Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXC


__ADS_3

"Sudah kukatakan bukan nii-chan, aku memiliki Kou," ucapku menggenggam tangannya yang memegang lenganku.


"Aku akan baik-baik saja," ucapku kembali saat genggaman tangannya di lenganku terlepas.


Aku berjalan meninggalkan Haruki, langkahku terhenti lalu duduk berjongkok di hadapan kedua perempuan tadi. Mereka masih bersujud dengan kedua tangan menutupi kepala mereka, pandangan mataku beralih pada laki-laki paruh baya tadi yang telah duduk terdiam menatapku...


Pandanganku kembali tertuju kepada dua orang perempuan tadi, kuarahkan telapak tanganku menyentuh lengan perempuan paruh baya tersebut. Tubuhnya sedikit terhentak lalu semakin meringkuk ketika aku melakukannya...


"Tidak perlu takut," ucapku pelan kepadanya, perempuan paruh baya tersebut mengangkat kepalanya perlahan menatapku.


Perempuan paruh baya itu beranjak duduk, kepalanya masih tertunduk sementara tangannya meraih lengan anak perempuan yang masih bersujud di sampingnya. Anak perempuan tadi mengangkat wajahnya, kutatap lama mereka berdua bergantian...


Kugerakkan lengan kananku mengusap bekas tanah yang menempel di wajah perempuan paruh baya itu. Perempuan itu duduk semakin tertunduk dengan sebelah lengannya menutupi kedua matanya...


Aku beranjak berdiri dengan kedua tangan memegang kedua lengan perempuan paruh baya tadi. Perempuan tersebut turut beranjak berdiri dengan sebelah tangannya menggenggam erat tangan anak perempuan yang juga telah berdiri di sampingnya...


"Bisakah bibi menceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Siapa tahu, diantara kami dapat membantu kalian," ucapku menggenggam tangan kiri perempuan paruh baya itu.


Perempuan itu melirik ke arah kiri lalu menunduk kembali, kepalanya menggeleng diiringi dengan semakin kuatnya genggaman tangannya di tanganku. Aku menghela napas menatapnya sembari kugerakkan tubuhku ke kiri untuk menghalangi pandangan matanya dari laki-laki paruh baya tadi yang masih menatapi kami...


"Tidak akan ada yang bisa menyakiti kalian, mereka..." Ungkapku sembari mengarahkan jari telunjuk ke arah laki-laki paruh baya tersebut.


"Tidak akan sanggup melukai kalian sekarang,"ucapku kembali dengan sesekali mengangguk untuk menyakinkan perempuan paruh baya tadi.


"Apa kau dapat menolong Anakku?" Ucap perempuan tadi melirik ke arah anak laki-laki yang masih tertidur pulas di belakang.


"Aku, akan mencobanya," ungkapku semakin kuat menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Desa ini..."


"Beraninya kau!" Teriakan laki-laki menghentikan kata-kata dari perempuan paruh baya itu, kurasakan jari-jemarinya gemetar saat genggaman tanganku padanya semakin kuat.


"Nii-chan!" Aku ikut berteriak sembari kepalaku menoleh ke belakang. Haruki berbalik lalu berjalan mendekati laki-laki yang dikenal sebagai Ketua tadi, ditendangnya perut laki-laki tersebut oleh Haruki hingga laki-laki tersebut jatuh berlutut di hadapannya.


"Cepat selesaikan semuanya, aku tidak ingin kau berlama-lama bersama mereka," ucap Haruki menoleh menatapku.


"Kau lihat itu bukan? Tidak ada yang dapat menyakiti kalian, jadi ceritakan semuanya kepadaku," ucapku kembali menatap perempuan paruh baya tadi.


"Desa ini, desa terkutuk..." Ungkap perempuan paruh baya tadi terhenti, ia menghela napas sembari kepalanya terangkat menatapku.


"Terkutuk?" Ungkap ku yang dibalas oleh anggukan kepalanya.


"Desa ini, memiliki kutukan yang dapat membuatmu tertidur. Dan jika kau tertidur karena kutukan tersebut, kau tidak akan bangun kembali," ucap perempuan itu, kuarahkan telapak tanganku menyeka air matanya yang jatuh.


"Mereka mati. Jika kau tertidur, kau akan mati... Tolong, bangunkan Adikku sebelum dia mati," tangis anak perempuan yang berdiri di hadapanku pecah, dia meraih lalu menggenggam tanganku dengan sangat erat.


"Apakah bercak-bercak merah yang ada di tubuh kalian ada hubungannya dengan kutukan itu?" Ucapku menatapi mereka berdua bergantian, perempuan paruh baya tersebut kembali mengangguk menatapku.


"Jika tubuhmu memiliki bercak itu, maka cepat atau lambat... Kutukan itu akan mendatangi..."


"Jadi, dengan kata lain," ucapku memotong perkataannya yang sempat terhenti.


"Kami, telah dikutuk... Maaf, seharusnya aku tidak memegang tanganmu," ucap perempuan paruh baya tadi yang langsung melepaskan lalu menarik tangan anak perempuan yang masih menggenggam tanganku sebelumnya.


"Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja," ucapku tersenyum menatapnya.

__ADS_1


"Kutukan..." Ucapku menatap langit, tubuhku berbalik ke belakang saat kurasakan sesuatu menarik lenganku.


"Ada apa nii-chan?" Ungkap ku menatap Haruki yang telah berdiri di belakangku.


"Setiap berpikir, kau selalu menggigit ibu jarimu tanpa sadar. Bagaimana jika penyakit mereka menular kepadamu?"


"Maafkan aku. Aku tanpa sadar hampir melakukannya," ucapku menggenggam lengan kananku saat Haruki melepaskan genggamannya.


"Apa kau mengetahui apa yang terjadi?" Tukasnya melirik ke arah perempuan paruh baya yang berdiri di belakangku.


"Kutukan, tidur, kulit gelap, bercak merah, tanah gersang..." Ungkap ku mengalihkan pandangan pada tanah berpasir di bawah kaki kami.


"Aku masih belum terlalu yakin, tapi aku pernah membaca hal ini di suatu tempat. Aku, perlu memastikannya terlebih dahulu," ucapku meraih tas milikku, kugerakkan sebelah tanganku merogoh ke dalamnya.


"Lux," bisikku pelan sembari tanganku masih merogoh ke dalam tas.


"Ada apa?" Lux ikut berbisik di telingaku.


"Di mana kau meletakkan lem yang kau buat?"


"Wadah bundar yang terbuat dari kayu, wadah itu ditutupi kain merah," bisik Lux menjawab perkataanku.


"Wadah bundar, kain merah," ucapku sembari memusatkan pandangan ke dalam tas milikku.


"Ketemu," ucapku kembali sembari mengangkat sebuah benda berbentuk bundar yang diselimuti kain merah dari dalam tas.


"Untuk apa benda itu?" Ucap Haruki meraih benda tadi dari tanganku.

__ADS_1


"Itu lem. Dan tentu saja, aku membutuhkannya untuk menangkap sesuatu," ucapku kembali meraih benda tadi dari tangan Haruki.


__ADS_2