Fake Princess

Fake Princess
Takaoka Izumi (Side story') V


__ADS_3

"Yang Mulia, aku membawakan bubur untuk kau makan?" ucap Tsutomu berdiri di sampingku.


"Kau bisa memakannya atau membuangnya," ucapku, kubaringkan tubuhku di atas ranjang seraya berbalik aku membelakanginya.


"Aku akan meninggalkan buburnya disana," ucapnya lagi diiringi suara langkah kaki menjauh, kembali kudengar suara pintu yang terbuka lalu menutup kembali.


Beranjak aku duduk, kulangkahkan kakiku mendekati pintu kamar lalu membukanya. Kulangkahkan kakiku menyusuri Istana, melirik aku ke arah Taman seraya kubuang kembali pandanganku darinya...


Berhenti aku di sebuah pintu bercat putih, kubuka pintu tersebut perlahan. Melangkah aku masuk seraya mendekati tempat tidur bayi yang terbuat dari anyaman rotan bercat putih...


Kutatap wajah adik perempuanku yang masih lelap tertidur itu, kuraih tubuhnya seraya kugendong berjalan ke luar kamar tersebut. Kembali aku melangkah ke kamar, kubuka pintu kamarku seraya masuk aku kedalam dan menutupnya kembali...


Kulangkahkan kakiku mendekati ranjang tempat tidurku, kubaringkan tubuhnya di atas ranjang seraya ikut berbaring aku disampingnya. Kujauhkan kuku-kuku tangannya yang panjang agar tak menggores wajahnya seraya kutepuk-tepuk pahanya agar ia semakin lelap tertidur...


"Yang Mulia, Putri..." suara pintu terbuka mengagetkanku, menoleh aku ke arah Tsutomu yang diam menatapku.


"Kau membawa Putri ke kamarmu, Yang Mulia? Seisi Istana mencarinya kemana-mana, aku akan segera memberi tahu Raja," ucapnya berbalik dan langsung berlari.


Kualihkan pandanganku kembali pada Sachi, matanya yang kecil tampak mengedip beberapa kali. Kusapukan air liur yang sedikit keluar dari bibirnya menggunakan telapak tanganku, tersenyum ia beberapa kali seraya menatap langit-langit kamarku...


"Izumi!" kali ini suara Ayah yang mengagetkanku.


Menoleh aku ke arahnya seraya beranjak duduk, kuraih Sachi lalu kupeluk tubuhnya dengan erat. Melangkah Ayah semakin mendekati kami...


"Kau jangan membawanya diam-diam seperti itu," ucap Ayah dengan napas tak beraturan.


"Menjauhlah, aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun," ucapku semakin memperkuat pelukanku padanya.


"Kau masih terlalu kecil untuk mengurusnya sendirian," ucap Ayahku lagi, duduk ia disamping tempat tidurku.


"Ibu sendiri yang memintaku untuk tidak menyerahkannya pada siapapun," ungkapku balas menatapnya.

__ADS_1


"Ayah tahu, kau akan menjaganya ketika kau sudah sedikit lebih besar. Tapi untuk sekarang, serahkan semuanya padanya," sambung Ayahku seraya menoleh seorang laki-laki yang usianya hampir sama dengan Tsutomu. Maju laki-laki tersebut beberapa langkah lalu berlutut ia di hadapan kami berdua.


"Aku akan menjaga adikmu dengan seluruh nyawaku, Yang Mulia," ucapnya seraya menundukkan pandangannya.


"Aku tidak mempercayaimu."


"Kau dapat langsung membunuhku jika aku tidak dapat mengurus Putri Sachi dengan sangat baik," ucapnya lagi dengan tetap tertunduk.


"Namamu?"


"Tsubaru, nomor dua dari sepuluh wakil kapten Kerajaan. Aku kembali hanya untuk menjaga adikmu dan aku bersumpah padamu, tidak akan membiarkan sesuatu sekecil apapun melukai adikmu, Yang Mulia."


