
Aku duduk di samping ranjang dengan kedua tangan menyisir pelan rambutku yang telah mulai mengering. Tubuhku sudah bisa digerakkan kembali setelah beristirahat seharian … Sudah kuduga, tubuhku masih belum terbiasa memanggil Kou dan hewan kontrak lain secara bersamaan.
Aku beranjak berdiri dengan meletakkan sisir yang aku pegang ke atas ranjang, “akan sangat merepotkan jika aku harus seperti itu terus saat memanggil hewan kontrak. Satu-satunya cara, hanya memperkuat dirimu sendiri, Sachi,” gumamku dengan meraih pita rambut yang ada di ranjang.
Aku berbalik, berjalan mendekati pintu lalu membukanya. Kedua kakiku berjalan cepat keluar dari tempat ini diikuti kedua tanganku yang bergerak menguncir rambut. Aku menarik napas dalam saat pintu kubuka, udara pagi yang memenuhi sekitar terasa langsung menusuk ketika aku telah berjalan keluar.
Aku berdiri dengan berkacak pinggang, menatap tanah rerumputan yang menghampar di hadapan. Ujung kakiku bergerak mengetuk tanah bergantian diikuti tarikan napas yang sangat dalam aku lakukan. Kedua kakiku bergerak cepat, berlari menyusuri halaman Istana, “apakah itu Izu nii-chan?” Tukasku pelan saat aku tak sengaja menatap punggung laki-laki yang juga tengah berlari sedikit jauh dariku.
Aku semakin cepat berlari menyusul laki-laki itu, “Izu-nii,” ucapku dengan sedikit terputus saat aku telah telah berlari di sampingnya.
“Ada apa gerangan, kau berlari di pagi hari seperti saat ini?” Tanyanya menoleh dengan masih berlari kecil di sampingku.
“Aku harus memperkuat diri, akan sangat merepotkan jika tubuhku akan tiba-tiba tidak bisa digerakkan seperti sebelumnya,” ungkapku kembali menoleh ke arahnya.
“Aku mengetahui semuanya dari Haruki,” ucapnya yang telah mengalihkan pandangannya dariku, “jangan memaksakan diri untuk hal yang tidak penting. Bukan hanya satu orang yang akan sedih jika terjadi sesuatu denganmu, apa kau paham?!” Tukasnya kembali dengan melirik ke arahku.
“Aku paham, aku akan mencobanya,” ungkapku dengan mengarahkan pandangan ke atas.
“Mereka masih melakukannya. Seperti yang diharapkan dari para wakil kapten.”
Langkah kakiku terhenti saat aku menangkap suara Izumi yang mengatakannya, aku menoleh … Mengikuti pandangan matanya. Kedua kakiku berjalan mendekati Izumi diikuti kedua mataku yang masih menatap ke arah enam wakil kapten yang tengah berdiri terbalik … Bertumpu dengan kedua tangan mereka yang menyentuh tanah.
“Apa yang mereka lakukan?”Aku setengah berbisik dengan melirik ke arah Izumi yang berdiri di samping.
“Itu salah satu cara mereka bermeditasi, mereka telah melakukan hal itu sejak semalam,” ucap Izumi dengan balas menatapku.
“Bermeditasi?”
“Itu membantu mereka untuk selalu fokus dan tenang dalam menghadapi pertarungan apa pun. Aku dan Haruki juga sering melakukannya, saat kau sedang pulas-pulasnya tertidur,” tukas Izumi lagi kepadaku.
__ADS_1
“Apa aku akan sedikit lebih kuat jika melakukannya?”
Izumi menoleh ke arahku sebelum dia kembali melanjutkan langkah kakinya, “kau … Ingin melakukannya? Bahkan saat seperti ini pun, terasa seperti keajaiban untukku,” ungkapnya seraya berlari semakin cepat meninggalkanku.
“Apa kau tidak mempercayaiku, nii-chan?” Aku ikut berlari mengikutinya dari belakang. “Kau pasti bukan Sachi. Adikku itu, salah satu manusia yang paling enggan untuk menggerakkan tubuhnya berolahraga,” ucapnya dengan semakin mempercepat langkah kakinya.
Langkah kakiku kembali terhenti, kutatap seorang laki-laki yang berdiri jauh dari kami dengan kepala tertunduk, “Izu-nii, apakah itu Haru nii-chan?” Aku melirik ke arahnya dengan mengarahkan jari telunjuk ke arah laki-laki tadi.
