Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXIII


__ADS_3

"Siapa saja, tidak bisakah kalian menukar tempat duduk kalian denganku," tangis Julissa terdengar, berusaha aku melihatnya namun tertutup oleh tubuh kedua Kakakku.


"Kemarilah Julissa," ikut terdengar suara Izumi, kualihkan pandanganku padanya yang telah beranjak berdiri lalu berjalan sedikit menjauh.


"Terima kasih Kak Izumi," ucapnya sesenggukan, kutatap ia yang berjalan dengan kedua lengan diusapnya di kedua matanya.


"Apa kau baik-baik saja?" ucap Adinata, kutatap dia yang tengah menuangkan air ke dalam cangkir seraya diarahkannya cangkir tadi ke hadapannya.


"Aku takut sekali, bagaimana jika pisau tadi tertancap di kepalaku," sambung Julissa, kupandangi tangannya yang meraih cangkir di tangan Adinata.


"Katakan padaku, apa maksudmu melempar pisau ini ke arahku?" terdengar suara Aydin, menoleh aku menatap pisau kecil tadi telah bergoyang di telapak tangannya.


"Apa aku masih belum terlalu jelas mengatakannya? Pisaunya bergerak sendiri dari tanganku," sambung Zeki, kualihkan pandanganku padanya yang masih menatapi Aydin.


"Kau-"


"Sudah, sudah... Lupakan tentang jamuan, bagaimana jika aku mengajak kalian berkeliling ke perkebunan yang ada di belakang Istana kami," ucap Adinata memotong perkataan Aydin, kutatap ia yang tengah merentangkan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri tubuhnya.


"Aku bahkan tidak bisa menelan makananku kembali," ikut terdengar suara Izumi yang menyertai, kualihkan pandanganku pada Haruki yang tertunduk menahan tawa di sampingku.


"Baiklah, ikuti aku semuanya," ucap Adinata kembali, kualihkan pandanganku padanya yang telah beranjak berdiri.

__ADS_1


Ikut berdiri aku di samping Haruki, kulingkarkan tanganku ke lengannya seraya ikut berjalan aku mengikuti langkah yang lainnya. Aku tidak berani menoleh ke belakang, aura membunuh yang terpancar benar-benar membuatku bergidik...


Adinata membawa kami ke sebuah lapangan luas penuh pepohonan beraneka ragam, kualihkan pandanganku pada Danurdara yang mengangkat sebelah telapak tangannya ke arahku, digerakkannya telapak tangannya tadi seakan memintaku untuk mendekatinya...


Kulepaskan pegangan tanganku pada Haruki sembari melangkah aku mendekati Danurdara. Berbalik dan berjalan ia mendekat ke salah satu pohon sembari ikut kulangkahkan kakiku mengikutinya...


"Co-cobalah i-ini, bu-buah i-ini na-namanya du-duku. Ka-kau be-belum pe-pernah me-melihatnya bu-bukan?" ucapnya ke arahku, kualihkan pandanganku pada sebuah benda kecil bulat berwarna cokelat muda di telapak tangannya.


Kuraih buah bulat tadi, kutatap Danurdara yang kembali memetik buah tersebut di atas pohon yang ada di sampingnya. Lama kupandangi ia yang masih mengupas buah tadi lalu memakannya, beralih kutatap buah yang ada di tanganku seraya kukupas dan kumakan buah tadi seperti yang dilakukan Danurdara sebelumnya.


"Ini manis Danur, aku tidak tahu jika Kerajaan kalian punya banyak sekali buah yang belum pernah aku lihat sebelumnya," ucapku seraya kembali memuntahkan biji kecil buah tadi yang ada di dalam mulutku.


"Be-benarkah?" ucapnya yang kubalas dengan anggukan kepala.


"Mu-mungkin be-besok a-atau lu-lusa di-dia sa-sampai ke-ke si-sini."


