Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXXXIV


__ADS_3

Aku beranjak berdiri lalu berjalan mengikuti langkah Duke Masashi di belakangnya, Duke berhenti lalu mengangkat tangannya membuka tirai yang menjadi pintu pada tenda. Dia berdiri menyamping dengan mengangkat sebelah tangannya ke luar, aku menggerakkan kedua kakiku berjalan melewatinya saat dia mengangguk lalu menundukkan pandangannya.


“Apa yang kalian lakukan di dalam?”


Aku menoleh ke samping, menatap mereka bertiga yang telah keluar dari dalam tenda besar bergantian. “Tidak membicarakan apa pun,” ucapku berjalan mendekati mereka.


“Apa kalian telah selesai?” Aku kembali bersuara dengan berjalan ke samping melewati mereka, “jika iya, sekarang giliranku untuk mengganti pakaian,” sambungku lagi dengan mengangkat tirai pada tenda lalu berjalan masuk ke dalamnya.


Aku berjalan mendekati ranjang kayu yang ada di dalam tenda, kulepaskan sehelai demi sehelai pakaian yang aku kenakan sekarang seraya kuraih dan kukenakan lipatan kain berbulu yang ada di atas ranjang itu. Aku duduk di pinggir ranjang lalu menunduk dengan meraih sepatu terbuat dari kulit yang tergeletak di bawah ranjang kayu tersebut.


“Bagaimana sepatunya bisa sangat pas di tubuhku? Bahkan pakaiannya juga,” gumamku pelan dengan mengetuk-ketuk sepatu tersebut ke tanah saat aku telah kembali beranjak berdiri.


Aku meraih tas kulit yang sebelumnya aku letakkan di atas ranjang lalu memakainya di pundak. Tubuhku berbalik, melangkahkan kaki mendekati tirai lalu mengangkat tirai tersebut dengan sebelah tanganku. “Kau sudah selesai?” Tukas Izumi menoleh ketika aku berjalan mendekati mereka.


Aku menganggukkan kepala sembari meraih sebuah pita kain dari dalam tas yang aku bawa, “pelatihan? Apa nii-chan mengetahui, lebih tepatnya pelatihan apa itu?” Tanyaku dengan mengangkat kedua tangan menguncir rambutku yang tergerai menggunakan pita kain berwarna merah yang aku ambil dari dalam tas sebelumnya.


“Entahlah, aku tidak terlalu yakin,” ungkap Haruki berjalan mendekatiku, kedua tangannya terangkat ke atas, membantu mengikatkan pita tadi di rambutku.


“Bagaimana denganmu, Izu nii-chan?”


“Aku pun begitu, aku sama seperti kalian yang tidak mengetahui apa pun,” ungkapnya dengan mengalihkan pandangan ke arah Duke Masashi yang berjalan mendekat.


“Apa kalian telah selesai bersiap, jika sudah … Kita harus segera ke sana, mereka mungkin telah menunggu,” ungkapnya yang telah menghentikan langkah kakinya di dekat kami.


Haruki menarik kembali tangannya dari kepalaku sebelum dia berjalan mengikuti Duke Masashi yang telah lebih dulu melangkahkan kakinya meninggalkan kami. “Padahal, udara di sini sangatlah dingin. Tapi lihat, langitnya,” aku mengangkat wajahku ke atas ketika suara Izumi yang ada di sampingku mengatakannya.


“Cerah sekali,” ungkapku mengangkat telapak tanganku menghalau silau matahari yang jatuh ke mata.

__ADS_1


Suara musik beralun dari kejauhan, semakin kuat mengetuk telinga saat kami melangkah semakin mendekati. Aku beralih ke arah Kakek itu yang mengangkat tangan kanannya ke atas, keadaan menghening seketika saat dia menggenggam tangannya itu. Dia berbalik menatap para penduduk yang duduk mengelilinginya, Kakek itu mengatakan sesuatu dengan bahasa yang tak aku mengerti hingga semua penduduk mengarahkan tubuh mereka duduk ke arah kami.


“Aku sering menceritakan bagaimana mengagumkannya para cucuku, jadi mereka sangat penasaran dengan cucu-cucuku yang lain,” ungkap sang Kakek mengalihkan pandangannya ke samping diikuti telapak tangan kanannya yang mengelus-elus belakang lehernya.


“Izumi,” Haruki berkata pelan, aku melirik ke arah Izumi yang berdiri membelakangi kami.


Izumi membungkukkan tubuhnya ke arah mereka semua, diikuti Haruki, Eneas lalu aku. “Kami Takaoka bersaudara, mohon bantuannya,” ungkap Izumi sebelum dia kembali beranjak berdiri.


