Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXVII


__ADS_3

“Sachi, apa kau baik-baik saja?” Suara Izumi terdengar saat sentuhan di pundakku itu kembali terasa.


“Nii-chan,” ucapku, keningku yang menyentu tanah terasa sedikit sakit saat batu-batu kecil yang ada di sana ikut menyentuh kepalaku.


“Apa kau bisa berdiri?” Tanyanya diikuti kedua telapak tangannya kembali menyentuh kedua pundakku.


“Punggungku, punggungku terasa sangat sakit nii-chan,” Ungkapku seraya kuarahkan kedua telapak tanganku menyentuh pundak sebelah kanannya.


Izumi mengarahkan sebelah lengannya melingkar di pahaku, diangkatnya tubuhku itu hingga perutku menyentuh pundak kanannya. Izumi berjalan membawaku yang ada di pundaknya itu menyusuri jalan yang dipenuhi oleh rumah-rumah warga. “Nii-chan,” ucapku sedikit melirik ke arahnya.


“Diamlah, aku akan membawamu mengunjungi Ayah,” ucapnya kembali sembari terus melangkahkan kakinya menggendongku di pundaknya.


“Aku bertemu Tsubaru tadi , apa nii-chan juga bertemu Tsutomu?” Aku membuka suara, berusaha memecah keheningan yang ada di sekitar kami. “Aku bertemu dengannya, sebenarnya aku sedang bersamanya dan juga Tatsuya menyusul Haruki, akan tetapi … Ketika di perjalanan, kami melihat kuda Tsubaru yang berjalan sendirian.”


“Karena itu, kau langsung menemukanku?” Aku kembali bertanya kepadanya, Izumi berdeham menjawab pertanyaanku itu.


“Apakah kau mengenal laki-laki tadi?” Izumi balik bertanya kepadaku. “Dia salah satu pemimpin pasukan musuh yang menyerang benteng utama. Aku pikir, dia tidak menyukaiku karena aku menghancurkan pasukan yang ia pimpin,” ucapku membalas perkataannya.


“Bodoh, bagaimana dia bisa menyukaimu jika kau saja menjadi musuhnya,” ucap Izumi, aku kembali melirik ke arah belakang telinganya.


“Nii-chan,” ucapku masih melirik ke belakang lehernya, “terima kasih sudah menyelamatkanku,” sambungku kembali padanya.


“Sudah kewajiban seorang Kakak untuk selalu melindungi adiknya,” ucapnya yang terdengar pelan di telingaku.


“Ayah!” Izumi berseru dengan sangat lantang di sampingku.


“Apa yang terjadi kepada kalian?” Suara Ayahku terdengar diikuti derap langkah kaki kuda yang berjalan mendekat.


Izumi memutar tubuhnya, kutatap Ayahku yang duduk di atas kuda miliknya lengkap dengan baju zirah keemasan yang ia kenakan, “Ayah,” ucapku membalas tatapannya, kuda yang ia tunggangi berjalan maju mendekati kami.

__ADS_1


“Salah satu pemimpin pasukan musuh menginjak punggungku menggunakan kuda miliknya,” ucapku menatapnya saat dia telah berjalan turun dari atas kudanya ke arahku. “Kazuya!” Ayahku meninggikan suaranya dengan menggerakan kepalanya menatap Kazuya.


Kazuya membawa kudanya mendekati kami, lama ditatapnya aku dengan kedua matanya yang terlihat bebinar, “Yang Mulia,” ucapnya dengan membungkukan tubuhnya dari atas kuda miliknya ke arah Ayahku.


“Bawa sampah yang telah melukai Putriku itu ke hadapanku sekarang juga!” Perintah Ayahku dengan nada suaranya yang telah berubah, “aku telah membunuhnya Ayah. Tidak perlu melakukannya,” Izumi kembali membuka suaranya.


“Jika begitu, bawa mayatnya. Potong menjadi kecil-kecil lalu berikan kepada Anjiing liar,” ucap Ayahku kembali, “Ayah,” Izumi kembali bersuara di belakangku.


“Apa Ayah tidak merasa kasihan kepada pundakku?” Ungkapnya kembali, “kau menyebalkan sekali nii-chan,” ucapku, kuangkat telapak tanganku memukul punggungnya.


“Ayah akan menggendongnya, turunkan dia dari pundakmu,” ucap Ayahku berjalan semakin mendekati kami.


Izumi menurunkan tubuhku sangat perlahan dari pundaknya, aku berbalik dengan sebelah tanganku menyentuh pelan punggungku. Kutatap Ayahku yang telah berlutut di hadapanku, “apa yang Ayah lakukan?” Tanyaku, Ayahku menggerakan kepalanya mendongak ke atas menatapku.


