Fake Princess

Fake Princess
Chapter DIV


__ADS_3

Kuda kami berjalan beriringan dengan kuda Izumi berjalan di depan kami sedangkan kuda Haruki berjalan di samping. “Apa yang ingin kita beli? Apa ada yang ingin kalian makan?” tanya Izumi diikuti kepalanya yang berusaha menatap ke belakang.


“Apa ada yang ingin kau makan?” Haruki ikut menimpali perkataan yang Izumi ucapkan.


Aku menoleh ke arahnya diikuti bola mataku yang sedikit melirik ke atas, “aku lapar sekali sekarang. Jadi aku ingin memakan sesuatu yang mengenyangkan,” ucapku dengan kembali menatap Haruki.


“Baiklah, kita cari sesuatu yang sangat-sangat mengenyangkan ketika memakannya,” timpal Izumi, dia tetap menunggangi kudanya tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.


Kudaku terus berjalan, membelah kerumunan warga yang memenuhi pasar. Di antara mereka ada yang memakai pakaian biasa seperti yang dipakai oleh banyak orang di luar Kerajaan, sedangkan beberapa yang lain ada yang memakai Yukata tanpa corak. Aku melirik ke arah Haruki yang mengangkat jari telunjuknya mendekati bibir dengan pandangan matanya yang mengarah ke salah seorang laki-laki yang terlihat seperti mengenal kami.


Laki-laki itu menutup mulutnya dengan kedua matanya yang melirik ke kanan dan ke kiri bergantian sebelum dia membungkukkan tubuhnya. “Apa nii-chan mengenalnya?” tanyaku yang membuatnya berbalik menatapku.


Haruki menggelengkan pelan kepalanya, “aku tidak mengenalnya. Kemungkinan dia pernah melihat kita di Ibukota Kerajaan,” ungkap Haruki dengan kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


Kami terus berjalan dan terus berjalan menyusuri jalan hingga Izumi menghentikan langkah kudanya, “ada apa, Izumi?” tanya Haruki yang juga telah menghentikan langkahnya di sampingku.


Izumi kembali menoleh ke belakang, “sepertinya mereka telah menemukan tempat yang akan kita tinggali,” ucap Izumi sebelum dia kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


Aku sedikit memiringkan tubuh ke samping, pandangan mataku terjatuh kepada Tsutomu yang menunggangi kudanya dengan cepat ke arah kami. “Yang-” ucap Tsutomu terhenti, dia menarik tali kekang kuda miliknya hingga kuda yang ia tunggangi itu berhenti cepat di depan kami.


“Kami telah menemukan rumah untuk Yang … Kita tinggali,” sambung Tsutomu yang sebelumnya sempat terhenti sejenak.


“Tuntun kami ke sana, Tsutomu!” perintah Izumi yang langsung dibalas anggukan pelan dari Tsutomu.


Tsutomu mengarahkan kudanya berbalik membelakangi kami sebelum dia membawa kuda tersebut berjalan maju meninggalkan. Aku ikut menggerakkan kudaku saat Izumi yang berada di depan telah lebih dulu membawa jalan kudanya. Sesekali aku melirik, ke arah beberapa orang yang terlihat menatap aneh ke arah kami, bahkan beberapa perempuan yang berdiri di samping jalan juga turut menatap ke arah kami terus-menerus.

__ADS_1


Kudaku kembali berhenti di hadapan Tsubaru yang telah menunggu di depan sebuah rumah kayu tanpa pagar yang tak terlalu jauh dari pasar. Aku bergerak turun dari atas kuda sembari memberikan tali kekang kudaku ke atas telapak tangan Tsubaru yang mengarah kepadaku. “Bagaimana dengan Ryu? Apa dia baik-baik saja?” tanyaku kepada Tsubaru yang telah menggenggam tali kekang kuda milikku itu di tangannya.


“Dia baik-baik saja, Putri. Dia sedang bersama Eneas dan juga Lux di dalam,” ucap Tsubaru yang disertai anggukan kecil darinya.


“Apa ada yang ingin Putri makan malam ini?”


“Aku ingin sekali Ikayaki, aku tidak sengaja melihat seorang pedagang menjualnya … Bisakah aku mendapatkannya?” tanyaku dengan kembali menatap Tsubaru.


