... Tapi kami tidak punya pilihan, aku... Aku juga ingin sekali pulang, tapi... Aku lebih takut kehilanganmu, Ayah. Kumohon... Kumohon Ayah, maafkan Putrimu ini, karena selalu... Dan selalu membuatmu khawatir..."


"Kau laki-laki yang paling aku sayangi di dunia ini, aku akan melakukan apapun untukmu Ayah. Karena itu..."


"Apa kalian baik-baik saja? Apa kalian makan dengan baik? Apa kalian punya cukup uang?" ucapnya memotong perkataanku, kugerakkan kepalaku yang ada di dadanya itu mengangguk pelan.


"Kalian berdua juga, kemarilah!" ucapnya, ikut kurasakan pelukan yang ia lakukan merenggang.

__ADS_1


"Maafkan Haruki juga Ayah, harusnya aku menarik kedua Adikku kembali pulang... Tapi aku, malah mendorong mereka semakin jauh darimu," terdengar suaranya yang juga ikut bergetar, kurasakan sesuatu menyentuh dan merangkul pinggangku.


"Aku juga Ayah, padahal aku mengerti benar rasanya... Tapi," suara Izumi juga ikut terdengar bergetar diikuti sesuatu menyentuh pelan kepalaku.


"Kalian bertiga baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup untukku. Tinggi tubuhmu bahkan sudah seperti Ayahmu sendiri, Izumi," ucapnya, ikut terdengar suara tertawa kecil di sebelah kanan dan juga kiri tubuhku.


Rangkulan di pinggangku terlepas, ikut berjalan mundur aku beberapa langkah. Kembali kutatap wajah Ayahku yang basah itu seraya kuangkat dan kuarahkan kedua telapak tanganku mengusap pipi hingga bagian bawah matanya...


"Kau kehilangan sedikit berat badanmu Ayah."


"Putriku yang selalu memasakkan makanan tiba-tiba menghilang, bagaimana bisa aku makan dengan baik," ucapnya balas menatapku.


"Aku akan memasakkan banyak makanan untukmu, pastikan Ayah memakan semuanya," ungkapku lagi seraya kembali kupeluk tubuhnya.


"Kami bertemu dengan calon menantumu di tengah-tengah perjalanan, mereka mengatakan... Jika mereka mengambil jalan memutar, jadi aku membawa mereka bergabung denganku ke sini."


"Diserang?"


"Aku akan menceritakan semuanya, tapi sebelum itu... Selamat datang di Kerajaanku, sahabatku Raja Takaoka Kudou," ucapnya kembali seraya mengarahkan telapak tangannya ke arah Ayahku.


"Terima kasih untuk undangannya, Raja Bagaskara Pangestu," sambung Ayahku, ikut diangkatnya telapak tangannya menggenggam telapak tangan Raja Bagaskara.


"Kalian semua, silakan ikuti aku," ucap Raja Bagaskara kembali, dilepaskannya genggaman tangannya pada Ayahku seraya berbalik ia berjalan menjauh.


Kualihkan pandanganku pada Adinata yang membungkukkan tubuh dengan sebelah telapak tangannya terangkat ke arah Raja Bagaskara yang berjalan di hadapannya. Kulepaskan pelukanku pada Ayahku seraya kembali kugerakkan tanganku merangkul lengan kirinya...


Kugerakkan kedua kakiku mengikuti langkah kaki Ayahku yang berjalan di belakang Raja Bagaskara. Berkali-kali ia menciumi rambutku, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah menatap lurus ke depan...

__ADS_1


"Ayah," ucapku, kuangkat kepalaku menatapnya.


"Ada apa?" balasnya menatapku.


"Tidak ada, aku hanya mengingat... Dulu, ketika kau menggenggam tanganku... Aku sampai harus mengangkat tinggi tanganku untuk kau genggam... Tapi sekarang, aku hanya tinggal melingkarkan tanganku saja di lenganmu..."


"Kalian berjalanlah terlebih dahulu, kalian bisa melewati sisi kanan dan kiri kami," ucapku, kualihkan pandanganku pada mereka yang juga berjalan di belakang kami.


"Kenapa? Kami juga kedua anaknya," ucap Izumi menghentikan langkahnya, kutatap dia yang balas menatapnya.


"Apa kau ingin mengambil alih Ayah sendirian?"


"Ayah," rengekku, kembali kualihkan pandanganku padanya.


"Haruki, Izumi, mengalah sedikit pada Adik kalian," ucapnya, kutatap dia yang mengarahkan jari-jemarinya memijat pelan keningnya.


"Kalian yang di belakang juga, silakan jalan terlebih dahulu," sambungnya, kualihkan pandanganku pada mereka yang telah berjalan melalui kecuali kedua Kakakku.


"Katakan, sekarang hanya kita berempat... Katakan, apa yang ingin kau katakan pada Ayah?" ucap Izumi, kualihkan pandanganku padanya yang berdiri dengan kedua lengannya menyilang di dada.


"Apa yang ingin kau katakan?" sambungnya, kualihkan pandanganku padanya yang tersenyum menatapku.


"Ayah, terima kasih masih menungguku..."


"Menunggu kami."


"Menunggu kami..." ucapku mengikuti suara Haruki.

__ADS_1


"Tapi Ayah, sebelum itu... Bisakah aku meminta pertolongan darimu?" ungkapku lagi padanya.


__ADS_2