
Kuro berhenti bergerak di depan lempengan es yang mengapung di permukaan air. Aku berenang maju ke depan meraih lempengan es tersebut, tubuhku tiba-tiba terangkat ke udara. Kugerakkan kepalaku ke belakang, menatap sayap putih besar yang tak henti-hentinya mengepak di udara.
Kou menggerakkan kepalanya ke samping, kugerakkan kedua tanganku meraih lehernya sembari sebelah kakiku bergerak melewati lalu duduk di punggungnya. Kou terbang memutar hingga tatapan mataku terjatuh pada kumpulan duyung yang menatapku dari balik air laut.
"Sachi!"
"Sa-chan!"
Teriakan-teriakan yang memanggil namaku terus terdengar, kugerakkan kepalaku menatap Haruki, Izumi, dan juga Zeki yang telah melangkahkan kaki mereka di atas lempengan es. Kou mendaratkan tubuhnya di depan mereka, aku masih diam... Tak beranjak sama sekali di atas punggungnya.
"Sa-chan," suara Haruki mengusik, kepalaku semakin tertunduk dengan kugigit kuat bibirku.
"Maaf," ucapku pelan, kututup wajahku menggunakan kedua telapak tangan.
"Aku tidak bisa menyelamatkan Eneas. Aku gagal menyelamatkannya," tangisku, semakin kuat telapak tanganku tadi menekan wajah.
"Sa-chan," ucapnya pelan diikuti sentuhan pelan di lengan kiriku.
"Padahal sedikit lagi, padahal sedikit lagi. Nii-chan," tangisku kembali menatapnya, Haruki mengarahkan tangannya meraih leherku lalu mendorongnya hingga wajahku menyentuh pundaknya.
"Eneas baik-baik saja," ucapnya menepuk pelan belakang leherku.
"Apa maksudmu nii-chan? Sebelum tak sadarkan diri, aku melihatnya sendiri... Aku melihat bola kaca yang mengurung jiwanya pecah," ucapku dengan suara bergetar, semakin dalam kubenamkan wajahku di pundaknya.
"Sekarang Lux sedang merawatnya. Tubuhnya belum dapat digerakkan, tapi Eneas sudah kembali sadar," ucap Haruki, kuangkat wajahku dari pundaknya.
"Benarkah itu?" Ungkapku mengarahkan pandangan ke arah Izumi dan juga Zeki, mereka mengangguk beberapa kali menjawab tatapanku.
"Kalian tidak berbohong bukan?"
"Kami tidak berbohong, Eneas telah kembali sadar sejak kemarin. Kau melakukannya dengan sangat baik sebagai Kakaknya," ucap Haruki mengarahkan kedua tangannya menyentuh pinggangku.
Haruki mengangkat tubuhku dari punggung Kou, diturunkannya kembali tubuhku itu di hadapannya. Aku berbalik menoleh ke arah sirip ekor keunguan yang timbul di atas permukaan air, dengan perlahan kedua kakiku melangkah mendekati sirip ekor tadi yang kadang tenggelam ke air, kadang kembali muncul di permukaan.
"Kuro," ucapku pelan sembari kugerakkan kedua kakiku berlutut di atas lempengan es.
"Terima kasih," ucapku lagi seraya kuarahkan telapak tanganku ke dalam air menyentuh kepalanya.
"Makhluk apa itu?" Terdengar suara Zeki dari arah belakangku, aku berbalik lalu membuang kembali wajahku dengan cepat saat kepalanya telah ia gerakkan di samping pundakku.
__ADS_1
"Dia, kuda laut. Aku memberikannya nama Kuro."
"Karena kulitnya hitam, jadi kau memberikannya nama Kuro?" Sambung Izumi yang juga telah berjongkok di sampingku.
"Aku, hanya tiba-tiba saja terpikirkan nama itu," ucapku dengan sesekali mengeluarkan suara tawa yang dipaksa.
"Lalu, apa dia memiliki kekuatan?"
"Dia, dia bisa berenang dengan sangat cepat," ucapku melirik ke arah Haruki yang juga telah berjongkok di sampingku.
"Berenang dengan sangat cepat, sepertinya... Kau menikmati perjalananmu," ucap Haruki kembali padaku.
"Ceritanya sangatlah panjang, aku akan menceritakan semuanya kepadamu, nii-chan," ucapku lagi kepadanya.
"Lupakan sejenak tentang itu. Yang ingin aku tanyakan, siapa dia?" Tanya Izumi, aku berbalik menatap ke arahnya.
"Ebe, apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku kepadanya saat dia telah meletakkan tangannya berpangku di lempengan es.
"Aku ingin mengantarmu, karena itu aku diam-diam mengikuti kalian," ucapnya dengan tetap mengarahkan pandangannya kepada Izumi.
