
Haruki menghentikan langkah kaki kudanya lalu berbalik menatapi kami, “kita akan beristirahat di hutan untuk malam ini. Jadi, Izumi ikut aku untuk berburu, sedangkan Sachi dan juga Eneas siapkan tenda untuk kita menginap,” ucapnya yang aku balas dengan anggukan kepala.
Haruki kembali menggerakkan kudanya disusul Izumi yang menunggangi kuda miliknya di belakang Haruki, “nee-chan, aku akan menyiapkan semuanya,” aku sedikit berbalik ke belakang saat suara Eneas terdengar.
Aku bergerak turun dari kuda, kuraih lalu kutarik tali kekang yang mengikatnya hingga kuda tersebut berjalan mengikutiku dari belakang. Aku melingkarkan lengan di salah satu pohon dengan banyak sekali rumput hijau di bawahnya, tali yang aku genggam tadi kuikat dengan sangat kuat di pohon itu.
Aku menggerakkan tangan mengusap leher kuda milikku itu, yang tengah bergerak melahap rumput hijau di depannya, “Eneas!” Aku berteriak memanggilnya diikuti kedua kakiku melangkah mendekatinya yang tengah membentang sehelai kain lebar berwarna cokelat di hadapannya,
Eneas mengangkat kepalanya menatapku, “ada apa, nee-chan?” Tanyanya dengan kembali meraih tali dari dalam tas yang ia bawa, “apa kau menyimpan madu?” Tanyaku berjalan mendekatinya.
Eneas menggelengkan kepalanya, “aku pikir, nee-chan yang menyimpannya,” ucapnya kembali mengikat tali di ujung kain yang ia pegang, “aku berpikir jika kau membawanya,” ungkapku menunduk lalu meraih ujung kain yang tergeletak di tanah.
“Apa kau sangat memerlukannya, nee-chan?” aku menggeleng pelan tanpa menatapnya, “tidak terlalu,” ucapku pelan dengan menggerakkan kedua tangan mengikat simpul ujung kain tadi.
“Aku hanya sedang ingin memakan sesuatu yang manis,” ucapku kembali padanya.
____________
“Kau ingin minum?” Suara Haruki terdengar, aku menoleh ke arahnya yang telah mengarahkan kantung kulit berisi air ke arahku, “terima kasih nii-chan,” ucapku meraih kantung tersebut lalu mengarahkannya mendekati bibirku.
“Setelah kita melewati hutan ini, selanjutnya kita akan melewati wilayah itu bukan?” Haruki menoleh ke arah Izumi saat Izumi mengatakannya, “kau mengingatnya?” Haruki balik bertanya kepadanya yang ia balas dengan anggukan pelan dari Izumi.
“Wilayah? Wilayah apa?” Tanyaku menatapi mereka bergantian, “apa kau masih ingat, saat kau pergi mengunjugi Yadgar untuk menghadiri undangan dari Ayahnya Zeki?” Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan yang Haruki lontarkan.
__ADS_1
“Sebenarnya, kau bisa saja sampai di Yadgar lebih cepat. Jika saja, kalian melewati wilayah itu, akan tetapi … Ayah meminta Kazuya dan juga Tsubaru untuk pergi membawamu melewati jalan memutar untuk menghindarinya.”
Aku kembali menatap Haruki yang meraih potongan daging bakar yang ia masak di dekat api unggun, “menghindari? Apakah wilayah yang dimaksud itu berbahaya?” Aku kembali bertanya kepadanya.
“Wilayah itu penjara hidup untuk para tahanan Kerajaan kita,” ucap Izumi ikut meraih potongan daging bakar yang ada di hadapannya, “penjara hidup?” Keningku mengerut, berusaha mencerna apa yang ia katakan.
“Di sana ada sebuah jurang, biasanya mayat para tahanan yang dieksekusi mati, akan langsung dibuang untuk diberikan ke beberapa hewan buas yang hidup di sana.”
“Memangnya Sora memiliki tempat seperti itu?”
“Sora memiliknya,” kali ini Haruki yang menjawab pertanyaanku, “dan apa kau tahu? Rumor yang tersebar di antara para Kesatria yang pernah mengunjungi tempat itu,” ucap Izumi yang menimpali perkataan Haruki.
“Rumor?”
“Jangan membuatnya ketakutan Izumi,” Haruki beranjak berdiri lalu berbalik melangkah meninggalkan kami.
