Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXLVI


__ADS_3

Gritav memimpin kami di depan dengan kudanya menuruni bukit, ikut kugerakkan kudaku mengikuti langkahnya sembari kepalaku bergerak menatap Kerajaan besar yang akan kami taklukan itu.


Jika rencana ini gagal, satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri yang dapat aku lakukan hanya memanggil Kou. Itu pun, jika rencana yang telah aku susun ini gagal.


"Berhati-hatilah," ucap Haruki, aku sedikit menoleh ke arahnya saat dia menunggangi kudanya menutupi pandangan mataku dari Kerajaan tersebut.


"Maaf, aku kurang berhati-hati. Nii-chan," ucapku kembali, Haruki kembali mengalihkan wajahnya menatapku, "ada apa?" Tanyanya masih menatapku.


"Maaf. Maaf, karena selalu bersikap egois," ucapku membalas tatapannya. "Tidak apa-apa, aku tidak terlalu mempermasalahkannya," ucapnya kembali mengalihkan pandangan ke arah Kerajaan Tao.


"Luana," ucap Haruki, dia sedikit melirik ke arah Luana yang duduk di belakangnya. "Aku juga ingin meminta maaf atas sikapku tempo hari," sambungnya kembali berbicara.


"Aku sudah melupakannya. Tidak perlu meminta maaf," ucap Luana, kepalanya bergerak menghindari tatapanku.


"Setelah semua ini berakhir, aku akan melepaskan status pertunangan kita seperti keinginanmu," ungkap Haruki, "apa kau?" Luana balik bertanya, ditatapnya punggung Haruki yang membelakanginya.


"Aku mendengarkan pembicaraan kalian tempo hari. Maaf, tapi aku ... Tidak tahu caranya memperlakukan perempuan. Aku harap, kau juga dapat menemukan kebahagiaan," Haruki berbicara pelan, kepalanya kembali bergerak menatap lurus ke depan.


"Terima kasih, aku pun akan mendoakan kebahagiaanmu," ucap Luana, kutatap dia yang tertunduk dengan sedikit menggigit bibirnya.


Kugerakkan kembali kepalaku menatap lurus ke depan, kudaku bergerak sedikit cepat meninggalkan mereka berdua. "Apa yang terjadi?" Kepalaku kembali bergerak ke sekitar, mencari suara yang terdengar di telingaku itu.


"Di belakangmu," suara itu kembali terdengar, aku berbalik menoleh ke belakang mengikuti arahan suara tersebut.


"Izu nii-chan," ucapku menatapnya, kuda yang ia tunggangi bergerak mendekatiku. "Apa yang terjadi padamu?" Tanyanya kembali saat kuda yang ia tunggangi berjalan di sampingku.


"Tidak ada yang terjadi padaku," ucapku menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Lalu, apa kau bisa menjelaskan apa yang terjadi pada mereka?" Izumi balik bertanya, matanya bergerak sedikit melirik ke arah Haruki dan juga Luana yang diam tanpa suara di belakang kami.


"Sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan," ucapku mengalihkan pandangan dari Izumi saat dia kembali menatapku, "Tu-pai," ucap Izumi, kugigit kuat bibirku sebelum kembali menatapnya.


"Tidak bisakah, Izu nii-chan bertanya langsung ke padanya. Aku, merasa sulit untuk menjelaskannya," ucapku kembali kepadanya.


"Apakah ini berhubungan dengan pertunangan mereka?" Izumi mengabaikan perkataanku.


"Izu nii-chan," ucapku sedikit mengerutkan kening menatapnya, "aku mengerti, aku tidak akan membahasnya," ucapnya sembari menggerakkan kepalanya kembali menatap ke depan.


Kuda milikku semakin berjalan cepat ke depan saat Kerajaan Tao semakin terlihat di pandangan, "Putri, apakah kita perlu maju sedikit mendekatinya atau jaraknya sudah cukup di sini," Gritav menghentikan kuda yang ia tunggangi, suara laki-lakinya tampak masih terdengar di balik penampilan perempuan yang ia kenakan.


"Menurutmu, apakah panah dari musuh akan sampai ke sini?" Tanyaku kembali kepadanya, "jika kita melangkah lebih ke depan, mungkin itu akan terjadi," jawabnya membalas tatapanku.