_____________


"Yang Mulia, aku punya kabar baik untukmu," ucap Tsutomu berlutut di hadapanku, digenggamnya telapak tanganku olehnya.


"Kabar? kabar apa?"


"Benarkah?" ucapku menatapnya.


"Pelayanmu ini tidak pernah berbohong padamu Yang Mulia, karena itu... jangan menyiksa dirimu seperti ini lagi."


"Tapi karena aku, Ibu kehilangan nyawanya."


"Kau masih mempunyai janji padanya bukan? untuk menjaga Putri Sachi. Apa kau tahu Yang Mulia?" ucapnya, kembali kutatap pelayan pribadiku itu.


"Dunia ini, akan sangat menyulitkan untuk perempuan seperti Putri. Jika kau peduli dengan Ratu, lindungilah Putri yang ia lahirkan dengan nyawanya. Dengan begitu, ia tidak akan mengkhawatirkan apapun di atas sana."


"Lalu apa yang harus aku lakukan, beritahu aku Tsutomu. Apa yang harus aku lakukan?"


"Aku akan menjadikanmu laki-laki yang kuat, dengan begitu kau akan mampu melindungi Kerajaan ini, melindungi Ayahmu, melindungi Kakak-kakakmu, dan juga melindungi Adikmu."

__ADS_1


"Apa kau pikir aku bisa melakukannya?" ucapku lagi dengan suara bergetar menatapnya.


"Tentu, kau sangat pintar Yang Mulia. Tak ada yang tak dapat kau lakukan."


_______________


Kubuka kembali kedua mataku, beranjak aku duduk seraya menyingkirkan selimut yang menutupi kedua kaki. Kulangkahkan kakiku mendekati pintu lalu membukanya, berjalan aku keluar menyusuri Istana...


Kuhentikan langkahku di depan Perpustakaan, kudorong pintu tersebut dengan tenaga yang aku punya. Masuk aku kedalam seraya meraih sebuah bangku dan menggesernya...


Kugeser bangku tersebut mendekati lilin-lilin yang digantungkan di dinding, kuraih salah satu lilin tersebut seraya kembali menggerakkan tubuhku menuruni bangku tersebut.


Berjalan aku mendekati tumpukan buku yang telah habis aku baca beberapa hari yang lalu, kubakar buku-buku tersebut menggunakan api yang dipancarkan oleh lilin tadi. Api kecil tadi menjalar hingga semakin besar dan membesar...


Kurasakan hawa panas dari api menampar wajahku, asap yang dihasilkan dari buku mulai memenuhi ruangan. Serpihan-serpihan abu hitam berterbangan di sekitar...


"Yang Mulia, apa yang kau lakukan disana?" kudengar suara teriakan yang berasal dari belakang tubuhku.


Kurasakan sesuatu mengangkat tubuhku, digendongnya aku menjauhi api tersebut. Beberapa orang berlari melewati kami dengan sebuah ember kayu ditangan mereka masing-masing...


"Apa yang kau lakukan didalam sana?!" terdengar suara Ayahku, diraihnya tubuhku dari laki-laki tadi.


"Membaca tidak membuatku kuat Ayah, aku tidak memerlukan buku-buku tersebut," ucapku menatap kosong ke arahnya.


"Aku dengar Haruki akan kembali ke Istana, dan aku dengar juga kalau Haruki sangatlah pintar. Aku benar bukan Ayah?"


"Karena itu, aku akan menjadi anak yang bodoh saja. Aku tidak ingin bersaing dengannya, aku tidak ingin membuatnya membenciku..."


"Aku ingin kita dapat berkumpul sebagai keluarga. Jadi Ayah, jika dengan menjadi bodoh dapat mempersatukan keluarga kita..."


"Kumohon Ayah... kumohon bantu aku membunuh Izumi yang dulu..."

__ADS_1


"Kumohon, bantu aku untuk berpura-pura bodoh."


__ADS_2