
Aku beranjak turun dari atas perahu dengan memanggul tas berisi persediaan makanan di pundakku.
Kedua kakiku melangkah mengikuti Eneas yang juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Kami berhenti di salah satu pohon di hutan yang tak terlalu jauh dari sungai, lalu kuletakkan tas besar yang aku bawa itu bersandar di pohon dengan pandangan mataku yang terjatuh ke arah Haruki, Izumi, dan juga Fabian yang berjalan dengan menggendong satu orang laki-laki di punggung mereka.
Aku masih berdiri, menatapi mereka yang dengan perlahan membaringkan tiga orang laki-laki bodoh yang tak sadarkan diri itu di tanah berumput yang ada di sekitar kami. Aku menyilangkan kedua lengan dengan melirik ke arah saudari kembar Luana yang telah menyandarkan dirinya di salah satu pohon yang tak terlalu jauh dari kami. “Lux, bagaimana menurutmu tempat ini?” gumamku pelan sembari membalikkan tubuh memunggungi mereka semua.
“Hanya seperti hutan pada umumnya, kita mungkin bisa mengetahui lebih jelas kalau masuk lebih ke dalam,” balas Lux pelan di samping telingaku.
Aku mengangkat kepala, menatap dedaunan di pohon yang sedikit bergoyang tertiup angin. “Bagaimana keadaan mereka, nii-chan?” tanyaku tanpa menoleh ke belakang.
“Aku telah menutup luka di pundaknya, kemungkinan mereka akan bangun esok pagi atau mungkin lebih cepat,” tukas suara Izumi yang terdengar dari belakang.
“Bagaimana Haru-nii, apa kita akan beristirahat di sini? Atau melanjutkan perjalanan?”
“Tentu, melanjutkan perjalanan. Fabian dan perempuan itu, dapat menjaga mereka bertiga. Lagi pun, kita pergi bukan untuk menjadi pengasuh.”
“Kami akan mati, jika kalian meninggalkan kami!” Aku menggigit kuat bibirku saat isakan kuat dari perempuan itu terdengar.
“Dengan pergi ke hutan, kalian sudah pasti tahu apa risikonya, bukan?!” bentakku sambil berbalik menoleh ke arahnya.
“Tidak ada yang mengajak kalian, kalian sendiri yang memutuskan untuk ikut … Jadi tanggung sendiri risikonya, kalaupun mati? Itu sudah jadi risiko kalian,” sambungku, dia tertunduk saat aku memicingkan mata menatapnya.
“Sachi!” panggil Izumi yang membuatku melirik ke arahnya. Izumi beranjak dengan menoleh ke arahku, “ikuti aku!” tukasnya lagi sambil berjalan melewatiku.
__ADS_1
Aku berbalik mengikuti langkah Izumi, dia berjalan membawaku sedikit jauh dari tempat sebelumnya. “Apa yang terjadi padamu?” tanyanya sembari menghentikan langkah dengan bersandar di salah satu pohon.
“Tidak ada yang terjadi padaku. Aku hanya kesal melihat kebodohan mereka yang menyusahkan kita,” tukasku yang juga ikut menghentikan langkah sambil membuang tatapan dari pandangan Izumi.
“Kau, tidak seperti ini saat kita berada di hutan Kekaisaran.”
“Ini dan itu, merupakan dua hal yang berbeda. Walau Kak Luana sama-sama bersikap menjengkelkan dahulu, tapi aku masih bisa mengerti keadaannya. Karena sama sepertiku yang tidak tahu akan dijebak oleh Kaisar ke hutan miliknya, dia pun pasti sama takutnya dengan suatu hal yang tak ia ketahui.”
“Tapi sekarang berbeda, mereka tahu kita akan ke hutan yang berbahaya. Kalau mereka tahu, sudah seharusnya mereka mempersiapkan diri. Aku kesal sekali, karena sikap bodoh mereka merepotkan saudara-saudaraku!” sambungku sambil menerjang kuat pohon yang ada di sampingku itu.
“Itu, tidak akan bagus untuk Kerajaan kita, Sa-chan.”
“Haru-nii,” tukasku sambil berbalik menoleh ke arahnya yang berjalan mendekati.
“Apa yang nii-chan maksudkan?”
