
Kepalaku kembali terbenam di dadanya saat aku mencoba menjauhkan wajahku darinya. “Lepaskan adikku,” aku menginjak kuat kaki Zeki saat suara Haruki lag-lagi terdengar.
“Kakak tetaplah kakak, pasangan tetaplah pasangan. Banyak sekali sesuatu yang tak akan bisa diberikan oleh seorang Kakak, jadi berhentilah bersikap kekanak-kanakan,” aku mencubit kuat pinggang Zeki ketika dia mengatakannya.
Jika kau ingin mati, matilah sendiri. Ya Tuhan, aku rindu saat-saat di mana, Naruuto menjadi suami khayalanku.
“Apa yang kau katakan?” Kali ini suara Izumi ikut terdengar bersamaan dengan suara benda yang bergeser.
Aku menarik napas dalam, kugenggam dengan kuat telapak tanganku lalu kupulkan di perut Zeki, “apa kalian tidak bisa berhenti?!” Tukasku, aku melirik ke arah Zeki yang telah berdiri dengan memegang pinggangnya.
“Nii-chan, apa kau benar-benar ingin menggunakan pedang itu?” Aku balik bertanya pada Haruki yang telah berdiri di sisi lain meja.
“Apa kau membela pasanganmu dibandingkan Kakakmu?”
Aku menoleh ke samping dengan mengangkat kedua tanganku yang mengepal, “aku tidak membela salah satu di antara kalian,” ucapku dengan kembali menatapnya.
“Padahal aku hanya mencium pasanganku sendiri, lagi pun … Ini bukan pertama kalinya kami melakukannya,” aku menundukkan kepala dengan kedua tangan yang saling menggenggam ketika mendengar Zeki mengatakannya.
Zeki … Kau, si-
“Apa yang dia maksudkan, Sa-chan?”
Aku mengangkat kembali wajahku lalu tersenyum menatapnya, “aku tidak perduli. Hanya beritahukan padaku saja nanti siapa yang mati di antara kalian,” ucapku berbalik lalu berjalan meninggalkan ruangan.
Aku menghentikan langkah di tengah Taman, kuangkat wajahku menatap langit diikuti helaan napas yang keluar dari bibirku, “sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran mereka, “ gumamku pelan sembari melanjutkan kembali langkah.
“Aku lelah sekali, aku akan beristirahat sejenak sebelum mempersiapkan keperluan,” ucapku pelan saat sudah tersadar berdiri di depan pintu kamar.
Aku membuka pintu kamar itu lalu masuk ke dalamnya, pintu kamar kembali tertutup sebelum langkah kakiku berjalan mendekati ranjang. Aku membaringkan tubuhku di sana dengan sesekali mengangkat sebelah tangan menutupi mulutku yang menguap.
“Ambil keperawanannya, minum darahnya, dan kau akan berumur panjang,” ucapku mengulangi perkataan yang dulu sempat dikatakan salah satu Kesatria Rhys.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang dimaksudkan oleh mereka? Apa Legenda yang mereka maksudkan itu nyata? Apa yang akan terjadi padaku jika rumor ini semakin tersebar? Apa ini ada hubungannya dengan komplotan penculik yang menculikku ketika di Yadgar? Ah, otakku rasanya ingin sekali meledak,” gumamku pelan dengan tetap menatap langit-langit kamar.
“Sebenarnya, makhluk apa yang memiliki mata hijau? Bahkan, di buku milik Haruki kemarin … Aku tidak menemukan apa pun,” sambungku dengan meletakkan kembali kedua tangan bersandar di kasur,
___________________
Kedua kakiku melangkah melewati pintu kamar mandi, aku berjalan mendekati ranjang … Menunduk dengan meraih sisir yang ada di dekatnya lalu menyisirkannya pelan di rambutku yang hampir mengering. Aku beranjak duduk bersandar di kepala ranjang dengan melirik ke arah lipatan pakaian yang aku bawa.
“Sachi, apa kau di dalam? Bolehkah aku masuk?” Aku mengangkat wajahku ke arah pintu kamar, saat suaranya terdengar beriringan dengan suara ketukan pintu.
“Masuklah,” ucapku sembari menunduk, mengusapi mata.
Pintu terbuka, lalu tertutup kembali diikuti suara langah kaki yang mendekat, “kau telah bersiap-siap?” aku menganggukkan kepala menatapnya dengan sedikit melirik ke arahnya yang berjalan mendekat.
“Apa kau baik-baik saja?” ungkapku menyentuh pipinya saat dia telah beranjak duduk di hadapanku.