"Lalu? Bagaimana dengan..." Ucapku, kugerakkan kepalaku mencoba mencari para duyung laki-laki.
"Aku sudah mengatakan, mereka tidak dapat berbicara menggunakan bahasa manusia, lagipun... Mereka tidak bisa keluar dari dalam air, berbeda denganku yang bisa bernapas di darat seperti kalian," ucapnya lagi tanpa menoleh ke arahku.
"Sachi," tukas Izumi menggerakkan kepalanya menoleh ke arahku.
"Dia temanku nii-chan, dia yang membantuku selama di dalam laut," ucapku menjawab tatapan Izumi.
"Begitukah?"
"Terima kasih karena telah membantu kedua adikku," ucap Izumi kembali berbalik menatap Ebe.
"Tampan sekali. Namamu? Apa kau telah menikah?" Tanya Ebe sekali lagi dengan sangat antusias, Izumi kembali mengarahkan pandangannya menoleh ke arahku.
"Ebe, aku pikir mereka telah menunggumu," ucapku dengan sebelah tangan menunjuk ke kanan tubuhnya.
"Tapi," ucapnya tertunduk.
"Apa kau, jatuh cinta pada Adikku Izumi?" Suara Haruki tiba-tiba terdengar, aku berbalik menatapnya yang mengarahkan pandangan ke arah Ebe.
__ADS_1
"Namanya, Izumi. Takaoka Izumi."
"Haruk..." Perkataan Izumi terhenti saat Haruki melirik ke arahnya.
"Apa kau tahu? Adikku Izumi menyukai perempuan yang dapat dia andalkan. Apa yang dapat kau lakukan untuk kami? Mungkin, adikku itu akan ikut jatuh cinta padamu," ucap Haruki kembali, matanya kembali menatapi Ebe.
"Haru nii-chan," ucapku pelan, kuangkat sebelah tanganku meraih lengannya.
"Aku tidak tahu, kapan Kaisar mengetahui keberadaan kalian. Akan tetapi, jika Kaisar mengetahui keberadaan kalian, sudah dipastikan bangsa kalian akan hancur oleh mereka," ucap Haruki tak menggubris perkataanku.
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Aku tidak tahu kalian mendengar tentang hal ini ataupun tidak. Akan tetapi, Kaisar... Pemimpin tertinggi di daratan sangat menyukai untuk menghancurkan kehidupan seseorang. Bahkan, satu-satunya mereka yang tertinggal dari bangsa peri ikut bersama kami untuk melawannya..."
"Kau ingin aku, mengajak seluruh bangsa duyung untuk membantu kalian? Begitu?"
"Kau termasuk pandai, jadi aku tidak akan membuang-buang waktu. Ada berapa banyak makhluk seperti kalian?"
"Aku ingin kau merayu mereka semua untuk membantu kami," ucap Haruki, kubalas tatapan Ebe yang melirik ke arahku.
"Apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan?"
"Sejujurnya, kami sedang berkeliling dunia untuk mencari sekutu. Kami, ingin memulai perang besar, kami ingin menghapus semua ketidakadilan yang Kaisar lakukan pada makhluk apapun," ucap Izumi yang juga tiba-tiba terdengar.
"Apakah, Kaisar yang kalian sebutkan itu benar-benar berbahaya?"
"Kaisar, membunuh semua Ibu kami," ucap Haruki menanggapi perkataan Ebe.
"Sachi?" Ungkap Ebe yang aku balas dengan anggukan kepala saat dia menatapku.
"Sebagai informasi untukmu, Kaisar memiliki hewan besar yang sama seperti Sachi. Kaisar juga, memiliki banyak sekali makhluk bukan manusia seperti kalian di bawah perintahnya. Kaisar, bahkan menghancurkan seluruh bangsa peri hanya untuk mengambil bunga kehidupan yang para peri itu rawat."
"Jika kalian, tidak ingin dunia ini berakhir. Maka satu-satunya cara yang harus dilakukan adalah menghancurkan mereka," sambung Haruki kembali kepada Ebe.
"Aku tidak mengerti, apa yang kalian katakan," ucap Ebe menatapi kami bergantian.
"Aku yang akan menjelaskan semuanya," suara Lux tiba-tiba terdengar, kugerakkan kepalaku menoleh ke belakang.
"Aku akan menceritakan semuanya," ucap Lux kembali, ia menggerakkan sayapnya terbang mendekati.
__ADS_1
"Eneas menunggumu. Terima kasih, karena kalian telah pulang dengan selamat," ucap Lux pelan saat dia terbang melewatiku.
"Ikan, dengarkan ceritaku baik-baik. Jika kau telah mendengarkan semuanya, bawa semua bangsa kalian untuk membantu kami berperang nantinya," ucap Lux bergerak terbang di hadapan Ebe.