Fake Princess

Fake Princess
Takaoka Haruki (Side Story') II


__ADS_3

“Jadi Yang Mulia, jika kau memiliki seratus buah Apel, lalu buah Apel tersebut kau bagikan pada sepuluh hewan. Berapa buah Apel yang didapatkan masing-masing hewan itu?” Kutatap sinar kecil yang jauh di depanku.


Kupejamkan kedua mataku seraya jari-jariku bergerak menghitung semuanya, “sepuluh. Masing-masing hewan mendapatkan sepuluh apel,” ucapku kepadanya.


“Baiklah, pelajaran hari ini berakhir. Apa yang ingin kau pelajari untuk besok Yang Mulia?” Tatsuya kembali bersuara.


“Aku ingin berlajar tentang Kerajaan ini,” ucapku kepadanya, “aku mengerti, kalau begitu … Pelayanmu ini permisi untuk pergi, Yang Mulia,” ucap Tatsuya lagi diikuti sinar kecil yang ada jauh di hadapanku itu menghilang.


Aku, tidak ingin kalah dari Izumi. Izumi telah merenggut Ibuku, dia juga mendapatkan apa yang harusnya aku terima. Aku, benar-benar membencinya.


“Apa itu kau Tatsuya? Apa ada yang tertinggal?” suaraku sedikit meninggi saat terdengar suara benda terjatuh.


“Maafkan aku, tapi … Apa benar kau Haruki?”


Perempuan?


“Siapa Kau?” Aku kembali bersuara, “kau bisa memanggil aku apa pun, karena aku … Tidak mengetahui namaku,” ucap suara itu kembali.


“Baiklah, ada perlu apa kau ke sini?” Tanyaku kembali padanya.


“Aku ingin menemui Putraku, Haruki,” ucapnya kembali terdengar. “Apa kau dipinta Ayahku untuk merawatku?”


“Aku datang karena kehendakku sendiri. Aku, ingin mengenal anak-anakku sendiri lebih dekat,” ucapnya terdengar sedikit bergetar.


“Kau memanggilku dengan sebutan Putraku bukan? Baiklah jika begitu, aku akan memanggilmu dengan sebutan Ibu.”


________________


“Haru-Chan,” suara perempuan tersebut kembali terdengar memanggil.

__ADS_1


Chan? Sejak kapan perempuan itu mulai berlajar Bahasa Kerajaan kami.


“Ibu, kau kah itu?” Ungkapku kepada suara tersebut.


“Aku membawakan makanan untukmu Haru-Chan,” ucapnya diikuti suara langkah kaki dan juga lilin kecil yang ada di tangannya.


“Apa Ibu mempelajari Bahasa kami?”


“Ayah kalian mengajariku, apakah terdengar buruk?” Dia kembali bersuara.


“Tidak, justru terdengar sangat bagus,” ucapku kembali padanya.


Kugerakan kepalaku ke samping, kutatap sepasang sinar terang yang mengarah kepada kami.


Izumi? Apa dia ke sini untuk memata-matai kami? Bodoh!


“Ibu, tanganku rasanya sakit sekali. Bisakah Ibu membantuku?”


“Aku tidak tahu Ibu, tapi rasanya sakit sekali,” ucapku kepadanya, kulirik sepasang mata bersinar tadi yang telah menghilang entah ke mana.


____________________


Aku melangkahkan kaki keluar dari tempatku terkurung sebelumnya, cahaya matahari yang menjadi musuhku dulu kini malah tidak lagi membakar kulitku. Aku tidak tahu kenapa? Akan tetapi, semenjak kematian Ibuku … Kutukan itu menghilang dengan sendirinya.


“Kakak,” suara anak laki-laki terdengar, kugerakan kepalaku menoleh ke arah seorang anak laki-laki yang berdiri di sampingku dengan seorang pelayan di belakangnya.


Mata abu-abu. Izumi?


Aku melangkahkan kaki tanpa menggubrisnya, anak laki-laki tersebut terus-menerus mengejarku diikuti suaranya yang tak henti-hentinya membuat telingaku berdenging.