“Apa wajahmu dipukul oleh salah satu di antara mereka,” ucapku lagi ketika jariku yang menyentuh pipinya tadi bergerak mendekati ujung bibirnya yang terluka.
“Berbicara?” Aku balik bertanya saat dia telah membaringkan tubuhnya di sampingku.
“Dia bertanya padaku, apa aku benar-benar serius dengan Adiknya, lalu aku menjawab … Aku sangat serius, aku bahkan tidak keberatan jika dipinta untuk langsung menikahimu.”
“Lalu?” Tanyaku kembali menatapnya.
“Dia, tidak ingin apa yang terjadi di antara dia dan Luana, terjadi pada kita. Selama Luana hidup, dia terlalu membatasi kehidupan Luana, dan itu menjadi penyesalan terbesar yang Haruki lakukan … Dia mengatakan, jika aku benar-benar mencintaimu … Aku haruslah menghormati keputusan yang kau pilih,” ucap Zeki dengan helaan napas yang ikut terdengar.
“Aku tahu, aku bukanlah laki-laki yang baik, dan jujur … Sudah tak terhitung, berapa kali aku berfantasi liar tentangmu setiap kali ada kesempatan. Akan tetapi, aku menghormatimu sebagai pasanganku karena itulah sebisa mungkin aku mengendalikan diri.”
“Aku sering melakukannya pada perempuan-perempuan tua yang membayarku dulu. Sebenarnya aku tidak ingin menyentuhmu dengan tubuh ko-”
“Zeki,” ucapku memotong perkataannya, “mendekatlah,” sambungku lagi dengan melirik ke arahnya.
__ADS_1
Zeki beranjak duduk tanpa bersuara, aku tertunduk lama sebelum memukul kuat wajahnya. “Kau, memukul wajahku?” Tukasnya dengan mengusap pipinya sebelum dia kembali menatap padaku.
“Itu untuk menyadarkanmu,” jawabku dengan menyilangkan lengan menatapnya.
Aku menarik napas dalam menatapnya, “Zeki, aku ingin mengakhiri hubungan kita, karena aku tidak bisa menerima masa lalumu. Apa itu yang kau inginkan?” Zeki terdiam dengan kedua matanya yang membesar sejenak menatapku.
“Aku tidak akan terpengaruh akan hal-hal semacam itu. Tapi, aku akan langsung membunuhmu jika kau melakukannya dengan perempuan lain selama kau menjadi pasanganku. Katakan, apa kau pernah melakukannya?” Ungkapku beranjak dengan hanya bertumpu pada lutut di hadapannya.
“Aku seorang Raja, apa kau lupa?” Tukasnya dengan kembali berbaring menatapku.
“Sama seperti Raja In-Su, aku seorang Raja muda yang tampan … Menurutmu, berapa banyak perempuan yang berharap untuk menjadi pasanganku.”
“Hah?” Tukasku dengan mengerutkan kening, membalas tatapannya.
“Aku tidak perduli,” ungkapku kembali mundur lalu bersandar duduk di kepala ranjang.
“Aku cantik, aku pandai dalam hal apa pun … Apa aku harus membalas surat Dante?” Gumamku dengan melirik ke atas.
“Sachi Bechir, ingatlah … Kau akan memakai nama tersebut kedepannya,” ungkapnya berbaring menyamping dengan bertumpu pada lengannya.
“Aku tiba-tiba jadi mengingatnya,” ucapku sembari menyelipkan rambut di telinga.
“Mengingat?”
“Aku jadi mengingat, jika cinta pertamaku bukanlah kau, Zeki. Semenjak kecil aku selalu menyukai Tsu nii-chan, aku bahkan selalu bermimpi untuk menikahinya ketika dewasa. Jika dipikir-pikir, Tsu nii-chan sama sekali tidak bertambah tua sedikit pun, dia tetaplah tampan sama seperti du-”
“Lanjutkan,” ucapnya memotong perkataanku, kedua mataku membesar tatkala wajahnya telah berada sangat dekat padaku.
“Jadi, apa kau tertarik pada kakak sekaligus pelayanmu itu?” Tanyanya, aku melirik ke arah dua tangannya yang ia letakkan di samping kanan dan kiri tubuhku.
“Jangan mengalihkan pandangan,” ungkapnya meraih daguku hingga aku kembali menatapnya, “jawab pertanyaanku, Darling,” sambungnya, diikuti wajahnya yang bergerak kian mendekati.
__ADS_1