Izumi beranjak berdiri lalu berjalan meninggalkan aku dan juga Eneas, “aku mengantuk, berjagalah sebentar. Setelah aku beristirahat sejenak, aku akan bergantian berjaga,” ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
“Eneas,” aku berbalik menatapnya yang tengah menyantap sepotong daging di tangannya, “aku tidak mengetahui apa pun. Jika nee-chan saja tidak mengetahuinya, bagaimana aku bisa mengetahui hal tersebut,” ucapnya kembali menggigit potongan daging yang ada di tangannya itu.
__________________’
Suara besi yang berbenturan terdengar dari arah luar, kuangkat sedikit kepalaku berusaha menoleh ke arah suara yang terdengar tadi. Aku beranjak duduk, menatap dua bayangan yang terlihat saling berseteru antara satu dengan lainnya.
__ADS_1
Tubuhku merangkak ke luar tenda, lama kutatap Haruki dan juga Izumi tengah bertarung dengan pedang di masing-masing tangan mereka. “Apa yang kalian berdua lakukan?!”Aku sedikit meninggikan suara, Haruki menoleh ke arahku diikuti Izumi melakukan hal yang sama.
“Kami hanya melatih tubuh,” ucap Izumi menatapku dengan tangan kanannya mengangkat tinggi pedang yang ia genggam, “apa kalian ingin saling melukai? Kenapa menggunakan pedang asli? Gunakan saja ranting kayu atau...” Ungkapku beranjak berdiri lalu berjalan mendekati mereka.
Izumi membuang pandangannya dariku, “kami tidak akan terluka semudah itu,” gumamnya yang sangat keluar, “di mana Eneas?”Aku kembali menatap mereka bergantian.
Izumi mengangkat tangannya ke kanan, “dia masih nyenyak tertidur,” ucapnya kembali mengarahkan pandangan matanya ke arahku, kuikuti arah tangannya tadi yang menunjuk ke arah Eneas yang lelap tertidur di samping tenda yang aku naungi.
“Karena kalian berdua telah ada di sini, Izumi … Latih dia,” ucap Haruki menancapkan pedang yang sebelumnya ia genggam ke tanah, “kenapa aku?” Izumi balik bertanya padanya.
“Karena aku Kakak kalian. Apa kau ingin menentang perkataan kakakmu sendiri?” Haruki membalas tatapannya. Izumi berdecak lidah, “aku mengerti,” ucap Izumi mengalihkan pandangannya dari Haruki lalu tersenyum menatapku.
“Aku tiba-tiba kembali mengantuk. Jadi wahai Kakakku yang tersayang, izinkan aku untuk beristirahat,” ungkapku membungkukkan tubuh lalu berbalik membelakangi mereka, “wahai Adikku yang tercinta, ini semua untuk kebaikanmu,” aku memejamkan mata dengan menggigit kuat bibirku saat terdengar suara Haruki diikuti cengkeraman yang kurasakan di pundak kiriku.
“Nii-chan,” ucapku berbalik menatapnya, “Izumi,” Haruki beralih menatap Izumi saat aku mencoba menatapnya.
“Pedang atau panah,” sambung Izumi, dia berbalik melangkahkan kakinya mendekati tenda tempatku tidur sebelumnya.
“Apa kau tidak ingin menjawab pertanyaan Kakakmu itu?” Aku sedikit menelan air ludahku sendiri saat Haruki menatapku sambil mengatakannya, “bagaimana kalau panah? Aku sudah lama sekali tidak memanah,” jawabkku dengan sedikit tersenyum ke arahnya.
“Ambilkan pedang miliknya Izumi! Dia ingin sekali, berlatih pedang denganmu!” Haruki meninggikan suaranya diikuti pandangan matanya yang mengarah kembali pada Izumi, “apa kau ingin sekali menunjukkan kemampuan berpedangmu kepadaku, Tupai?” Izumi balas meninggikan suaranya diikuti setengah tubuhnya merangkak masuk ke dalam tenda.
Jangan bercanda! Aku lebih memilih untuk merebahkan tubuh dibandingkan melatih tubuh seperti ini.
__ADS_1
“Sa-chan,” aku sedikit tersontak mendengarnya, kugerakkan kembali wajahku menoleh ke arahnya, “ada apa nii-chan?” Tanyaku padanya yang telah melepaskan cengkeraman tangannya di pundakku sebelumnya.
“Kaisar, pasti sudah mengetahui jika kita masihlah hidup. Dan itu berarti … Kedepannya, kita akan menemui banyak sekali pembunuh yang ditugaskan untuk membunuh salah satu di antara kita. Lemah sedikit saja, itu berarti kau memberikan hidupmu kepada mereka,” ucapnya menatapku, “karena itu, tidak ada cara lain untuk bertahan hidup, selain memperkuat diri sendiri,” sambungnya kembali dengan menggerakkan kepalanya sedikit menoleh ke belakang tubuhku.