“Baringkan tubuhmu di pundak Ayah, luka di punggungmu akan semakin parah jika tidak berhati-hati,” ucap Ayahku mengarahkan telapak tangan kanannya ke arahku.


“Biarkan saja, aku bahkan merasa takjub jika dia sekarang telah bisa menaiki kuda yang sama denganku,” ucap Ayahku sambil terus membawaku berjalan di pundaknya.


“Aku tidak menyangka, jika Ayah sendiri yang langsung menolong kami,” ucapku kembali, kugerakan tangan kiriku melingkar di lehernya.


“Aku pun tidak menyangka, jika Putri kecilku memimpin pasukan bahkan benteng yang ia jaga hampir tidak mengalami kerusakan yang berarti,” ungkapnya terdengar di telingaku. “Itu karena kepintaran Ayah dan juga Kakakku menular di kepalaku,” ucapku membalas perkataannya.


“Tapi kalian, memiliki kebaikan hati yang sama seperti Ibu kalian.”


“Tapi kami, dirawat dan dididik oleh seorang Ayah yang baik hatinya juga. Karena itulah, kami semua bisa seperti ini berkatmu Ayah … Terima kasih,” ucapku menggerakan wajahku mencium rambut yang ada di belakang kepalanya.


______________


Kedua mataku terbuka perlahan, kugerakan kedua mataku berusaha mengusir pandangan mengabur yang memenuhi kedua mataku. “Kau sudah bangun?” Suara Izumi kembali terdengar, kugerakan kepalaku ke kanan tapi tak menemukan siapa pun, aku hanya menemukan Haruki yang tertidur lelap di samping kiri tubuhku.

__ADS_1


“Haru…”


“Jangan membangunkannya, dia baru saja tertidur menjagamu,” suara Izumi kembali terdengar, kali ini kugerakan kepalaku ke samping kanan, menatapnya yang telah duduk di kursi yang ada di samping ranjang menatapku.


“Kenapa aku bisa ada di sini? Aku hanya mengingat saat Ayah menggendongku di pundaknya,” ucapku kepadanya, aku mencoba menggerakan tubuhku yang berbaring terlungkup di atas ranjang menggunakan kedua tanganku.


“Jangan melakukannya. Kau tiba-tiba tak sadarkan diri ketika Ayah menggendongmu. Dan Lux yang merawat seluruh luka di tubuhmu,” ucapnya menatapku.


“Aku benar-benar tidak mengingatnya. Lalu, bagaimana dengan perang?” Aku kembali bertanya kepadanya.


“Tidak perlu mengkhawatirkannya, Ayah sekarang sedang mengurus mereka semua, entah apa yang akan dilakukan Ayah kepada mereka … Mungkin Ayah akan langsung mengeksekusi para pasukan musuh yang tertangkap tersebut, atau menjadikan mereka sebagai budak Kerajaan Sora,” ucap Izumi menyandarkan tubuhnya di punggung kursi yang ada di belakangnya.


“Jadi kita menang?” Aku kembali bersuara, Izumi menganggukan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun padaku.


“Bagaimana dengan keadaan para pasukan kita?”


“Kita kehilangan banyak sekali pasukan, terutama mereka yang berjaga di benteng Selatan,” ucap Izumi kembali, dia mengarahkan pandangan matanya ke atas diikuti embusan napas yang ia keluarkan.


“Pasukan yang terluka pun sama banyaknya. Aku hampir lupa menyampaikannya, pasukan yang kau pimpin tak henti-hentinya menanyakan keadaanmu, aku akan mengabari mereka jika kau sudah sadar kembali,” ucapnya kembali padaku.


“Aku benar-benar tidak menyangka jika kita berhasil melakukannya,” ungkapku, kugerakan wajahku terbenam di kasur yang ada di ranjang.


“Aku sudah sedikit bisa menebaknya, karena Tao terlihat kuat di luar tapi lemah di dalam. Maksudku, perebutan kekuasaan di antara para pewaris tahkta … Dan, sebenarnya aku baru mengetahui ini dari Arata siang tadi.”


“Aku tidak paham apa yang kau katakan nii-chan?”


“Apa kau ingat laki-laki yang menyerangmu hingga kau terluka seperti sekarang ini?” Izumi kembali membuka suaranya, kubalas perkataannya tersebut dengan anggukan pelan.


“Sebenarnya aku dan Arata membawa mayat laki-laki tersebut sesuai perintah yang Ayah berikan, Arata mengenali laki-laki tersebut dan mengatakan jika dia adalah Putra Mahkota Kerajaan Tao, sebelum posisinya tersebut direbut oleh Adiknya sendiri,” ucap Izumi mengangkat kedua tangannya menyilang ke dada, kutatap dia yang mulai perlahan memejamkan kedua matanya itu.

__ADS_1


__ADS_2