Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXC


__ADS_3

Kutatap bayanganku yang terpantul pada cermin di hadapanku, kuarahkan telapak tanganku menyentuh tanda merah yang muncul di leherku. Kugerakkan kembali telapak tanganku tadi meraih rambutku hingga tergerai menutup pundak...


Kugerakkan tubuhku menjauhi meja rias seraya melangkah aku mendekati pintu. Kubuka pintu tersebut perlahan, tampak kulihat Julissa yang telah menunggu berdiri di samping pintu untukku...


"Kau mengusirku keluar dari dalam kamar, apa sebenarnya yang kau inginkan Sachi," ucapnya menatapku dengan lengan menyilang ke dada.


"Tidak ada apa-apa, maaf," ungkapku berjalan mendekatinya.


"Ayo cepat, ayo cepat... Bibi Ajeng pasti telah menunggu," ucapnya ikut berjalan mendekati, kurasakan lengan kanannya merangkul lengan kiriku.


Berjalan kami berdua beriringan, kualihkan pandanganku padanya yang kembali tersenyum sumringah. Kata-kata kekaguman yang ia lontarkan mengenai tunangannya, memenuhi telingaku...


"Mau kemana kalian?" terdengar suara laki-laki, kugerakkan kepalaku ke arahnya yang berjalan mendekati.


"Ayah, apa kau memerlukan sesuatu?" ucapku, kulepaskan rangkulan yang Julissa lakukan seraya kugerakkan kakiku mendekatinya.


"Ada yang ingin aku perbincangkan denganmu..."


"Julissa, bisakah aku membawa Putriku terlebih dahulu," sambungnya, kugerakkan kepalaku ikut menatapi Julissa.


"Tentu Paman, aku akan memberitahukan semuanya pada Bibi Ajeng," ungkap Julissa balas menatap kami.


"Terima kasih. Kemarilah, ikutlah dengan Ayahmu ini," ucapnya, diikuti sentuhan pelan di punggungku.


Melangkah aku berdampingan dengannya mendekati sebuah taman yang ada di Istana, kutatap ia yang telah duduk di salah satu bangku terbuat dari batu yang ada di sana. Ikut kulangkahkan kakiku duduk di sampingnya...


"Apa terjadi sesuatu Ayah?"


"Kakakmu Haruki, menceritakan semuanya apa yang terjadi pada kalian bertiga selama ini..."


"Putriku," sambungnya seraya digenggamnya telapak tanganku dengan kuat olehnya.

__ADS_1


"Lupakan untuk mencari sekutu, kembalilah bersamaku ke Kerajaan," lanjutnya, kualihkan pandanganku menatap matanya yang juga menatapku.


"Ayah, aku tidak bisa menjamin... Apa yang akan terjadi lagi kepada kami, jika kami tidak menghilang darimu..."


"Ayah, dibandingkan nyawa kami... Kami lebih mengkhawatirkan keselamatanmu, sama seperti kau mengkhawatirkanku atau nii-chan..."


"Ayah, kau yang paling tahu... Bagaimana usaha dan kerja keras kami selama ini, kau bukan yang mendidik kami... Hingga kami mampu menghancurkan musuh apapun..."


"Dan Ayah, Sachi hanya ingin... Mendukungmu, sama seperti nii-chan yang juga sangat dan sangat ingin mendukungmu..."


"Kami berterima kasih, kau telah selalu dan selalu melindungi kami. Tapi Ayah, kali ini... Izinkan Anak-anakmu yang melindungimu," ucapku lagi seraya kuarahkan telapak tanganku menyentuh pipinya.


"Bagaimana bisa aku membiarkan hidup kalian terkatung-katung tanpa pengawasan dariku."


"Hanya pastikan saja Ayah, saat kami meminta bantuanmu, datanglah secepat mungkin menyelamatkan kami," ungkapku, kugerakkan tubuhku mendekat lalu memeluknya.


