Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLVIII


__ADS_3

"Sa-chan, Sa-chan."


Suara yang terdengar berulang-ulang mengusik telingaku, kedua mataku yang masih terpejam bergerak tanpa sadar saat kurasakan sesuatu menyentuh pipiku.


"Apakah sudah pagi?" Tanyaku dengan sedikit bergumam, beberapa kali mataku berkedip pelan berusaha menghilangkan rasa kantuk yang mendera.


"Sebentar lagi matahari terbit, bangunlah," ucapnya kembali, kali ini sentuhan tersebut berubah menjadi tepukan-tepukan pelan di pipiku.


Kuangkat kepalaku yang bersandar di lengannya lalu kutundukkan kembali dengan kedua tanganku yang menutupinya. "Apa kau baik-baik saja?" Suara Haruki kembali terdengar di telingaku.


"Hanya sedikit pusing," jawabku pelan kepadanya.


Kuturunkan kembali kedua tanganku tadi, lalu kuangkat tanganku tadi meraih tangan Haruki yang telah mengarah ke padaku. Haruki menarik tanganku tadi seraya kugerakkan tubuhku beranjak berdiri di hadapannya.


Kedua kakiku melangkah mengikuti langkah kakinya seraya kugerakkan kedua telapak tanganku menepuk-nepuk pipiku berulang-ulang. Aku berbalik menatap beberapa pasukan yang masih tertidur di samping senjata-senjata kayu yang akan kami gunakan untuk perang.


Aku melangkah semakin cepat menaiki tangga mengikuti langkah kaki Haruki yang telah berjalan di hadapanku. Angin pagi berembus semakin dingin tatkala aku telah berdiri di atas benteng...


Aku melangkah maju mendekati dinding pagar yang ada di puncak benteng, matahari yang belum bersinar ... Membuatku kesulitan untuk melihat pasukan musuh.


Aku menoleh ke arah Haruki, kutatap dia yang tengah berbicara dengan Gritav di sampingnya. Ikut juga kutatap dia yang beberapa kali menggerakkan jari telunjuknya seakan menunjuk ke arah sesuatu.

__ADS_1


"Hime-sama," suara laki-laki tiba-tiba terdengar, "ada apa Adofo?" Tanyaku kepadanya saat aku berbalik menatapnya.


"Aku membawakanmu air dan juga busur berserta anak panah milikmu," ucapnya mengarahkan sebuah gelas besi di tangan kanannya, sedangkan busur berserta tabung berisi anak panah di tangan kirinya.


"Terima kasih," ucapku meraih gelas yang ada di tangannya, kuarahkan gelas tadi mendekati bibirku lalu meminumnya.


"Adofo," ucapku kembali berbalik menatap para pasukan musuh yang sedikit terlihat kembali dari kejauhan.


"Apakah kau pernah mengikuti perang seperti saat ini?" Tanyaku tanpa berbalik menatapnya. "Yang aku tahu hanyalah merampok dan membunuh mereka yang pantas dibunuh. Perang juga bertujuan untuk membunuh musuh bukan? Jadi, mungkin aku juga telah ikut berperang tapi dengan cara yang berbeda," ucapnya terdengar di belakangku.


"Jawaban yang sangat bagus," ucapku meletakkan gelas yang aku pegang tadi bersandar di tembok benteng, "berikan aku tabung anak panahku!" Aku kembali beranjak dengan telapak tanganku mengarah ke belakang.


"Adofo," ucapku lagi, kuarahkan tabung kayu berisi anak panahku tadi melingkar di pundakku.


"Aku tidak tertarik berkerja sebagai seorang pelayan," ucapnya, mengangkat busur panah milikku ke arahku.


Arata mengatakan jika dia sangat kuat bukan? Dia tidak mempercayai seseorang karena dia dikhianati oleh Kakaknya sendiri. Aku hanya harus mendapatkan kepercayaannya, dengan begitu ... Dia akan jatuh, mematuhi semua perintahku.


"Aku tidak akan mempermasalahkannya jika kau menolak saat ini, tapi setelah perang ini berakhir ... Aku akan membuatmu memohon dengan sendirinya untuk mengikutiku," ucapku lagi dengan tersenyum menatapnya sebelum aku kembali berbalik menatapi pasukan musuh.


