Fake Princess

Fake Princess
Takaoka Izumi (Side story') I


__ADS_3

Namaku Takaoka Izumi, Pangeran kedua dari Kerajaan Sora. Izumi sendiri yang memiliki arti air mancur, aku tidak tahu kenapa Ayahku memberikan nama ini padaku.


Usiaku? Dua musim yang akan datang, usiaku akan mencapai empat tahun. Aku mempunyai seorang kakak perempuan dan juga seorang kakak laki-laki, tapi lupakan mereka... Bagaimana kalian dapat menganggap seseorang sebagai saudara jika kalian sendiri tidak pernah bertemu dengannya, aku benar bukan?


Aku benci semua kebodohan yang dilakukan semua orang di Istana ini. Entah itu kebodohan yang dilakukan Ayahku sendiri dan juga kebodohan...


"I-zu-mi," terdengar suara perempuan disertai ketukan pintu berulang-ulang.


"Aku membawakanmu susu dan juga kue, apa kau ingin memakannya bersamaku?" ucapnya lagi.


"Sudah kukatakan berulang kali, aku tidak peduli jika kau menikah dengan Ayahku. Tapi berhentilah mencoba bersikap akrab padaku, itu menjijikan!" teriakku, kulempar buku yang tengah kubaca seraya berjalan mendekati ranjang.


"Tapi Ayahmu mengkhawatirkan kalian bertiga."


"Lalu temui saja Haruki atau Mari, jangan menggangguku."


"Aku akan meletakkan makanannya di depan pintu kamarmu, pastikan kau memakannya. Jangan lupa untuk sesekali keluar, atau matamu akan rusak jika terlalu lama membaca."


Benar-benar menyusahkan, semua orang di Istana ini benar-benar menyusahkan.


"Yang Mulia, bisakah aku masuk?"


"Masuklah," ucapku menjawab suara Tsutomu yang berasal dari luar.


"Aku menemukan semangkuk kue dan juga secangkir susu di depan kamarmu, Yang Mulia," ucapnya masuk seraya membawa sebuah nampan dengan sebuah mangkuk dan juga cangkir di atasnya.


"Apa Ratu yang memberikan ini untukmu Yang Mulia?" ucapnya lagi, mengangguk aku membalas ucapannya.


"Apa kau tahu Yang Mulia?" sambungnya seraya meletakkan nampan tadi di atas meja yang ada di sisi ranjang.


"Tentang apa?" tanyaku, kuambil sebuah buku yang aku susun di atas ranjang. Kubuka seraya kubaca buku bersampul merah tersebut.


"Saat Ratu membawakan makanan untuk Putri Mari, Putri Mari malah menumpahkan sup yang Ratu bawa ke atas telapak tangannya..."

__ADS_1


"Dan aku dengar, pagi-pagi sekali Ratu sudah berada di dapur. Dan kau tahu..."


"Membuat banyak sekali kue walaupun tangannya sendiri belumlah sembuh," sambung Tsutomu menatapku.


"Bagaimana dengan Haruki?"


"Hanya Tatsuya dan juga Ratu yang diperbolehkan bertemu dengannya, jadi aku pikir tidak ada masalah apapun di antara mereka."


"Lalu apa yang ingin kau lakukan disini?"


"Yang Mulia ingin mengajak anak-anaknya makan malam bersama-sama, jadi aku menemuimu untuk membantumu bersiap Yang Mulia."


"Aku tidak akan pergi," ucapku sambil tetap mengarahkan pandanganku membaca satu kalimat per kalimat yang tertulis di buku.


"Tapi..."


"Makan malam keluarga, dimana letaknya keluarga itu. Pergilah, aku ingin beristirahat!"


Berbalik Tsutomu seraya berjalan menjauh, dibukanya pintu kamarku lalu ditutupnya kembali. Kulirik tumpukan kue yang ada di sampingku, kuambil satu lalu kugigit perlahan...


_____________


Melangkah aku menyusuri Istana, aku ingin segera mengganti buku-buku yang telah aku baca dengan buku-buku baru di perpustakaan.


"Apa kau baik-baik saja? kau tidak perlu memaksakan diri."


Suara Ayah menghentikan langkah kaki, kudekati tubuhku semakin dekat dengan dinding kamarnya.


"Aku melakukan semuanya untukmu, kau merasakan kesepian bukan? Akupun ingin lebih mengenal anak-anak."


"Kaupun harus memikirkan dirimu sendiri, sekarang tubuhmu bukan hanya milikmu sendiri."


"Aku paham akan hal itu, tapi aku sangat-sangat ingin anak yang akan lahir ini mengenal kakak-kakak mereka."

__ADS_1


"Aku harus segera pergi."


"Tabib Istana memintamu untuk banyak beristirahat bukan?"


"Tapi ini sudah waktunya untuk mereka makan siang, aku akan memasakkan sesuatu untuk mereka bertiga."


Berbalik aku seraya berjalan kembali menuju ke kamarku, kuletakkan buku-buku yang aku bawa sebelumnya kembali ke atas meja. Melangkah aku mendekati jendela kamar seraya duduk disana...


"Izumi? Apa yang kau lakukan disini?"


"Apa kau tidak melihatnya? Aku sedang duduk mencari udara segar," ucapku balas menatapnya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau makan Izumi? Aku akan memasakkannya untukmu," ucapnya berdiri di sampingku.


"Nama?" ucapku mengalihkan pandangan darinya.


"Ardella, namaku Ardella," ungkapnya balas menatapku.


"Namamu aku telah mengetahuinya sejak lama. Maksudku nama adikku, apa kalian telah menyiapkannya?"


"Ayahmu telah menyiapkan nama untuknya. Jika yang lahir adalah laki-laki, ia akan diberi nama Ryuzaki yang berarti kuat dan tumbuh dengan baik, Ayah kalian berharap jika nantinya ia akan tumbuh kuat untuk melindungi kita semua..."


"Dan jika yang lahir adalah perempuan, ia akan diberi nama Sachi. Sachi yang berarti kebahagiaan, dengan harapan... ia akan membawakan kebahagiaan untuk kita semua," ucapnya tersenyum menatapku, diusapnya telapak tangannya ke perutnya.


"Izumi-kun," ucapnya lagi menatapku.


"Aku tahu jika aku adalah orang asing untuk kalian, tapi aku jatuh cinta pada Ayah kalian. Aku mungkin akan mati jika dulu ia tidak menolongku..."


"Tapi apakah kalian tahu, jika setiap malam Ayah kalian akan berkeliling mengunjungi kamar-kamar kalian bertiga hanya untuk memastikan anaknya telah tidur ataupun belum..."


"Aku tahu jika aku tidak pantas untuk mengatakannya, akan tetapi... Kumohon, jangan menghindar darinya. Ayah kalian merasakan kesepian tanpa kalian di sisinya, jika kalian selalu ada untuknya... mungkin tidak akan ada tempat untukku sekarang disini..."


"Harusnya aku bersyukur bukan?" ucapnya dengan suara bergetar, menunduk ia seraya menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Tapi aku tidak bisa melakukannya, hatiku menolak untuk melakukannya. Aku hanya ingin kalian berempat bahagia..."


"Maafkan aku, karena telah menganggap kalian seperti anakku sendiri."


__ADS_2