Tsubaru menganggukkan kepalanya. “Terima kasih,” ucapku, aku tersenyum menatapnya sebelum melangkah pergi meninggalkannya.


Aku berjalan masuk ke dalam rumah, langkah kakiku terhenti lalu duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja kecil penuh makanan. “Apa kau ingin kubantu, Lux?” tanyaku dengan menatapnya yang tengah mengangkat potongan kecil Apel dari atas piring di hadapannya.


“Tidak perlu. Aku sudah berniat untuk menghabiskannya karena perutku sendiri sudah sangatlah lapar,” ucap Lux yang memegang potongan apel itu dengan kedua tangannya sebelum dia mendekatkan wajahnya ke apel tadi.



“Dia baru selesai mandi, lalu tiba-tiba sudah tertidur pulas tanpa memakan apa pun. Selama di Istana, kami mencoba untuk membuat racun baru yang kuat, dia belum tidur nyenyak sejak saat itu,” tukas Lux, aku kembali menoleh ke arahnya yang masih lahap mengunyah buah apel tersebut.


“Mereka telah menyiapkan cemilan?”


Aku menoleh ke belakang, ketika suara Izumi terdengar diikuti langkah kaki yang berjalan mendekat. Izumi berjalan melewati kursi yang aku duduki lalu duduk di kursi yang ada di samping Eneas, “Eneas!” panggil Izumi dengan menepuk-nepuk lengannya.


“Tidur di kamarmu. Lehermu akan sakit jika tidur seperti itu,” ucap Izumi lagi saat kedua mata Eneas perlahan terbuka.


“Pindah ke kamarmu, Eneas! Jangan tidur di kursi,” timpal Haruki yang berjalan melewati kami semua.

__ADS_1


“Tatsuya! Siapkan air hangat untukku mandi! Lux, apa Tatsuya mengatakan di mana kamarku?” tukas Haruki, dia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah kami.


“Lantai dua, kamar kedua dari tangga,” ucap Lux dengan kembali melahap apel yang ada di tangannya.


Haruki kembali berjalan saat Lux telah selesai mengatakannya. “Lihatlah, padahal usianya sudah dua puluh tiga, tapi dia masihlah sangat manja terhadap Tatsuya.”


“Bukankah kau pun sama Izumi? Tsutomu, airnya terlalu panas untukku! Bahkan suaramu terdengar jelas saat aku dan Eneas berjalan di depan kamarmu,” cibir Lux menimpali ucapan Izumi.


“Aku saat ini sangatlah lapar, Lux. Walaupun kau tidak akan membuatku kenyang, tapi setidaknya … Ada sesuatu yang bergerak masuk ke dalam kerongkonganku, sudah lebih dari cukup untukku.”


“Maka telan saja air ludahmu sendiri, itu sama saja, bukan?” tukas Lux yang lagi-lagi bersuara.


“Dia memang sudah seperti itu sejak pagi. Aku bahkan sudah memiliki niat untuk menenggelamkannya ke dalam racun,” tukas Eneas, aku menatap ke arahnya yang membenarkan posisi duduknya sebelum meraih beberapa butir anggur di atas meja.


“Apa terjadi sesuatu kepadamu, Lux?” Aku membuka perkataan, masih kutatap Lux yang sempat berhenti mengunyah sebelum dia mendekatkan kembali apel yang ada di tangannya itu ke wajahnya.


“Lux, jangan berpura-pura untuk tidak mendengar perkataanku,” tukasku sekali lagi, Lux diam sejenak sebelum dia meletakkan potongan apel tadi ke hadapannya.


“Sebenarnya, siapa dia? Maksudku, Ryu … Aku,” tukas Lux terhenti, dia masih tertunduk diam belum mengeluarkan suara apa pun lagi.


“Lux?”


“Aku merasakan sihir dari Robur Spei darinya. Memang sedikit, tapi sebagai Peri … Aku bisa merasakannya,” sambung Lux dengan mengangkat wajahnya menatapku, “Sachi, apa kau-”


Lux kembali tertunduk, perkataannya terhenti ketika suara langkah kaki terdengar. “Kakak, kalian sudah kembali?” Aku mengangkat wajahku, menoleh ke arah Ryuzaki yang muncul dari balik tangga, melangkahkan kakinya mendekati kami.

__ADS_1


__ADS_2