"Rasanya menyakitkan sekali menganggap ketiga anakku telah tiada, Ayah hanya ingin kita dapat berkumpul seperti dulu... Istana terasa sepi sekali untukku tanpa kalian," ucapnya diikuti pelukan kuat yang kurasakan memeluk tubuhku.


"Izumi memperkenalkannya padaku, dia juga mengatakan jika kalian telah menganggapnya seperti Adik kalian sendiri."


"Apa kau mengizinkannya Ayah?"


"Tentu, aku tidak mempermasalahkannya," ucapnya lagi diikuti tepukan-tepukan pelan menyentuh kepalaku.


"Lalu, bagaimana dengan Tsubaru?"


"Baik Tatsuya, Tsutomu maupun Tsubaru merubah sikap mereka saat mendengar kabar kematian kalian bertiga. Sama sepertiku, tatapan mereka seperti ikut mati bersamaan kabar tersebut..."


"Dan aku sekarang menitipkan Kerajaan pada mereka bertiga di bawah kuasa Masashi. Aku tidak menyangka, keputusanku untuk mendatangi undangan Raja Bagaskara menjadi kabar baik untukku..."


"Aku berhasil bertemu ketiga Anakku lagi, tidak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan itu," sambungnya kembali padaku.

__ADS_1


"Ayah, kalian ada di sini?" terdengar kembali suara laki-laki, kugerakkan kepalaku menatap Haruki bersama Izumi yang berjalan mendekati.


"Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak ada. Apa Sachi meminta sesuatu lagi padamu Ayah," ucap Izumi membalas perkataan Ayah.


"Akulah yang meminta sesuatu padanya. Apa kalian menginginkan sesuatu dariku?" ungkap Ayah, kurasakan pelukan yang ia lakukan terlepas.


"Aku membuat ini semalam Ayah, aku ingin kau melihatnya," ucap Haruki yang telah berdiri disampingnya, digerakkannya tangannya yang menggenggam beberapa helai kertas ke arah Ayah.


"Apa ini?"


"Semua hal yang menyangkut Kerajaan Paloma, aku ingin kita menggunakannya saat mereka tiba-tiba memutuskan untuk berkhianat. Dan juga..."


"Masalah yang kalian tanyakan semalam?" ucap Ayah memotong perkataan Haruki, mengangguk Haruki membalas perkataannya.


"Suku yang menjadi tempat tinggal Ibunya Izumi dulu terkenal suka berpindah-pindah tempat, tidak ada yang tahu pasti kemana mereka akan bernaung selanjutnya. Terlebih lagi sejak beberapa orang mengetahui tentang mata mereka..."


"Yang aku tahu hanyalah, jika kau ingin mencari mereka... Carilah gunung yang penuh dengan hewan buas, mereka menghabiskan seluruh usia mereka untuk berburu..."


"Jika kalian berhasil menemukan mereka, kemungkinan besar kau akan bertemu dengan Kakekmu Izumi. Dia seorang kepala suku yang dihormati," ucap Ayah kembali, kualihkan pandanganku ikut menatap Izumi yang tertunduk.


"Jika kau berhasil bertemu dengannya, sampaikan permintaan maafku karena gagal menjaga Putri kesayangannya," ungkap Ayahku dengan suara bergetar, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya yang tertunduk.


"Aku mengerti Ayah, aku akan melakukan semuanya berdasarkan perintah yang kau berikan," sambung Izumi menimpali perkataannya.


"Sa-chan, apa aku yang salah lihat atau memang lehermu ada bintik besar berwarna merah yang belum pernah aku lihat sebelumnya?" ucapnya, kurasakan bayangan wajahnya yang telah menatap tepat di samping wajahku.


"Bintik merah? Coba Ayah lihat," ucapnya seraya mengarahkan telapak tangannya mendekati.


"Ha-hanya gigitan nyamuk Ayah, bukan apa-apa, percayalah padaku," ucapku tersenyum menatapnya, kuangkat sebelah tanganku menutup rapat leherku itu.

__ADS_1


__ADS_2