“Kalau seseorang yang aku maksudkan itu melaporkan apa yang terjadi kepada Raja, itu tidak akan baik. Karena itulah, aku menolong mereka bukan karena aku ingin menolong mereka … Aku melakukannya, semata-mata hanya untuk mempertahankan hubungan antar Kerajaan. Namun, aku tidak ingin mereka menganggap kita remeh, karena itu aku membiarkan mereka sejenak untuk memberikan mereka pelajaran.”
“Bersabarlah. Akan tetapi, jika mereka sudah sangat membuatmu kesal. Aku tidak akan melarangmu untuk membunuh satu per satu dari mereka. Karena sama sepertimu, aku pun sangatlah kesal dengan semua kebodohan yang mereka perbuat.”
“Nii-chan, walau mereka berwajah mirip, jangan sekali pun tergoda padanya. Jangan sekali pun, pokoknya jangan sekali pun,” ungkapku sambil berjalan melewati Haruki.
“Apa yang kau maksudkan itu?”
__ADS_1
“Sa-chan, jelaskan semuanya pada kakakmu ini!” sambung Haruki yang kembali berteriak ketika aku semakin melangkah menjauhi mereka berdua.
Langkahku kembali terhenti, aku mendecakkan lidah sambil membuang pandangan dari mereka berlima sebelum aku berjalan lalu duduk di samping Eneas. “Eneas, apa kau memiliki racun yang bisa membunuh seseorang secara perlahan? Maksudku, racun yang baru akan berkerja beberapa pekan setelah diberikan?”
Aku tertunduk dengan mengusap kepalaku saat pukulan kuat tiba-tiba mengenai kepalaku itu. “Jangan melakukan sesuatu yang picik seperti itu,” tukas suara Izumi yang terdengar.
Kepalaku terangkat, menatapnya yang entah kapan telah berdiri di sampingku sambil sebelah tangannya terangkat ke depan. “Sejak kapan kau menjadi senaif ini, nii-chan? Apa kau tertarik kepadanya, karena secara tak langsung dia mengingatkanmu pada kak Sasithorn?”
“Telingaku,” rintihku saat Izumi menjewer kuat telingaku tersebut.
“Lebih baik, kalian persiapkan makanan agar pikiranmu itu tenang. Aku akan membuat tenda untuk kita tinggali malam ini. Haruki sendiri sudah membuat obor yang akan kita pakai untuk berjaga-jaga di malam hari. Apa kau mendengar perkataan kakakmu ini?”
“Perintahkan saja salah satu dari mereka untuk memasak. Pikiranku sekarang sedang tidak tenang, entah racun apa yang akan aku masukkan ke dalam makanan yang aku buat nanti.”
“Sakit,” aku kembali merintih ketika jeweran yang Izumi lakukan semakin menguat dibanding sebelumnya.
“Apa menurutmu, Putri sepertinya dapat memasak?”
“Aku pun seorang Putri, bukan maksudku seorang Ratu. Statusku justru lebih tinggi darinya, kenapa aku harus membuatkan makanan untuk mereka? Aku bukanlah pelayan-”
“Baiklah,” tukas Izumi melepaskan jewerannya di telingaku, “Yang Mulia Ratu, salam hormat untukmu. Dapatkah, Pangeran rendahan sepertiku ini mendapatkan makan malam yang engkau buat?”
Aku mendecakkan lidah lalu beranjak melewatinya yang membungkukkan tubuhnya di depanku, “Eneas, buatkan aku api! Buatkan yang besar, hingga seorang manusia dapat masuk ke dalamnya,” gerutuku sembari melangkah mendekati tas besar lalu berjongkok dengan merogoh ke dalam tas tersebut.
__ADS_1
Aku kembali beranjak dengan membawa dua buah mangkuk besar dari kuningan yang aku ambil dari dalam tas, aku berjalan lalu menjatuhkan dua buah mangkuk tadi di depan Fabian dan perempuan tersebut, “ambilkan air untukku di sungai! Kalian masih mengingat jalan yang kita lewati sebelumnya, bukan? Atau aku harus memukul kepala kalian agar mengingatnya?”
“Omong kosong dengan status Bangsawan yang kalian miliki, saat di Hutan … Akulah yang berkuasa atas nyawa kalian. Jadi, ambilkan aku air, atau makan saja rumput yang ada di samping kalian,” sambungku sembari berbalik lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.