Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXLVI


__ADS_3

"Apakah itu benar?" Ungkapku menghentikan langkah, kugerakkan tubuhku berbalik menatap Tsubaru yang berjalan mengikuti.


"Ada apa, Putri?" Ucapnya membalas tatapanku.


"Apa yang dikatakan Daisuke itu benar? Kalau banyak sekali orang yang ingin menculikku? Tapi, bukankah..." Ungkapku menghentikan perkataan sesaat.


"Kalian dulu mengatakan, jika rahasiaku dijaga dengan sangat baik. Maksudku, kalian dulu mengatakan jika hanya para bangsawan saja yang mengetahui semua tentangku," ucapku kembali menatapnya.


"Benar, semua yang dikatakan Kapten benar adanya."


"Sebelum kami sempat menahannya, berita tentang kepintaran Putri tersebar. Yang Mulia, bahkan menambahkan jumlah Kesatria yang berjaga di perbatasan. Semua kabar ditutupi dari Putri, karena Yang Mulia sendiri... Tidak ingin Putri mengkhawatirkannya," sambungnya padaku.


"Begitukah? Banyak sekali yang tidak aku ketahui selama ini," ungkapku membalikkan tubuh berjalan meninggalkannya.


Dadaku, entah kenapa terasa sesak mendengarnya.


Harusnya aku bersyukur bukan? Itu berarti mereka benar-benar memperdulikan aku. Tapi, aku merasa kecewa... Saat mereka selalu dan selalu menyimpan kebenaran dariku.


Aahh serakah sekali kau Sachi.


___________________


"Sa-chan, apa kau di dalam?" Terdengar suara pelan Haruki diiringi ketukan pintu yang juga terdengar pelan.


Kugerakkan kedua mataku berkedip beberapa kali diiringi rasa kantuk yang masih menyelimuti. Suara ketukan tersebut mengusik tidurku... Aahh aku benar-benar ingin tidur kembali.


Aku beranjak duduk, kugerakkan kedua telapak tanganku mengusap-usap wajah, sesekali jari-jemariku itu bergerak menyusuri sudut mataku. Telapak tanganku bergerak menggaruk-garuk pelan belakang leherku saat ketukan pintu tersebut kembali terdengar.


Helaan napas yang kuat keluar dari dalam bibirku, kugerakkan tubuhku beranjak berdiri meninggalkan ranjang. Kedua kakiku melangkah mendekati pintu, dengan sangat pelan pintu tersebut terbuka...

__ADS_1


"Ada apa nii-chan?" Ungkapku menatapnya yang berjalan masuk saat pintu tersebut terbuka.


"Apa kau telah mendapatkan kabar dari mata-matamu itu? Maksudku, ini sudah hampir sepekan sejak Tsubaru dan yang lainnya datang," ungkapku mengikuti langkahnya duduk di kursi yang ada di depan meja riasku.


"Maksudmu ini," ucapnya menggerakkan telapak tangannya merogoh ke dalam pakaian yang ia kenakan.


"Surat?" Tukasku meraih gulungan kertas yang ia arahkan padaku.


Kugerakkan jari-jemariku membuka gulungan kertas kecil tadi, kode huruf yang Haruki ciptakan benar-benar membuatku terpaku beberapa saat dulu. Bahkan akupun, mengakui kepintaran yang ia miliki...


"Angin tenang, badai kembali meredam," ucapku mengarahkan pandangan kembali pada Haruki saat tulisan di kertas itu kubaca.


"Angin itu, Kerajaan kita bukan? Apakah ini berarti..."


"Kau benar. Bagaimana menurutmu?"


"Itu Izumi, aku merasakannya... Buka saja pintunya," ikut terdengar pelan suara Lux, kepalaku berbalik menatapnya yang masih berguling di atas bantal dengan mata yang kembali terpejam.


"Aku akan membukanya," ucapku kembali menatap Haruki, aku beranjak berdiri dan berjalan meninggalkannya.


"Siapa?" Ucapku pelan, suasana di sekitar menghening sesaat.


"Ini aku, Izumi," ucap suara dari balik pintu tersebut yang terdengar pelan.


Tangan kananku bergerak membuka pintu, Izumi berjalan masuk saat pintu tersebut bergerak sedikit terbuka. Kututup kembali pintu tersebut seraya berbalik jalan mengikuti langkahnya.


"Apa terjadi sesuatu?" Ucapnya menggerakkan tubuh duduk di pinggir ranjang.


"Kau membaca pesan yang aku tinggalkan?" Ungkap Haruki menatapnya, Izumi mengangguk beberapa kali membalas tatapannya.

__ADS_1


"Sa-chan, berikan gulungan kertas tadi padanya," sambung Haruki mengalihkan pandangannya menatapku, kuarahkan telapak tanganku yang masih menggenggam gulungan kertas tadi ke arah Izumi seraya kugerakkan tubuhku duduk di sampingnya.


Lama Izumi menatap gulungan kertas tersebut, diarahkannya kembali gulungan tadi kepada Haruki seraya diangkatnya kepalanya menatap Haruki. Lama kami terdiam bahkan sepatah katapun tak keluar dari bibir mereka...


"Jadi apa yang akan kita lakukan?" Ungkap Izumi membuka pembicaraan, tubuhnya bergerak berbaring di atas ranjang dengan kedua lengan menyentuh bagian belakang kepalanya.


"Aku tidak masalah jika kita menghabiskan waktu disini sedikit lebih lama. Hanya saja, aku sudah tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Kita telah menghabiskan enam tahun untuk membantu Dante dulu," ucap Haruki terhenti.


"Tapi kita tidak menyia-nyiakan waktu disana, kita membuat mereka menjadi kuat seperti sekarang, tidak lebih dan tidak bukan untuk membantu Kerajaan kita..."


"Jadi, bagaimana? Apa yang akan kita lakukan?" Sambung Izumi kembali kepada Haruki.


"Ayah mengirim mereka bertiga ke sini benar-benar diluar dari yang aku pikirkan. Aku meminta bantuan, karena aku ingin kita bisa pergi dari sini dan melanjutkan perjalanan, bukannya menghambat perjalanan kita," ucap Haruki memijat-mijat pelan kepalanya.


"Kalian ingin aku menggunakan Kou untuk lari dari sini?" Tukasku menatap mereka satu persatu.


"Daisuke pasti akan langsung mengetahuinya," ucap Haruki membalas tatapanku.


"Setiap kali kau memanggil Kou, udara di sekitar akan langsung membeku. Berhubung kami sudah sedikit terbiasa, jadi kami tak terlalu terpengaruh. Tapi bagi mereka yang belum pernah atau mungkin baru pertama maupun kedua pertemuan..."


"Mereka akan langsung menggigil oleh udara di sekitar Kou. Apa kau ingat Egil tempo malam?" Ucapnya kembali padaku.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Tukasku balas menatapnya.


"Kalian ribut sekali, aku ingin mencoba tidur saja... Tidak bisa memejamkan mata," ucap Lux, kugerakkan kepalaku menatapnya yang telah terbang duduk di atas perut Izumi.


"Kalian ingin kabur bukan?" Ungkap Lux kembali, digerakkannya kedua tangannya mengusap-usap kepala dan wajahnya.


"Jika itu yang kalian inginkan, serahkan semuanya padaku. Aku akan membantu kalian, keluar dari Kastil ini dengan sangat mudah," sambungnya diiringi mulutnya yang menguap beberapa kali dibalik telapak tangannya.

__ADS_1


__ADS_2