
"Kita akan beristirahat di sini untuk malam ini," ucap Haruki berjalan mendekat.
"Baiklah," ucapku turun dari atas kuda saat Haruki meraih dan menggendong Cia.
"Aku akan meminta mereka untuk menyiapkan tenda kalian," sambung Haruki mengarahkan Cia kepadaku, kuraih dan kugendong Cia sembari aku mundur ke belakang saat dia menunduk meraih tali kekang kuda milikku.
"Berhati-hatilah, kita tidak tahu... Bahaya apalagi yang akan mengintai," ucapnya berjalan dengan menarik kuda milikku di belakangnya.
Aku berjalan dengan menggendong Cia mendekati Yoona yang telah turun dari atas kuda hitam yang ia naiki. Yoona berbalik berjalan ke arahku saat seorang laki-laki bawahan Jabari menarik kembali kuda hitam yang Yoona naiki sebelumnya.
"Kau tahu, rasa lelahku seakan sirna saat melihat rerumputan hijau ini," ucapnya mengarahkan pandangannya ke atas.
"Kau benar, bahkan di sini terasa lebih sejuk dibandingkan sebelumnya," ungkapku menurunkan Cia dari gendongan.
Aku menunduk saat kurasakan pakaian yang aku kenakan ditarik beberapa kali, kutatap Cia yang menatapku dengan sebelah tangannya menunjuk ke arah sungai. Aku berjongkok di hadapannya sembari kedua tanganku bergerak mengusap wajahku seperti seseorang yang tengah membasuh wajahnya beberapa kali...
"Apa kau ingin membersihkan tubuhmu?" Ucapku kembali mengulangi gerakan yang aku lakukan sebelumnya.
"Aku ke sungai dahulu untuk mengajaknya," ungkapku beranjak berdiri dengan menatap Yoona yang menganggukkan kepalanya.
Tubuhku berbalik melangkah dengan menggandeng kuat tangan Cia. Rumput-rumput tinggi yang ada di sekitar tampak bergoyang saat Cia menggerakkan tangannya menyentuh rumput-rumput tersebut...
Langkah kaki kami terhenti di samping Eneas yang juga sedang membasuh wajahnya di pinggir sungai. Aku berjongkok dengan menarik penutup kepala jubah yang Cia kenakan...
Sebelah tanganku bergerak menyentuh air, lalu ku sapukan telapak tanganku yang basah tadi menyapu wajah Cia. Eneas berbalik menatap kami, sebelah tangannya mengambil air sungai lalu dijatuhkannya air sungai yang ada di telapak tangannya tadi ke atas kepalanya Cia.
__ADS_1
"Menyegarkan bukan?" Ucap Eneas mengulangi perbuatannya kepada Cia.
"Nee-chan," ucapnya, kembali mengambil air sungai lalu diusapnya ke belakang lehernya.
"Ada apa?" Ucapku menggerakkan jari menyisir rambut Cia yang setengah basah oleh Eneas.
"Aku memikirkan hal ini sepanjang perjalanan," ucapnya, menoleh menatapku.
"Kau pernah mengajariku, jika salju atau es terbuat dari air bukan?"
"Kau benar," ungkap ku membalas perkataannya.
"Kenapa kau tidak menggunakan Kou? Maksudku, jika kau menggunakan Kou membuat es yang banyak... Kita mungkin tidak akan kekurangan air, dan mungkin tak akan ada yang mati selama perjalanan," ucapnya menatap lurus ke air sungai yang ada di hadapan kami.
"Kou, bukan makhluk yang dapat menciptakan es. Aku menyadarinya, saat dia belajar mengendalikan kekuatannya dulu," ucapku ikut menatap lurus ke air sungai yang sedikit riak.
"Kenapa aku tidak meminta bantuan Kou saat di sana. Karena uap air yang ada di sana sangatlah sedikit, jika pun Kou melakukannya... Lalu kita meminum es yang telah dicairkan menjadi air... Bukannya menghilangkan haus, udara di sana akan terasa lebih panas, dan tentu... Kita akan semakin haus lebih dari biasanya. Dan itu berarti, celaka untuk kita semua..."
