
Aku kembali beranjak bediri saat Bibi Yasinta mengajakku kembali pulang ke rumahnya, “Ayah, kami permisi,” ucapnya sembari berbalik lalu berjalan menjauh.
Aku sudah melakukan berbagai macam cara untuk merebut perhatiannya, tapi Kakek ini sama sekali tidak terbaca wajahnya.
Aku menghela napas dengan ikut berbalik membelakanginya. “Sachi,” ucap suara laki-laki yang kembali membuatku berbalik ke belakang menatapnya.
Dia mengangkat jari telunjuknya hingga sebuah akar penuh bunga-bunga kecil tumbuh di sampingnya. Akar tadi bergerak melilit pergelangan tanganku lalu terputus hingga menjadi sebuah gelang berhiaskan bunga-bunga kecil berwarna keemasan, “petik salah satu bunga lalu tanam ke tanah, lakukan hal itu … Jika kau membutuhkan sesuatu,” ucapnya dengan sedikit membuang pandangannya ke samping.
Aku tersenyum menatapnya, “terima kasih, Kek. Aku seperti mendapatkan semangat baru untuk melanjutkan perjalanan,” ungkapku dengan kembali berbalik lalu berjalan meninggalkannya.
Aku terus berjalan keluar rumah mengikuti bibiku yang telah semakin berjalan jauh meninggalkanku, “Bibi, bagaimana ini? Aku melupakan panahmu,” ucapku menghentikan langkah sehingga dia ikut menghentikan langkahnya menatapku.
“Biarkan saja, nanti Bibi yang akan mengambilkannya untukmu,” ucapnya dengan menggerakkan sedikit kepalanya sebelum dia kembali melanjutkan langkahnya.
Aku turut melanjutkan langkahku dengan sesekali melirik ke arah gelang yang terbuat dari akar pemberian Kakekku itu. “Sachi!” Aku menggerakkan kedua mataku melirik ke arah suara perempuan yang memanggil namaku.
“Dari mana saja kau, nak? Ibu mencarimu ke mana-mana,” tukasnya diikuti pelukan kuat yang langsung merangkul tubuhku.
Aku menggerakkan kedua tanganku membalas pelukannya, “aku hanya sedang mencari makanan bersama Bibi. Bagaimana keadaanmu, Ibu?”
Dia mengangkat wajahnya menatapku, sesekali telapak tangannya bergerak mengusap wajahku, “jangan tiba-tiba menghilang. Ibu, tidak ingin kehilanganmu lagi,” tukasnya berbicara dengan bibir yang gemetar.
“Ibu ingin pulang? Ayah dan Kakak, pasti telah menunggu kita,” ucapku tersenyum menatapnya.
“Apa Ayahmu baik-baik saja? Apa dia telah menikah kembali? Apa dia masih mengingat Ibu?”
“Ayah baik-baik saja, dia tidak menikah lagi … Dia masih setia menunggu, Ibu,” sambungku, Ibuku dengan seketika menundukkan pandangannya saat aku mengatakannya.
__ADS_1
Aku melepaskan pelukanku begitu pun dengan dirinya, kami berjalan berdampingan dengan sesekali tangannya bergerak merapikan rambutku, “naiklah ke punggungnya, Ibu. Aku akan segera menyusulmu,” ungkapku saat kami telah berhenti di depan rumah Bibi dengan jari telunjukku mengarah kepada Kou.
“Hewan apa itu?”
“Dia Naga, dia temanku,” ucapku dengan berusaha menyakinkannya sebelum aku berjalan kembali masuk ke dalam rumah.
Aku melangkah mendekati kamar, langkahku terhenti di samping saudaraku yang masih lelap terpejam. Aku berjongkok dengan menyentuh pipinya, dia terbangun dengan sedikit terperanjat, “ini aku, Sachi,” ucapku berusaha untuk menenangkannya.
“Kita pulang, ya,” ucapku sembari beranjak kembali.
Aku membungkuk dengan kedua tangan membantunya untuk beranjak. Aku menahan napas saat kedua tanganku itu berusaha untuk memapahnya berdiri, dengan perlahan aku berjalan dengan membawanya di punggungku. “Kenapa kalian menyembunyikannya dariku?!” langkahku kembali terhenti saat suara bentakan Ibu tiba-tiba terdengar.
Aku menoleh, melirik ke arahnya yang tengah berbicara dengan Bibi Yasinta. Ibu duduk, kepalanya tertunduk dengan kedua telapak tangan yang menutupi, “kalian memenjarakan Putraku. Dia sendirian, padahal aku ada di dekatnya. Kenapa kalian tidak memenjarakanku saja,” tangisnya dengan tetap menyembunyikan kepalanya.