__ADS_1


Menjengkelkan sekali, menyingkirlah!


“Kau membuat telingaku sakit,” ucapku kepadanya sebelum melangkah pergi meninggalkannya.


“Yang Mulia, dia adikmu,” Tatsuya bersuara, aku melirik ke arah bayangannya yang berjalan di sampingku. “Aku, tidak mempunyai adik,” ucapku kembali mempercepat langkah kaki meninggalkannya.


____________________


Aku melangkahkan kaki mendekati perpustakaan, langkah kakiku terhenti saat kudengar suara Izumi diikuti suara tawa anak perempuan. Kugerakan kedua kakiku mengendap-endap mendekati suara tersebut, kutatap Izumi yang tengah duduk menatapi bayi perempuan yang tengah tidur di sebuah keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Izumi bernyanyi seraya di dorongnya keranjang berisi anak perempuan tadi berayun-ayun hingga anak itu lelap tertidur.


“Kak Haruki, apa kau ke sini untuk melihat Sachi?” Suara Izumi mengejutkan aku. Kutatap dia yang telah melangkahkan kakinya mendekatiku, “Sachi?” Aku membalas perkataanya, Izumi menarik tanganku untuk berjalan mengikutinya.


“Lihatlah, dia cantik bukan? Sama seperti Ibu kita,” ucapnya dengan sedikit tersenyum menatapku.


Aku benar-benar membenci matanya itu. Kenapa matanya sangat mirip dengan Ibu Isshin?


Aku berbalik, melangkahkan kaki meninggalkannya. “Kak Haruki!” Izumi terus-menerus meneriaki namaku, kugerakan kedua kakiku semakin cepat meninggalkannya.


“Kak, kumohon … Aku tahu kau membenciku, tapi kumohon … Jangan mengabaikan Sachi, maupun Ayah. Kau bisa mengambil semuanya, aku tidak tertarik menjadi Pangeran. Aku, hanya ingin keluarga kita bahagia,” suara tangisan Izumi yang ada di belakangku terdengar.


“Keluarga?”


“Keluarga apa yang membuatku sendirian di dalam kegelapan. Kau mendapatkan segalanya yang dulu tidak bisa aku dapatkan. Kau, selalu dan selalu mendapatkan kasih sayang dari Ayah maupun Ibu. Aku muak, mendengarkan Ibu selalu menceritakanmu. Aku, tidak ingin terkutuk. Aku, hanya ingin menjadi anak biasa. Kau, tidak akan mengerti keadaanku Izumi,” kugerakan sebelah tanganku mengusap kedua mataku. Kedua kakiku kembali berjalan meninggalkannya, “kak,” ucapnya, langkah kakiku terhenti, aku berbalik menatapnya yang menatapku dengan kedua matanya yang memerah dan juga ingus yang tak kunjung berhenti keluar dari hidungnya.


“Kakak, maafkan Izumi,” ucapnya menggerakan tanganku yang digenggamnya tadi mendekati hidungnya.


“Apa yang kau lakukan?!” Aku sedikit berteriak kepadanya.


“Aku tidak tahu apa yang aku lakukan,” ucapnya dengan sedikit menarik ingusnya lalu dikeluarkannya kembali.

__ADS_1


Kugerakan sebelah tanganku meraih sapu tangan yang ada di saku celana, kuarahkan sapu tanganku tadi mendekati hidungnya. “Keluarkan! Keluarkan semuanya di atas sapu tangan ini. Apa kau tidak bisa menggunakan otakmu!” Aku kembali berteriak kepadanya seraya kugerakan kedua jariku mengapit hidungnya.


“Kakak, tidak marah padaku bukan?” ucapnya kepadaku, “bersihkan tubuhmu sekarang juga, jangan mendekatiku sebelum kau membersihkan seluruh tubuhmu itu,” ucapku yang dibalas anggukan kuat kepalanya beberapa kali.


__ADS_2