Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDI


__ADS_3

Sudah tak terhitung, berapa hari yang telah aku habiskan di sini. Semakin lama aku berada di sini, semakin aku paham … Kemunafikan yang ada di setiap orang di ruangan ini. Mereka saling tersenyum satu sama lain, lalu menjelekkan orang yang mereka ajak bicara sebelumnya kepada orang lain.


Benar-benar menjijikan.


Aku melirik ke kiri saat pintu ruangan itu terbuka, perempuan langsing yang aku lihat beberapa hari sebelumnya masuk ke dalam ruangan bersama beberapa orang perempuan yang berbaris di belakangnya, “ikuti aku, kita akan segera pergi ke Istana,” ucapnya sebelum kembali berbalik melangkahkan kakinya ke luar.


Aku beranjak dari tempat dudukku, kedua kakiku melangkah mengikuti mereka yang juga telah melangkah satu per satu meninggalkan ruangan. Aku melirik ke kanan, ke arah beberapa perempuan yang mengangkat kedua tangannya ke depan dada, aku kembali tertunduk dengan mengangkat kedua tanganku saling menggenggam satu sama lain di depan dada seperti yang dilakukan oleh yang lainnya.


Langkah kakiku terhenti saat kami semua telah keluar dari bangunan kayu berlantai dua yang aku tinggali sebelumnya. Kutatap perempuan langsing pemilik penginapan yang telah berjalan masuk ke dalam sebuah kereta kuda yang ada di hadapan kami. Kami ikut berjalan di belakangnya, ketika kereta kuda tersebut telah berjalan memimpin perjalanan.


Semakin jauh kami meninggalkan tempat penginapan itu, semakin ramai juga kami menemui orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan. Aku masih menatap lurus ke depan, saat suara bisik-bisik terdengar dari arah kanan dan juga kiri kami, beberapa dari perempuan yang berbaris sepertiku … Ada yang menangis sesenggukan, saat beberapa orang laki-laki yang berdiri di pinggir jalan meludah ke arah mereka.


Langkah kakiku terhenti saat kutatap bercak air ludah yang membasahi rok yang aku kenakan, aku mengangkat kepalaku, menatap tajam ke salah seorang laki-laki sebelum kedua kakiku kembali melangkah mengikuti jejak para perempuan.


Lama kami telah berjalan, beberapa perempuan ada yang telah dibanjiri keringat, beberapa dari mereka ada yang menghentikan langkah kaki lalu mengangkat lengan mereka mengelap kening sebelum melanjutkan kembali langkah. Kereta berhenti, kereta berhenti di sebuah dinding tinggi dengan gerbang kayu besar berwarna merah di hadapan kami.


Gerbang kayu tersebut perlahan terbuka saat terdengar suara teriakan lantang perempuan yang ada di depan kami, kami kembali melangkah saat kereta kuda tersebut telah berjalan masuk melewati gerbang.


Berpuluh-puluh Kesatria berdiri menatap kami dari kejauhan, kereta kuda kembali berhenti diikuti perempuan yang berada di dalamnya keluar. Aku ikut duduk berlutut mengikuti yang lainnya saat kereta kuda yang ada di hadapan kami berjalan ke samping menjauh.

__ADS_1


Suara gong berbunyi kuat, kepalaku semakin tertunduk saat terdengar suara derap langkah kaki mendekat. “Angkat kepala kalian,” suara laki-laki terdengar, aku mengangkat pelan kepalaku, seorang laki-laki memakai pakaian merah dengan sulaman emas yang memenuhinya, berdiri menatap kami.


“Salam Yang Mulia,” ucap beberapa perempuan yang ada di hadapanku dengan menundukkan kembali kepala mereka.


Aku melirik ke kiri, membuang sedikit pandangan mataku dari lirikan Zeki yang berdiri tidak terlalu jauh dari laki-laki tadi. Kepalaku sedikit terangkat ke belakang saat kurasakan bayangan hitam telah berdiri di belakangku.


Seorang laki-laki memakai pakaian serba hitam telah berdiri di belakangku dengan sebilah pedang di tangannya, aku sedikit menghela napas saat kutatap mata yang bersinar dari balik topeng dan juga topi jerami yang dikenakan laki-laki tersebut.


Tenanglah Sachi, kakakmu tepat di belakangmu sekarang. Kau akan aman, kau akan aman.


