
"Kalian yakin akan pergi secepat ini?" Ucap Costa mengikuti langkah kakiku yang bergerak ke sana dan ke mari membereskan semua keperluan untuk diperjalanan.
"Apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan Kakakku semalam? Jika dia mengatakan, kami harus pergi. Maka, kami akan pergi sesuai perkataannya," ungkapku duduk di sisi ranjang dengan kedua tanganku bergerak melipat pakaian yang akan aku kenakan selama di perjalanan.
"Apa kau harus mengikuti kemana Kakakmu pergi?" Ungkapnya berdiri di sampingku.
"Tentu, itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluarga kami dan juga banyak orang," ungkapku meraih tas kulit cokelat milikku seraya sebelah tanganku bergerak meletakkan pakaian yang telah aku lipat ke dalamnya.
"Tapi Sachi," ucapnya, kugerakkan kepalaku menatapnya saat kurasakan dia menggenggam erat lenganku.
"Ada apa? Kau aneh sekali, lagipun kau pasti sudah tahu cepat atau lambat kami akan segera pergi dari sini," ungkapku beranjak berdiri dengan tangan kananku meraih jubah biru yang tergeletak di atas kasur.
"Bisakah kau melepaskannya," ucapku lagi dengan pandangan melirik ke tangannya, kugerakkan tanganku tadi mengikat jubah biru tadi di tubuhku.
"Sa-chan, apa kau telah selesai," ikut terdengar teriakan Haruki, aku berbalik cepat meraih dua buah tas kulit yang tergeletak di atas kasur.
"Lux," ucapku menatapnya yang tengah mengenakan tas kecil miliknya ke pundak.
"Aku mengerti," jawabnya bergerak terbang mendekatiku.
"Aku datang nii-chan," ungkapku berjalan melewati Costa yang masih tertunduk diam.
"Kau lamban sekali!" Ucap Izumi dengan kedua tangannya bersilang di dada.
"Aku harus menyiapkan keperluan kita terlebih dahulu," ungkapku bergerak menuruni tangga mendekati mereka.
"Berikan tas yang besar itu padaku!" Ucap Izumi meraih salah satu tas kulit yang ada di tangan saat aku berdiri di hadapannya.
"Terima kasih," ucapku menggerakkan tas yang lebih kecil menyilang di pundakku.
"Costa," ucap Haruki, ikut bergerak aku berbalik menatapnya yang tengah berdiri menatapi kami dari atas tangga.
"Terima kasih atas bantuannya, kau benar-benar membantu kami selama di sini," ungkapnya kembali.
"Tidak masalah," balas Costa dengan sedikit melirik ke arahku.
__ADS_1
"Kita pergi," ucap Izumi berjalan mendekati pintu.
"Uki, mendekatlah. Kau akan bersamaku selama perjalanan," ucap Haruki berjalan mendekati Uki yang tengah melahap makanannya di atas meja.
"Cia," ucapku berjalan mendekatinya yang tengah duduk di kursi dengan kepala tertunduk.
"Kau akan berkuda bersamaku, kita akan mencari Aita dan Ama," ucapku menggendong tubuhnya.
"Aita, Ama?" Ungkapnya menatapku.
"Aita, Ama," ucapku mengulangi perkataannya.
________________________
"Ke arah mana kita akan pergi?"
"Utara?" Ungkap Haruki menghentikan laju kudanya, tampak sesekali digerakkannya tangannya menepuk kepala Uki yang muncul dari dalam tas yang ia kenakan.
"Kenapa kau terdengar ragu-ragu nii-chan?" Ungkapku ikut menggerakkan kuda milikku mendekatinya.
"Jadi kita tidak bisa menebak, bahaya apa yang akan kita temukan di sana?" Sambung Izumi yang telah menunggangi kuda miliknya di sampingku.
"Kurang lebih seperti itu," ungkap Haruki diikuti helaan napasnya yang terdengar.