“Kemarilah,” tukas Kakek itu dengan melambaikan tangannya ke arah kami.


Aku melangkah mengikuti Izumi yang telah terlebih dahulu berjalan mendekati Kakek itu, “Izumi, aku menyerahkanmu pada Pamanmu, Altan. Haruki, kau akan berada di bawah pengawasan Pamanmu, Ulagan,” ucap Kakek itu dengan mengangkat sebelah tangannya menunjuk ke arah dua orang laki-laki yang sebelumnya berkuda di belakangnya.


“Eneas, kau akan berada di bawah pengawasan, Chinua,” ungkapnya yang diikuti seorang laki-laki yang ia tunjuk sebagai sepupu kami sebelumnya. “Lalu kau, Sachi,” tukasnya saat pandangan matanya melirik ke arahku.


“Qadan, aku menyerahkannya padamu,” tukasnya dengan melirik ke arah laki-laki yang duduk di sebelahnya.


Aku melangkah lalu duduk di samping Sasithorn yang sedari tadi menatapku dari kejauhan, “kak,” bisikku dengan mendekatkan wajah ke arahnya.


“Apa dia baik-baik saja?” Aku balas berbisik yang dibalas anggukan kepala oleh Sasithorn. “Dia mengatakan jika menginginkan buah, jadi aku akan membawakan buah untuknya sebelum kembali ke tenda,” tukasnya dengan sangat pelan terdengar di sampingku.


“Kak, terima kasih,” ungkapku, Sasithorn mengangkat kepalanya lalu tersenyum menatapku.


“Sachi, Qadan, ikuti aku!” Aku menoleh ke arah Kakek itu saat suaranya terdengar.


Aku melirik ke arah Duke Masashi, tubuhku beranjak berdiri saat dia menganggukkan kepalanya membalas tatapanku itu. Kedua kakiku berjalan meninggalkan kerumunan, mengikuti mereka berdua yang telah berjalan terlebih dahulu di depanku. Kakek itu mengajak kami berdua menaiki bukit rumput yang sedikit jauh dari tempat para penduduk berkumpul sebelumnya.


“Aku ingin melihatnya!” Ungkap Kakek itu ketika dia menghentikan langkah kakinya lalu berbalik menatapku.

__ADS_1


“Melihat?”


“Itu kontrak sihir, bukan?” Tukasnya kembali dengan menepuk-nepuk samping lehernya.


Aku mengangkat telapak tanganku, menutup tanda kontrak antara aku dan Kou yang ada di samping leher, “dari mana kau mengetahuinya?”


“Lancang sekali, kau berkata seperti itu pada Kakekku sekaligus Kepala Suku,” aku menoleh ke samping saat laki-laki yang berjalan bersama kami tiba-tiba bersuara.


“Aku tidak serta-merta mempercayai, atau menghormati seseorang yang baru saja aku temui. Bahkan, mereka yang sudah lama kita kenal, tak ada jaminan jika mereka akan berkhianat atau tidak kepada kita,” ungkapku dengan mengalihkan pandangan dari mereka berdua.


“Kalian tumbuh, dengan tidak mempercayai orang lain?”


“Kami tumbuh, dengan hanya mempercayai diri sendiri dan keluarga kami saja,” ungkapku membalas perkataan Kakek tersebut.


“Kudou, bukan hanya menantuku, tapi dia sudah seperti Putraku sendiri. Walau, kau, Haruki atau Eneas bukanlah anak kandung Isshin, tapi aku pun menganggap kalian cucuku sama seperti Izumi. Dengan kata lain, kami semua yang ada di sini adalah keluarga kalian. Itulah kenapa Kudou, mengirim kalian semua untuk berkunjung ke sini,” ungkapnya dengan tersenyum menatapku.


“Sachi!”


Tubuhku terhentak saat suara bentakan Izumi terdengar dari belakang, “kemarilah!” Suaranya kembali terdengar dengan keras di telingaku.


Aku berbalik, lalu melangkahkan kaki mendekati Haruki yang telah melambaikan tangannya di samping Izumi, “aku tahu, jika kita memiliki hubungan darah. Tapi itu bukan berarti, aku akan menyerahkan keluargaku, terlebih adikku begitu saja.”


“Apa seperti itu caranya, kalian memperlakukan Kakek kalian sendiri?”


“Dan apa seperti itu caranya, ingin mengetahui rahasia yang ada di dalam diri adik kami, dengan memisahkannya dari Kakak-kakaknya?”


Izumi berbalik setelah kata-kata yang Haruki lontarkan sebelumnya, “kita kembali,” ungkap Izumi dengan melirik ke arah kami berdua bergantian.

__ADS_1


__ADS_2