"Lagi pun, menggunakan Kou membutuhkan banyak sekali tenaga dan aku, tidak sepenuhnya mempercayai mereka untuk mengetahui keberadaan Kou. Jika saja aku tak memikirkan mereka, aku lebih memilih terbang dengan Kou mengajakmu, Lux, Cia, Uki dan juga kedua Kakak kita pergi dari sini," ucapku kembali menundukkan kepala.
"Aku mengerti, kau memang menakjubkan nee-chan," ucapnya tersenyum menatapku.
"Kau pun, sama menakjubkannya. Lihatlah, betapa kau telah tumbuh sangat memukau sekarang," ucapku tersenyum menatapnya.
"Butuh waktu lama untukku menyadarinya," ucapnya beranjak berdiri, dia berbalik melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Menyadari? Menyadari apa?" Ucapku ikut beranjak berdiri menatapnya.
"Kenapa banyak sekali laki-laki yang jatuh cinta padamu, nee-chan," ucapnya berjalan tanpa menoleh ke belakang, diangkatnya telapak tangannya melambai beberapa kali ke arahku.
____________________
Haruki masih berdiri di hadapan Akintunde, lama ia berbincang dengan laki-laki itu sebelum ia berbalik melangkah mendekati kuda miliknya. Haruki menaiki kuda miliknya lalu menggerakkan kuda miliknya mendekati Yoona yang berdiri di samping kuda milikku.
"Maafkan aku Yoona, tapi seperti yang kau tahu... Cia, hanya ingin bersamaku. Aku tidak bisa membawamu berkuda bersamaku, karena aku juga memikirkan keadaan kuda milikku jika ia berjalan dengan beban yang banyak," ucapku merapatkan kedua telapak tanganku di hadapan.
"Dan seperti yang Kakakku katakan, kita tidak tahu bahaya apa yang akan ada nanti di perjalanan. Jadi sebisa mungkin, kita harus menghemat semua tenaga yang kita punya, lagi pun... Aku mana mungkin, membiarkanmu bergabung bersama mereka," ucapku menunjuk ke arah sekumpulan laki-laki yang duduk berbaris di atas gerobak kayu.
"Apa kalian telah selesai berbicara?" Ucap Haruki mengarahkan telapak tangannya ke arah Yoona, aku membalas tatapan Yoona dengan menggerakkan kepalaku agar ia segera meraih telapak tangan Haruki yang mengarah padanya.
Yoona berbalik lalu meraih telapak tangan Haruki, tubuhnya bergerak menaiki kuda yang Haruki tunggangi. Aku membalikkan pandangan ke arah para penduduk desa yang berbaris menatapi kami. Kugerakkan kepalaku mengangguk ke arah mereka yang dibalas dengan lambaian tangan dari beberapa perempuan yang ikut berbaris menatapi kami.
______________________
"Apakah masih jauh?" Ucap seorang laki-laki yang duduk di atas gerobak.
"Ke arah mana lagi kita selanjutnya?" Ucap laki-laki yang lainnya, digerakkannya kuda yang ia tunggangi berjalan di belakang kuda yang ditunggangi Jabari.
"Kita, hanya harus mengikuti arus sungai. Arus sungai seringkali berakhir di laut, jika kita mengikutinya... Kita akan lebih mudah menemukan laut, seperti itulah yang dikatakan Nona Sachi sebelumnya," ucap Jabari, laki-laki yang menunggangi kuda di belakangnya berbalik menatapku.
"Itu, satu-satunya cara tercepat kita menemukan lautan," ucapku membalas tatapannya.
__ADS_1
"Berhenti," ucap Jabari mengangkat sebelah tangannya, kuikuti pandangan matanya yang tertuju pada seekor buaya besar yang sedang diam tertidur di hadapan kami.