"Ta-tapi a-aku ti-tidak ta-tahu ji-jika di-dia a-akan me-menerimaku a-atau ti-tidak. Ka-kau ta-tahu se-sendiri bu-bukan? Ji-jika be-berbicara sa-saja a-aku ti-tidak la-lancar," ucapnya lagi tertunduk.


"Lihat aku!" ungkapku, kuarahkan kedua telapak tanganku di kedua pipinya.


"Kau seorang Pangeran, kau tampan bahkan pintar. Jangan melihat satu kelemahan tapi lihatlah banyak kelebihan yang kau miliki..."

__ADS_1


"Apa kau tahu? Aku tidak akan menjalin pertemanan dengan seseorang yang aku anggap tidak berguna. Kau temanku, dan aku bersyukur jika kaulah yang menjadi rekanku memanah enam tahun yang lalu. Karena itu Danur, kau teman yang berharga untukku... Jangan merendahkan dirimu sendiri seperti itu, kau membuat hatiku sakit mendengarnya," ucapku lagi menatapnya.


"Ka-kau ti-tidak be-berubah se-sedikitpun," ucapnya tersenyum menatapku dengan mata berkaca-kaca.


"Apa yang kalian berdua lakukan? Kemarilah!" terdengar suara teriakan, menoleh aku ke arah mereka semua yang menatapi kami.


Kulepaskan pegangan tanganku di pipi Danurdara, melangkah aku bersamanya mendekati mereka. Kulangkahkan kaki mendekati Haruki seraya kembali kurangkul lengannya seperti sebelumnya.


"Hime-sama, terima kasih," bisik laki-laki di samping telingaku, menoleh aku ke arah Adinata yang telah berjalan melewati.


Melangkah kembali kami menyusuri perkebunan, langkah kaki kami terhenti bersamaan dengan terhentinya langkah kaki Adinata. Melangkah ia mendekati seorang laki-laki yang tengah mencabuti rumput di depan kami.


Ditepuknya pundak laki-laki tadi olehnya, menoleh dan langsung membungkuk laki-laki tadi di hadapannya. Kutatap Adinata yang tengah berbicara dengannya seraya menunjuk ia ke arah belakang laki-laki tadi, kualihkan pandanganku pada laki-laki tersebut yang mengangguk lalu beranjak pergi meninggalkannya.


Berjalan kembali Adinata mendekati kami, diangkatnya kembali jari telunjuknya ke sebuah gubuk yang berada tidak terlalu jauh di samping kami. Kembali ia melangkah mendekati gubuk tadi seraya sebelah tangannya diangkat dan dilambaikannya untuk kami mengikutinya...


Kugenggam telapak tangan Haruki seraya melangkah aku menaiki gubuk tanpa dinding tersebut. Haruki menarik tanganku untuk duduk di dekatnya, ikut kurasakan angin semilir menimbulkan suara gesekan dari dedaunan yang tumbuh di sekitar kami.


Kualihkan pandanganku pada laki-laki yang sebelumnya berbincang dengan Adinata, tampak terlihat sebuah pisau besar berada di genggamannya sedangkan sebuah benda bulat penuh duri berwarna sedikit kuning di tangan yang satunya...


Naik ia ke atas gubuk mendekati kami seraya diletakkannya benda tadi di tengah-tengah kami. Menoleh ia ke arah Adinata, kutatap Adinata yang mengangguk ke arahnya. Laki-laki tadi merangkak mundur lalu berbalik pergi menjauhi kami.

__ADS_1


Maju Adinata mendekati benda yang berukuran sedikit besar itu. Kualihkan pandanganku pada Izumi yang juga merangkak mendekati, mataku tertegun menatap Izumi yang langsung membuang pandangan dengan sebelah tangannya menutupi hidung.


"Kemarilah, aku ingin kalian mencicipi buah ini. Ini pertama kalinya untuk kalian bukan? Melihat buah Durian seperti yang ada di hadapanku sekarang," ucap Adinata seraya menatapi kami satu-persatu.


__ADS_2