Izumi berbalik lalu berjalan mendekatiku, “apa kau tidak tahu jika setiap pagi dia melakukannya?” Aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya.
“Sebelum matahari terbit, Haruki selalu berdoa seperti itu. Kau pasti tahu bukan jika dulu dia tidak bisa terkena sinar matahari? Jadi dia berdoa sebelum pagi datang, mungkin itu sudah seperti kebiasaan baginya,” ungkap Izumi lagi, dia mengangkat jari telunjuk mengusap ujung matanya.
“Haruki!” Izumi berteriak memanggil namanya diikuti kedua kakinya yang melangkah mendekat.
Aku ikut berjalan mengikuti langkah kaki Izumi, “apa yang kalian lakukan?” Tanya Haruki saat dia telah berbalik menatapi kami.
“Lari pagi.”
“Keajaiban bukan?” Timpal Izumi yang dibalas anggukan kepala Haruki.
“Apa kalian telah mempersiapkan keperluan?” Haruki kembali bersuara dengan melirik ke arah kami bergantian.
“Keperluan? Apa kita akan pergi?” Aku balik bertanya padanya.
“Tidak sekarang, kemungkinan besok. Kita sudah terlalu lama di sini, membuang-buang waktu juga tidak akan bagus bukan?”Dia balas bertanya dengan menatapku.
“Itu … Nii-chan,” ucapku berusaha mengalihkan pandangan darinya.
“Danur, memutuskan untuk merawat bayi itu seperti Putrinya sendiri,” suara Haruki disertai helaan napas membuatku mengangkat kembali pandangan menatapnya.
__ADS_1
“Apakah itu benar?”
Haruki melangkahkan kakinya berjalan melewati kami, “anak mereka laki-laki, lagi pun … Itu permintaan langsung dari Isterinya Danur,” ucap Haruki kembali.
Aku menghela napas sebelum mengikuti langkah kakinya, “syukurlah,” ungkapku dengan sedikit melirik ke arah punggungnya.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Aku sudah lebih baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” tukasku yang juga menghentikan langkah di sampingnya saat dia menghentikan langkah kaki menatapku.
“Sa-chan,” ucapnya yang telah berdiri di hadapanku, “aku tahu jika kau sangatlah penasaran dengan asal-asal Ibu. Sangat penasaran dengan matamu yang hijau itu, tapi jangan bertindak gegabah seperti itu lagi. Aku kakak kalian, sudah menjadi kewajiban untukku menjaga kalian. Jadi, jangan melakukan apa pun tanpa sepengetahuanku lagi, apa kau mengerti?”
“Aku mengerti, nii-chan. Maafkan, kecerobohan yang aku lakukan selama ini,” tukasku dengan mengangkat kedua tangan yang saling menempel.
Haruki mengembuskan napasnya dengan kembali melanjutkan langkahnya, “Izumi, apa kau telah melakukan semua yang aku perintahkan?”
“Aku telah mengirimkan kabar kepada Tsutomu. Kemungkinan, besok balasannya akan sampai,” pandangan mataku beralih ke samping, berusaha menatapi mereka,
“Kabar? Kabar apa yang nii-chan maksudkan?”
“Kau tahu bukan? Jika Tsubaru dan juga Tatsuya sedang ditugaskan Ayah untuk membantu Niel mengurusi sedikit masalah di tempatnya beberapa bulan yang lalu?” Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaannya.
“Aku meminta Izumi untuk memerintahkan Tsutomu merangkum semua pemasukan dan pengeluaran Istana sebelum Tatsuya kembali. Karena, jika semuanya telah selesai dilakukan … Tatsuya dapat dengan mudah memeriksa semuanya untuk dilaporkannya kepadaku,” ucap Haruki dengan meletakkan telapak tangannya di belakang leher seraya digerakkannya lehernya itu ke kanan dan kiri bergantian.
“Jika Ayah meminta semua wakil kapten berkumpul, itu berarti mereka berdua juga akan pulang bukan?”
“Mereka sudah pulang,” aku menoleh ke arah Haruki saat dia mengatakannya, “aku memerintahkan Tsubaru untuk menjagamu semalaman di luar kamar.”
“Eh?”
__ADS_1
“Apa kau? Tidak bertemu dengannya?” Haruki kembali berbicara diikuti keningku yang mengerut … Berusaha memikirkan apa yang terjadi.