Aku kembali menatap ke arah laki-laki yang dipanggil Yang Mulia sebelumnya. Laki-laki itu mengangkat jari telunjuknya, menunjuk ke arah beberapa perempuan yang dia tatap bergantian. Aku sedikit terperanjat saat seorang perempuan yang berlutut di sampingku telah jatuh tersungkur ke depan.


Serangga? Gigit?


Kepalaku sedikit mengerut, mengartikan apa yang Izumi katakan. Kedua mataku sedikit membesar tatkala lirikan mataku kembali terjatuh kepada Zeki, kugenggam kuat rok yang aku kenakan. Aku kembali tertunduk dengan keringat dingin yang mengucur deras keluar.


Ya Tuhan, aku akan mati di tangan kedua kakakku. Alasan apa yang harus aku berikan kepada Izumi?


Aku kembali beranjak berdiri mengikuti beberapa perempuan yang juga telah berdiri membelakangi. Aku mengangkat kepalaku, berusaha menjauhkan pandangan dari mayat-mayat beberapa perempuan yang telah terkapar di sekeliling kami. Kedua kakiku melangkah berjalan mengikuti mereka yang juga telah berjalan saat laki-laki tersebut dan juga Zeki telah berbalik melangkah meninggalkan kami.

__ADS_1


Kedua kakiku melangkahi beberapa mayat perempuan tersebut dengan sesekali aku melirik ke arah seorang perempuan yang masih menangis sesenggukan dengan telapak tangan menutupi mulutnya. Kami kembali menghentikan langkah saat laki-laki tersebut telah duduk di kursi besar yang bersebelahan dengan kursi yang Zeki duduki.


Laki-laki itu mengangkat sebelah kakinya ke atas balok kayu yang tidak terlalu jauh di depannya, “jilat kakiku,” ucapnya melirik ke arah kami bergantian, "aku akan mengampuni nyawa kalian jika kalian melakukannya,” ucapnya kembali kepada kami.


Seorang perempuan maju, dia duduk berlutut dengan kedua tangannya membuka perlahan sepatu yang dikenakan laik-laki itu. Perempuan itu membuka bibirnya, menjilati telapak kaki laki-laki tersebut. Satu per satu perempuan maju mengikuti perempuan yang sebelumnya masih menjilat dan menciumi kaki Raja Il.


“Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak ingin mengikuti mereka?” Kuangkat pandangan mataku membalas tatapan yang dilakukan Raja itu, “bisakah saya untuk jujur, Yang Mulia?” Ungkapku, kedua mata Raja Il membesar menatapku yang masih berdiri terpaku di hadapannya.


“Katakan,” ungkapnya dengan menyandarkan lengannya yang memangku kepalanya di pegangan kursi, “saya, ingin sekali membunuh mereka semua. Mereka mengotori kakimu yang berharga dengan air ludah mereka yang menjijikan.”


“Aku sendiri yang memerintah mereka untuk melakukannya,” aku tertunduk dengan menggenggam kedua tanganku, “saya paham, karena itulah saya tidak dapat melakukan apa-apa. Ampuni, kejujuran yang saya katakan ini,” ucapku pelan, kuangkat jari telunjukku mengusap ujung mata yang sebenarnya tidak ada apa pun di sana.


“Kemarilah,” ucapnya terdengar, aku mengangkat kepalaku menatapnya, “mendekatlah,” ucapnya lagi padaku, aku kembali tertunduk dengan melangkahkan kaki mendekatinya.


“Jika kau memiliki matahari di tangan kananmu, sedangkan bulan di tangan kirimu. Apa yang akan kau lakukan?”


“Saya akan menjual matahari dengan harga yang sangat tinggi pada mereka yang membutuhkan kehangatan dan juga cahaya. Sedangkan bulan, akan saya jual pada mereka yang kepanasan dan juga butuh istirahat.”


“Katakan alasannya?” Ungkapnya menoleh menatapku, “hal pertama yang saya cintai adalah Yang Mulia, sedangkan hal kedua yang saya cintai adalah uang. Saya tidak ingin kehilangan salah satu di antara mereka,” ucapku yang dibalas dengan suara tawa darinya.

__ADS_1


Laki-laki itu menarik tanganku hingga aku duduk di pangkuannya, “pertama kalinya untukku, bertemu perempuan yang tidak tahu malu sepertimu. Namamu, katakan siapa namamu?!” ucapnya bersandar di kursi dengan tetap mengarahkan pandangannya padaku.


__ADS_2