"Baiklah, kalian semua dengarkan perintahku!" Teriakku kuat, kudaku berbalik seraya kutatap para pasukan yang berdiri sebelumnya di belakangku.


"Gritav, dan Hongli akan berada di pasukan yang sama dengan Hime-sama. Kalian berdua paham, apa yang harus kalian lakukan bukan?" Tanya Haruki, Gritav dan Arata menganggukkan kepala saat Haruki menatap mereka.


_____________________


Aku masih duduk di atas kuda milikku, pandangan mataku terjatuh ke arah para Kesatria yang tengah membangun tenda dari kain berwarna cokelat. Pandangan mataku kembali beralih pada bayangan para Kesatria Kerajaan Tao yang berdiri menatapi kami dari atas benteng Kerajaan mereka.


"Nee-chan," suaranya terdengar, aku berbalik menatapnya yang tengah membawa kuda miliknya berjalan mendekatiku.


"Apa kalian telah melakukan semua yang aku perintahkan?" Tanyaku kepadanya, Eneas sedikit menganggukkan kepalanya ke arahku.


"Aku telah mempersiapkan semuanya. Percayalah pada kami," ucapnya, Eneas menghentikan kudanya di sampingku.

__ADS_1


"Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak, dan juga ... Ini perang kedua untukmu bukan?" Tanyaku sedikit tersenyum menatapnya.


"Nee-chan benar, aku jadi mengingat perang pertamaku ketika bersama Haru nii-san di Paloma," ucapnya balas tersenyum padaku.


Kami berdua kembali terdiam, ejekan yang terdengar dari beberapa Kesatria Kerajaan Tao sedikit terdengar saat angin berembus ke arah kami. "Mereka angkuh sekali," suara Arata tiba-tiba terdengar, kepalaku kembali bergerak ke belakang mencari suaranya.


"Hongli, apa semuanya sudah dipersiapkan?" Tanyaku kepada Arata yang berjalan semakin mendekati kami.


"Semuanya telah siap Hime-sama, Hime-sama bisa beristirahat di dalam tenda yang kami bangun," ucapnya sedikit membungkukkan tubuhnya ke arahku.


"Jangan melakukannya, kau membuatku merasa sedikit sungkan Arata nii-chan," ucapku, Arata kembali mengangkat kepalanya diikuti sebelah tangannya yang bergerak menggaruk kepalanya, "baiklah, sesuai perintah darimu Hime-sama," ucapnya kembali, kutatap rambutnya saat dia telah berdiri di samping kuda yang aku tunggangi.


"Eneas, bisakah kau membawa Cia ke dalam tenda, biarkan dia beristirahat di sana," ucapku menoleh ke arahnya, "aku mengerti. Cia, kemarilah! Ikut bersama Kakak," ucap Eneas, kedua tangannya bergerak mendekati Cia yang duduk tertunduk di depanku.


"Hime-sama," Arata kembali bersuara, "ada apa?" Aku balik bertanya saat dia masih tak bergeming menatap Benteng Kerajaan Tao yang ada di hadapan kami.


"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"


"Tidak ada, tidak ada yang perlu kalian lakukan. Kita hanya harus menunggu mereka keluar dari benteng mereka sendiri," ucapku, ikut kuarahkan pandanganku ke arah para Kesatria Tao yang berteriak-teriak mengejek kami dari atas benteng yang mereka jaga.


"Apa maksudmu, Hime-sama? Apa kau ingin mereka langsung membunuh kita semua di sini?" Suara laki-laki kembali terdengar, kini pandanganku beralih ke arah empat orang laki-laki yang menjadi anak buah Arata.


"Kita hanya menyerang mereka dengan pasukan yang sangat kecil, Kerajaan sebesar Tao tidak akan menggubris ancaman kecil yang kita lakukan. Dengan kata lain, mereka akan mengabaikan kita, mereka hanya akan membuat kita putus asa lalu kembali pulang dengan harapan kosong," ucapku menjawab perkataan salah seorang laki-laki tersebut.


"Apakah itu mungkin terjadi?" Salah seorang laki-laki kembali bertanya.


"Entahlah, aku hanya ingin mencoba keberuntungan kita," ucapku, kembali kuarahkan pandanganku ke arah benteng tinggi yang ada di hadapanku itu.

__ADS_1


__ADS_2