"Mau tidak mau kita harus ke sana, benarkan nee-chan?"
"Eneas benar, mau tidak mau kita harus ke sana. Kita telah menghabiskan waktu sepekan lebih di perjalanan, pasokan makanan kita telah menipis. Di sekitar sini tidak ada hutan untuk kita berburu, jadi," ucapku menghentikan perkataan, kulirik Haruki yang masih menatapku.
"Aku mengerti, kita akan ke sana. Jika itu surga, kita pasti akan dengan sangat mudah mendapatkan apapun yang kita butuhkan," ungkapnya kembali menggerakkan kudanya berjalan maju.
"Sachi," terdengar suara Cia yang samar terdengar, kuarahkan kepalaku menunduk menatapnya yang tengah menggenggam satu butir apel di tangannya.
"Pertsona," ucapnya kembali dengan sebelah tangannya mengarah ke arah kanan.
"Pertsona?" Ungkapku mengikuti perkataannya dengan kepalaku ikut bergerak mengikuti arah yang ia tunjukkan.
__ADS_1
"Nii-chan," ucapku dengan nada meninggi, mereka menghentikan langkah kaki kuda milik mereka lalu berbalik menatapku.
"Pertsona."
"Maksudku, ada seseorang di sana," ucapku kembali dengan sebelah tanganku mengarah pada seseorang yang berjalan mendekati kami.
"Izumi," ucap Haruki, Izumi menggerakkan kudanya berjalan mendekati orang asing tersebut.
Izumi menarik pedang yang terselip di pinggangnya, seorang asinh tersebut berlutut di samping kaki kuda yang Izumi tunggangi. Kedua tangannya saling merapat satu sama lain dengan kepalanya mendongak menatapi Izumi yang masih mengarahkan pedang miliknya ke laki-laki tadi.
"Apa yang terjadi?" Tukas Haruki menunggangi kudanya melewatiku, ikut kugerakkan kudaku mengikuti langkah mereka.
"Ada apa?" Ucap Haruki kembali, ditatapnya laki-laki yang masih berlutut di hadapan Izumi tadi.
"Tolong, tolong kami," ucapnya sembari menggerakkan kakinya yang masih berlutut mendekati kuda yang Haruki tunggangi.
"Menjauhlah sedikit dariku," ucap Haruki dengan sebelah tangannya mengarahkan pedang yang ia genggam ke arah laki-laki tadi.
"Aku mohon, selamatkan desa kami. Kumohon, selamatkan desa kami," ucapnya terisak dengan kepalanya bersujud ke tanah.
"Untuk apa kami menolong kalian," ucap Haruki menggerakkan kudanya berbalik membelakangi laki-laki yang masih diam bersujud dengan tangisan terisak keluar darinya.
"Kalian terlihat kuat, dan kalian memiliki senjata. Kumohon... Selamatkan desa kami, kumohon selamatkan Anak-anakku," ucapnya, tampak tanah berpasir yang ada di dekatnya terlihat basah.
"Jelaskan apa yang terjadi?"
"Izumi," ucap Haruki saat Izumi menggerakkan kudanya berdiri di samping laki-laki yang masih bersujud tadi.
"Bagaimana jika yang dia katakan adalah sebuah jebakan?" Ucap Haruki kembali menggerakkan kudanya berbalik ke belakang.
"Dan bagaimana jika yang dia katakan benar adanya. Apakah Ayah mengajarkan kita untuk menutup mata akan kesusahan orang lain," ucap Izumi menimpali perkataan Haruki.
"Hentikan nii-chan. Lux berkata, jika laki-laki ini tak berbohong. Lux ikut merasakan ketakutan yang laki-laki ini rasakan," ucapku menatapi mereka bergantian.
"Baiklah, ceritakan semuanya! Kami akan memutuskan untuk menolong kalian atau tidak setelah mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi," ucap Haruki menundukkan pandangannya menatap laki-laki tadi.
__ADS_1