Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCII


__ADS_3

"Kapten?" ucapku tanpa sadar, kualihkan pandanganku berbalik menatap Haruki dan Izumi bergantian.


"Yang Mulia, Raja Takaoka Kudou mengirimkan surat kepadaku beberapa hari yang lalu. Sebagai seorang Kapten, aku dengan senang hati melakukan semua yang beliau perintahkan," ungkap laki-laki itu lagi, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya yang balas menatap kami.


"Perintah, perintah apa yang kau maksudkan," kali ini terdengar suara Haruki, masih kutatap laki-laki bertubuh besar yang mengaku sebagai Kapten Kerajaan kami itu.


"Yang Mulia, memintaku untuk menemani kalian sepanjang perjalanan," ucapnya lagi kepada kami.


"Menemani kami? Apa Ayah..."


"Dan Yang Mulia juga berpesan, jika Anak-anakku tidak menuruti perkataanmu... Kau bisa bebas menghukum mereka semua," sambungnya memotong perkataan Izumi, masih kutatap dia yang tersenyum dingin menatapi kami.


"Jadi yang kau maksudkan..."


"Syarat kalian melanjutkan perjalanan ialah membawaku pergi bersama kalian. Jika kalian menolak, maka aku akan memerintahkan semua penduduk suku untuk menyeret kalian pulang ke Kerajaan Sora," ucapnya memotong perkataan Haruki padanya.


"Jika kami masih menolak bagaimana? Ayah juga pasti telah memberitahukan tentang Naga yang dimiliki Adikku padamu bukan?" ungkap Haruki lagi dari arah belakangku.


"Kalian tidak akan melakukannya, karena aku tetaplah seorang Kapten di Kerajaan Sora. Kalian memerlukan aku sebagai salah satu senjata untuk menghancurkan Kekaisaran," sambungnya menimpali perkataan Haruki.


"Apa kalian telah selesai berdebat?" suara Kakek yang terbaring tadi mengetuk telingaku.


"Kalian, sama berartinya untuk Kudou. Kudou pasti telah memikirkan baik-baik apa yang akan dilakukannya untuk anak-anaknya... Jadi, terimalah Anakku itu untuk menjaga kalian sepanjang perjalanan," ucapnya lagi seraya masih kutatap laki-laki yang mengaku Kapten tadi beranjak lalu berjalan melewati kami.

__ADS_1


"Ayah, apa kau akan baik-baik saja?" kembali terdengar suara laki-laki itu, berbalik aku menatapnya yang tengah duduk memegang tangan Kakek tua yang terbaring tadi.


"Ayah akan baik-baik saja, pergilah... Membantu Kudou adalah perintah mutlak yang kau tanam untuk dirimu sejak dahulu bukan. Lagipun, masih banyak mereka yang akan membantuku di sini... Jadi pergilah Putraku, lindungi cucu-cucu ku selama perjalanan," ucap Kakek tadi, kutatap dia yang telah balas menatap kami.


"Tapi sebelum itu, bisakah kalian berempat menginap di sini barang sehari saja. Penduduk desa pasti akan senang jika Putra dan juga Putri dari Kudou bersama dengan mereka," sambungnya tersenyum menatap kepada kami.


"Kami mengerti, kami akan menginap di sini," ungkap Haruki menjawab perkataannya.


______________


"Sachi," ucapnya kualihkan pandanganku padanya yang telah menoleh menatapku.


"Ada apa Kakek? Apa Kakek memerlukan sesuatu?" ungkapku seraya beranjak berjalan mendekatinya.


"Ada apa Kakek?" ucapku lagi padanya, kuarahkan telapak tanganku menggenggam pelan telapak tangannya.


"Bagaimana keadaan Ayahmu? Maksudku, setelah Ibumu meninggal, itu kali terakhir aku melihatnya. Bagaimana keadaannya? Anakku mengatakan jika dia baik-baik saja, akan tetapi... Ayahmu sebenarnya telah beberapa kali terluka oleh takdir, aku..."


"Ayahku, baik-baik saja Kakek. Dia seringkali tersenyum bercanda bersama kami, dia juga suka sekali dengan setiap masakan yang aku buatkan untuknya," ungkapku memotong perkataannya, kurasakan telapak tanganku sedikit merasakan genggaman yang ia lakukan.


"Benarkah, syukurlah... Aku sangat bersyukur akan hal itu," ungkapnya tersenyum menatapku.


"Kakek, bukankah lebih bagus jika Kakek dapat tinggal di Istana bersama Ayah dan juga kami?"

__ADS_1


"Aku tahu, tapi kami melakukan semuanya untuk keselamatan kalian. Desa kami sulit sekali dijangkau oleh masyarakat luar, tapi kami bisa dengan mudah berbaur dengan mereka tanpa perasaan canggung sedikitpun. Karena itulah, kami membantu Kudou untuk mendapatkan informasi sebanyak apapun mengenai musuh-musuhnya..."


"Dan juga, kami tidak ingin lagi berurusan dengan Kekaisaran, karena itu... Kami memilih berdiam diri di hutan seperti ini," ucap Kakek tua itu lagi kepadaku.


"Kakek, apa Kakek tahu sesuatu tentang Ibuku?"


"Ibumu, saat pertama kali kami menemukannya... Dia kehilangan ingatannya, tubuhnya penuh luka cambukan, bahkan darah yang memenuhi wajahnya telah membeku bersamaan udara..."


"Ayahmu, memberikan dia nama. Ayahmu yang merawat Ibumu di Istana, tak lama berselang... Mereka berdua menikah, Ayahmu sangat bahagia saat dia mendengar kabar tentang kehamilan Ibumu..."


"Aku bisa tahu dengan hanya membaca suratnya. Tapi, dia harus kembali kehilangan perempuan yang ia cintai, dan bahkan Putrinya sendiri sangatlah mirip dengan Perempuan itu. Aku tidak tahu, bagaimana yang ia rasakan," sambung Kakek tadi, masih kutatap dia yang telah mengalihkan pandangannya ke atas.


"Bahkan Kakakku merasakan seperti yang Kakek katakan. Kau tahu Kakek? Jujur, au sebenarnya tidak ingin tersenyum di hadapan mereka. Aku pernah diam-diam mendengarkan perkataannya, jika setiap aku tersenyum... Aku seperti membuka luka lama pada mereka..."


"Dan itu menyakitkan, baik itu untukku, untuk Kakakku, untuk kami semua. Karena itulah, aku ingin sekali menghancurkan Kekaisaran... Aku ingin menghapus semua ketidakadilan di dunia ini..."


"Aku hanya ingin, hidup tenang bersama keluargaku," ucapku dengan suara bergetar, kugerakkan tanganku menggenggam sedikit kuat tangannya.


"Kau akan dapat melakukannya, kalian semua pasti dapat melakukannya. Kalian semua sama seperti Ayah kalian, kalian pun dicintai oleh seluruh lapisan masyarakat di Kerajaan. Karena itu..."


"Mereka semua pasti akan membantu kalian tanpa dipinta, mereka akan melakukan apapun jika itu keinginan langsung dari kalian. Karena itu, percayalah..."


"Bunga tidak mekar dengan sendirinya, mereka memerlukan banyak sekali hal untuk membantu mereka tumbuh. Karena itu, semuanya akan baik-baik saja... Hanya pastikan jika kalian telah melakukan yang terbaik," ucapnya lagi seraya tersenyum menatapku.

__ADS_1


__ADS_2