
“Kalian, dilarang pergi dari sini sebelum aku sendiri yang mengizinkan kalian untuk pergi,” langkah kakiku terhenti saat suara Kakek itu kembali terdengar.
Aku melirik ke arah Izumi yang telah mengarahkan kepalanya ke belakang, “kami, tidak memiliki kewajiban untuk mendengarkan perkataanmu,” tukas Izumi dengan masih menatapi mereka yang ada di belakang kami.
“Apa kalian, memanglah diajarkan untuk tidak mengetahui caranya berterima kasih?”
“Apa mak-” Perkataan Izumi terhenti saat telapak tanganku menyentuh dadanya ketika dia berusaha menimpali perkataan laki-laki yang bernama Qadan itu.
Aku berbalik menatapi mereka, “setidaknya beritahukan padaku, dari mana kau mengetahui hal ini, Kakek?” Tanyaku dengan mengarahkan pandangan kepada Kakek tersebut.
“Aku mengetahui hal itu semua dari Ayah kalian. Permasalahan, dari mana Ayah kalian mengetahuinya … Bukankah, kalian sendiri yang memberitahukannya?” Dia membalas tatapanku disertai kedua kakinya yang berjalan mendekat.
Kakek itu menghentikan langkah kakinya di depan kami, dia mengangkat kedua tangannya lalu mencengkeram kepala Haruki dan juga Izumi hingga mereka berdua tertunduk, “aku pun, kehilangan Putriku dan hampir kehilangan cucu-cucuku, tapi … Apa itu berarti, aku aku akan berhenti mempercayai Ayah kalian?”
Dia melepaskan tangannya lalu berjalan mundur dengan menggerakkan tubuhnya ke samping, “dulu, Isshin diperlakukan sama seperti kalian memperlakukan Sachi oleh Paman kalian. Saat mereka mendengar kabar meninggalnya Isshin, kedua Putraku sangatlah sedih … Karena itu, Kakek kalian ini tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya,” ungkapnya menoleh lalu tersenyum menatap kami.
“Aku,” ucapku hingga kakek itu menoleh ke arahku, “sudah mengeluarkan banyak tenaga sebelum sampai di sini. Memanggilnya sekarang, akan membuat tubuhku kesulitan bergerak. Karena itu, hingga aku bisa sedikit lebih kuat dari sekarang, aku tidak akan memanggilnya,” sambungku lagi kepadanya.
Kakek tersebut tersenyum menatapku, “berjuanglah. Tatapanmu itu, benar-benar mengingatkan aku padanya,” tukasnya dengan kembali mengalihkan pandangan matanya dariku.
_________________
Aku beranjak lalu berjalan ke luar tenda, pandangan mataku terjatuh kepada Haruki, Izumi dan juga Eneas yang lelap tertidur saat aku menutup kembali tirai yang menjadi pintu pada tenda. Aku mengangkat kepalaku ke atas ketika kedua kakiku melangkah ke depan.
__ADS_1
Mataku enggan terpejam, terlalu banyak hal yang memenuhi pikiranku, aku tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah … Dunia ini, lebih mengerikan dari yang aku kira.
Langkah kakiku terhenti saat kepalaku tiba-tiba terasa dicengkeram dari arah belakang, “apa yang kau lakukan? Sangat bahaya untuk seorang perempuan keluar di malam hari, sendirian,” tukas suara laki-laki diikuti semakin kuatnya cengkeraman yang ada di kepalaku.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Sa-chan?”
Aku melirik ke samping saat bayangan Haruki telah berdiri dengan menoleh ke arahku, “entahlah, nii-chan. Aku hanya merasa kembali takut akan dunia ini,” ungkapku menghela napas disertai pandangan mataku yang kembali menatap lurus ke depan.
Cengkeraman tangan di kepalaku terlepas, “apa yang kau takutkan? Kau takut, jika seseorang yang sangat kau percayai tiba-tiba berkhianat?” Aku menoleh ke arah Izumi yang juga telah berdiri di sampingku ketika dia mengatakannya.
“Ke-per-ca-yaan,” ungkap Haruki yang kembali bersuara, “aku tahu, bagaimana sulitnya mempercayai orang lain. Tapi dibanding kita menarik diri hingga tidak mengetahui apa pun karena rasa takut jika nantinya kita dikecewakan. Aku akan lebih menyarankan untuk mengikuti permainan mereka dengan memperhatikan apa yang akan mereka lakukan kedepannya,” sambung Haruki lagi dengan mengangkat kepalanya ke atas.