Sinar mentari semakin terlihat jelas, kedua tanganku bergerak menggenggam kuat busur panah yang ada di tanganku. Bunyi terompet kembali memenuhi udara sekitar, diikuti semakin sesaknya keadaan di atas benteng saat para pasukan kami telah berbaris rapi memenuhi benteng dengan masing-masing senjata di tangan mereka.

__ADS_1


Pandangan di hadapanku tiba-tiba menggelap, kugerakkan kepalaku mendongak ke atas. Tampak terlihat Adofo telah berdiri di sampingku dengan perisai kayu seukuran tubuhku di genggamannya.


Kedua mataku kembali melirik ke samping, lama kutatap pedang berbuku miliknya. Berbuku yang aku maksudkan, pedang yang ia genggam sangatlah panjang, seperti pedang yang saling menyambung satu dengan lainnya, lebih tepatnya terlihat seperti cambuk dibandingkan pedang.


Pandangan mataku kembali teralihkan ke arah pasukan musuh yang mulai terlihat bergerak. Berpuluh-puluh ribu pasukan musuh tersebut, bergerak semakin mendekati benteng. Kutatap mereka yang jatuh bergantian ke dalam lubang jebakan yang kami buat.


Lubang jebakan yang hampir sama dengan permukaan tanah jika terlihat sekilas tersebut berhasil mengecoh para pasukan pejalan kaki mereka yang berjalan di paling depan. Para pasukan musuh menghentikan langkah kakinya ... Beberapa dari mereka ada yang maju ke depan, berusaha memastikan keadaan teman mereka yang ada di dalam lubang.


Aku memerintahkan para pasukan kami untuk meletakkan bambu-bambu runcing di dalam lubang tersebut. Mereka yang terjatuh ke dalamnya, kalian dapat membayangkannya sendiri bukan?


Masih kutatap para pasukan musuh yang bergerak ke pinggir seakan sedang memberikan sebuah jalan untuk sesuatu. Pandangan mataku teralihkan lalu menyipit ke arah sebuah kereta kuda berlapis emas dengan seorang laki-laki duduk di atasnya.


Laki-laki tersebut mengangkat sebelah telapak tangannya, sebuah senjata pendobrak perlahan berjalan di belakang laki-laki tersebut. Senjata pendobrak tersebut didorong oleh beberapa puluh Kesatria musuh hingga terhenti tepat di depan lubang jebakan yang aku buat.


Satu orang Kesatria musuh menaiki batang kayu yang digantung memanjang di tengah-tengah senjata tersebut. Sedangkan, beberapa Kesatria lainnya berdiri di belakang senjata tersebut dengan mendorong batang kayu tadi hingga dia bergoyang maju dan mundur bergantian.


Kesatria yang berada di atas batang kayu tadi, perlahan mulai berdiri di atasnya. Dia berdiri saat batang kayu yang ia injak masih bergoyang didorong oleh temannya. Kesatria tersebut melompat ke depan, tubuhnya berguling-guling di atas tanah sebelum kembali beranjak berdiri menatapi laki-laki yang duduk di atas kereta tadi.


Aku kembali menatap ke arah Kesatria lainnya yang bergerak menaiki batang kayu tersebut lalu melompat ke seberang saat batang kayu yang ia naiki bergoyang maju dan mundur oleh beberapa Kesatria di belakangnya.


Setelah lebih dari sepuluh Kesatria musuh yang menyeberang, Kesatria musuh yang ada di sisi sebelahnya kembali bergerak ke pinggir hingga menyisakan tempat yang sedikit luas. Beberapa orang Kesatria muncul di baliknya dengan sebuah papan panjang di masing-masing lengan mereka.

__ADS_1


Para Kesatria yang membawa papan tadi, dengan perlahan berusaha menggerakkan papan-papan tadi agar dapat disambut oleh teman mereka yang ada di seberang lubang jebakan, "padahal kita telah membuat lubang jebakan yang mengelilingi tempat ini," ucap salah seorang Kesatria kami yang berhasil mengalihkan perhatianku.


"Sepertinya, mereka mengetahui jika kita memasang jebakan untuk mereka. Dilihat dari papan kayu yang yang sepertinya telah mereka siapkan dengan sangat baik," ucap Haruki yang telah berdiri di sampingku, aku sedikit melirik ke arahnya yang masih menjatuhkan pandangan ke arah pasukan musuh.


__ADS_2