Aku menarik napas dalam menatapi Ibuku, aku tidak bisa membayangkan betapa terlukanya dia. “Ibu! Bantu aku, tubuhnya berat sekali. Punggungku rasanya hampir patah,” rengekku hingga dia kembali mengangkat wajahnya.
“Kou, angkat Ibuku ke punggungmu. Lalu saudaraku, biar aku dapat duduk menjaga mereka dari belakang,” ucapku sambil melirik ke arah Kou yang berjalan mendekat.
“Bibi, kami pergi,” sambungku dengan mengalihkan pandangan ke arah Bibi Yasinta yang masih menatap kami dari tempatnya berdiri sebelumnya.
_______________.
“Apa kau ingin mati? Jangan banyak bergerak!” Aku memukul kuat punggung saudaraku itu saat tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri ketika Kou membawa kami terbang di punggungnya.
Aku menghela napas dengan mengusap kembali punggungnya saat dia langsung menundukkan kepalanya akibat pukulan yang aku lakukan, “kau akan jatuh jika melakukannya, jangan lakukan lagi, ya. Itu berbahaya,” ungkapku berulang-ulang kepadanya.
“My Lord, ke mana … Aku harus membawamu?”
__ADS_1
“Bawa kami pulang ke Sora, setelah sampai di sana … Bisakah kau menjemput saudaraku yang ada di Yadgar, Kou?”
“Tentu, sesuai perintah yang engkau berikan,” ucapnya yang kembali terngiang di kepalaku.
“Ibu, apa kau baik-baik saja?” tanyaku dengan berusaha melirik ke arahnya yang berada di depan.
“I-ibu, baik-baik saja,” ucap suaranya yang gelagapan terdengar.
Kou semakin mempercepat dan memperkuat kepakan sayapnya, dia terbang semakin cepat hingga suara angin yang berembus terdengar jelas di telinga. Aku melirik ke kiri, membayangkan … Bagaimana wajah Ayah dan Kakakku saat mereka bertemu dengan mereka berdua.
_________________.
Sudah seharian penuh Kou membawa kami terbang, berkali-kali suara nyanyian perut akibat kelaparan terdengar … Entah dari perutku, atau dari perut mereka berdua. Aku tersenyum simpul saat Istana kami terlihat dari kejauhan, “Tsu, Tsu nii-chan!” teriakku memanggilnya yang tengah berkuda mendekati gerbang Istana.
Kuda yang ia tunggangi berhenti, dia menggerakkan kepalanya ke sekitar, terlihat seperti sedang mencari sesuatu, “Tsu nii-chan, di atas! Lihat ke atas!” teriakku lagi, dia mengangkat wajahnya saat bayangan Kou yang melintas terjatuh ke atas tubuhnya.
Kou mendaratkan tubuhnya dengan perlahan di belakang Istana, aku menggerakkan kakiku lalu melompat turun dari atas punggung Kou saat Kou sudah menekuk kakinya duduk di permukaan tanah. Aku berjalan mundur ke belakang saat ekor Kou terangkat, ekornya itu melilit tubuh saudaraku … Mengangkatnya lalu meletakkannya kembali di dekatku.
Kou kembali mengangkat tubuh Ibuku dari atas punggungnya lalu menurunkannya kembali di hadapanku sebelum dia beranjak berdiri. Aku menundukkan kepala saat terpaan angin dari kepakan sayapnya menampar wajah, kuangkat kembali wajahku … Menatapnya yang telah terbang menjauh ke udara.
“Hime-sama, aku melihat nagamu terbang. Apa Hime-sama telah kembali?”
Aku menoleh ke belakang saat suara laki-laki terdengar dari arah belakangku. “Hime-sama, kenapa ada dua orang yang berwajah sama sepertimu?” tukas Arata, langkah kakinya terhenti diikuti pandangannya yang menatapi kami bergantian.
“Dia Ibuku, Arata, dan laki-laki ini … Adikku,” ucapku dengan tersenyum menatapnya.
“Hime-sama, aku tidak terlalu paham apa yang engkau maksudkan. Bukankah Ratu-”
__ADS_1
Kedua mata Arata terbelalak, “aku akan mengabari Yang Mulia segera. Tunggu di sini, Hime-sama … Aku akan segera memanggil pelayan untuk membantu kalian,” ucapnya dengan berbalik lalu berlari menjauhi kami.