“Hanya ada dua tipe manusia yang ada di dunia ini, menurutku … Dia yang memanfaatkan, atau dia yang dimanfaatkan. Pikiran buruk bisa merusak semuanya,” ungkap Haruki lagi, tubuhku sedikit ke samping kanan saat dia meletakkan lengannya di pundakku, “apa kau lupa betapa mengagumkannya Kakakmu ini? Hanya, katakan saja apa yang mengganggu pikiranmu, maka aku akan mencari tahu semuanya sampai ke akarnya,” ungkapnya tersenyum diikuti sebelah tangannya yang mengacak-acak rambutku.
“Jika kau merasa sulit untuk mempercayai orang lain, maka hanya percayakan semuanya pada kami, kedua kakakmu … Bukankah itu, yang selalu kita lakukan sejak dahulu. Kau adik perempuan kami yang berharga, jika kau terluka … Sebagai Kakak, kami akan merasakan hal yang sama.”
“Lupakan semuanya untuk sejenak, yang harus kita pikirkan sekarang hanyalah, bagaimana caranya kita memperkuat tubuh … Kou, atau para Manticore itu menunggumu untuk kau panggil ketika kau membutuhkan bantuan mereka. Tapi, jika kau selalu jatuh sakit tiap kali memanggil mereka bersamaan … Mereka tidak akan bahagia walau mereka telah membantumu. Kau paham maksudku bukan?”
“Kembalilah tidur, aku benar-benar lelah malam ini. Jangan mengganggu waktu istirahatku,” ucapnya mengusap kepalaku sebelum melangkah pergi.
Kenapa aku baru menyadarinya? Entah apa, yang akan terjadi padaku jika tidak ada mereka berdua.
Aku kembali menurunkan pandangan, tubuhku berbalik ke belakang lalu melangkah maju mendekati Izumi yang masih berdiri menunggu di samping tenda.
__ADS_1
______________
“Kalian lamban sekali!” Teriak sang Kakek dengan menyilangkan kedua lengannya di dada menatap ke arah kami
“Tidak ada yang mengatakan jika latihannya akan dilakukan sepagi ini,” aku melirik ke arah Izumi yang mengatakannya sambil menguap lebar.
“Izumi!” Izumi mengangkat kepalanya saat Altan menunggangi kuda di hadapannya, “aku ingin kau berlari mengejar kudaku. Jika kau lamban menangkapnya, aku akan menghancurkan pedangmu yang berharga itu,” ungkapnya dengan menggerakkan kudanya melewati Izumi.
“Untuk apa aku melakukan, hal kekanakan seperti mengejar kuda yang kau tunggangi,” ungkap Izumi berbalik, menatap ke arah Pamannya itu.
“Untuk apa? Kau bertanya untuk apa? Pedang itu sekarang, sedang bersama calon Istrimu … Apa kau tidak ingin mengetahui di mana dia sekarang? Mungkin dia sedang ketakutan, memeluk pedangmu itu di tengah hutan.”
“Sialan!” Izumi meninggikan suaranya, tubuhnya bergerak cepat, berlari mengejar kuda yang ditunggangi pamannya tersebut.
“Haruki,” pandangan mataku teralihkan pada Paman Ulagan yang telah menunggangi kudanya di hadapan Haruki, lengkap dengan seorang perempuan yang juga berkuda di sampingnya.
“Kau, selama satu hari penuh … Akan menjadi budak untuk Putriku, Sarnai. Kau, dilarang untuk membantah apa pun perintahnya,” ungkap laki-laki itu tersenyum menatap Haruki.
“Apa kau bercanda?”
“Izumi bahkan, melakukannya tanpa banyak bertanya. Sebagai Kakak yang baik, memberikan contoh yang baik untuk adiknya, adalah sebuah kewajiban bukan?” Laki-laki itu sedikit membungkuk diikuti kedua matanya yang melirik ke arahku.
“Sachi,” aku mengangkat kepalaku saat seekor kuda tiba-tiba telah berdiri di hadapan, “naiklah! Aku akan membawamu ke tempat, di mana kau bisa memperkuat tubuhmu,” ucap laki-laki bernama Qadan dengan melirik ke arah belakang tubuhnya.
__ADS_1