Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXX


__ADS_3

Kembali pagi menjumpai kami, kutatap para Kesatria yang telah berdiri di tempat yang sama seperti hari kemarin. Pembicaraan kami semalam terhenti tanpa merencanakan apapun, tapi itu bukanlah suatu masalah yang besar... Aku hanya harus memeras otakku, jikapun sesuatu terjadi tak seperti seharusnya.


Lama kami menunggu, keadaan di sekitar masih menghening. Sangat hening hingga suara letupan-letupan air yang mendidih terdengar di telinga...


Suara pukulan gong berulang-ulang berkumandang di udara, sehelai kain putih yang terikat di batang kayu panjang berkibar membelah hutan. Diam para Kesatria menatapnya seakan tak percaya...


"Apa yang terjadi?" tanyaku pada mereka.


"Apa kau tidak mengetahuinya, Nona Sakura?" ucap salah satu Kesatria.


"Tahu apa?" tanyaku balik padanya.


"Bendera putih dan suara pukulan gong berartikan mereka menyerah, mereka ingin mengambil langkah damai. Jangan katakan..." ucapnya lagi.


"Kau benar, ini pertama kalinya aku bergabung dalam perang," ucapku datar kepada mereka.


"Heh?!" teriak mereka bersamaan, ditatapnya aku dengan tatapan seakan tak percaya yang keluar dari masing-masing mereka.


"Kami ingin berdamai, buka gerbangnya!" terdengar teriakan dari bawah.


Berjalan aku mendekati pagar batu yang ada di atas benteng, kualihkan pandangan mataku kepada laki-laki paruh baya yang tengah berdiri dengan ratusan Kesatria di belakangnya...


"Siapa dia?" ucapku pelan seraya menoleh ke arah Kesatria yang berdiri tepat di sampingku.


"Duke, pamannya Raja," ucap Kesatria itu balas menatapku.


"Tunggu apalagi kalian, cepat buka gerbangnya!" teriaknya sekali lagi.


"Bisakah kau memanggil Kakakku Kei, katakan situasi yang sedang kita hadapi padanya," ucapku lagi padanya, mengangguk ia seraya berbalik dan berlari menjauh.


"Savon," ucapku tanpa berbalik, kuangkat jari telunjukku seraya kugerakkan sebagai isyarat untuk mendekat.


"Katakan kepadanya, kalian tidak dapat membukanya tanpa izin dari Raja yang baru. Jika ia bertanya, bohongi saja ia dengan mengatakan jika status Raja yang dimiliki keponakannya telah diambil alih oleh seorang pemberontak," bisikku kepada Savon yang mendekati telinganya padaku.


Beranjak berdiri kembali Savon seraya berjalan ia melewatiku, berteriak Savon ke arah pasukan musuh seperti yang aku perintahkan. Menoleh serentak para Kesatria padanya, kuangkat jari telunjukku mendekati bibir seakan meminta mereka untuk menutup mulutnya.


Berbalik aku sembari kulangkahkan kakiku mendekati tangga, berlari dan duduk aku di dasar tangga seraya menunggu kedatangan Haruki.


Sebuah derap langkah kaki kuda berlari mendekati, para Kesatria yang menatapku sebelumnya tampak menyingkir ke pinggir memberikan jalan kepada suara derap langkah kaki kuda yang kian melemah terdengar...

__ADS_1


Menoleh aku ke arah Haruki yang tengah duduk di atas kuda, berjalan aku mendekatinya yang telah menurunkan tubuhnya dari kuda yang ia tunggangi. Berjalan aku di sampingnya seraya memberi tahukan apa yang tengah terjadi dan juga rumor yang aku sebarkan tentang dirinya...


"Aku mengerti, serahkan semuanya padaku. Buka gerbangnya!" teriak Haruki pada para Kesatria yang telah bekerja sama denganku sebelumnya.


Gerbang terbuka pelan, laki-laki yang aku tatap dari atas sebelumnya tampak jelas terlihat sekarang. Balas ia menatap Haruki dengan pandangan yang dipenuhi amarah...


"Siapa kau?!" teriak laki-laki itu pada Haruki.


"Aki, Raja Aki. Raja di Kerajaan ini," jawab Haruki balas menatapnya.


"Raja yang berkuasa di sini adalah keponakanku!" teriaknya lagi, kali ini lebih lantang.


"Segel Kerajaan ini sebagai buktinya, akulah yang telah mengambil alih Kerajaan ini," sambung Haruki santai, diangkatnya kantung berisi segel Kerajaan seraya menggoyang-goyangkan segel tersebut tepat dihadapan laki-laki itu.


"Apa kau, dalang dibalik penyerangan ini?" tanya Haruki padanya.


"Beraninya, kau menyerang tempat kekuasanku. Tangkap dan seret mereka semua ke alun-alun Istana!" teriak Haruki, berbalik dan berjalan kembali ia mendekati kuda berbulu cokelat itu.


Naik Haruki dari atas kuda, ditatapnya aku seraya diarahkannya telapak tangannya ke arahku. Berjalan aku mendekatinya sembari kuraih tangan kakakku itu, ikut kulangkahkan kakiku menaiki kuda dan duduk di belakangnya.


Kuda yang kami tunggangi berbalik dan berlari menjauh, menoleh aku ke arah para Kesatria yang tengah berlari mengejar musuh yang berusaha melarikan diri. Kembali kualihkan pandanganku ke depan, aku baru tersadar jika tak ada satupun penduduk yang aku temui sepanjang perjalanan...


"Apa menurutmu cara ini akan berhasil?" ucap Raja Dante yang telah mengganti pakaian yang ia kenakan dengan pakaian yang sering dikenakan pelayan.


"Apa kau tidak ingin menyelamatkan Kerajaanmu?" ucap Haruki, ditatapnya dengan sinis Raja pesimis itu olehnya.


"Aku mau, aku akan melakukan apapun," ungkap Raja Dante seraya tertunduk.


"Aku juga memerlukan bantuan kalian semua, jadi bekerja samalah denganku," ucap Haruki lagi seraya menatap ke arah Gil, Savon dan juga para Kesatria yang telah berbaris di depannya.


"Lepaskan! Aku ini seorang Duke, beraninya kalian menyentuh tubuhku."


Suara teriakan itu terdengar berulang-ulang, kualihkan pandangan mataku kepada Duke tadi yang tengah meronta-ronta pada Kesatria yang menahan tubuhnya, ikut dibelakangnya para Kesatria kami juga menyeret pasukan-pasukan musuh yang mengikuti langkah Duke sebelumnya.


Menoleh Duke tersebut ke arah Raja Dante yang masih tertunduk, beberapa kali keluar decakan lidah yang ia lakukan. Dilemparkannya Duke tersebut oleh Kesatria yang memegangnya hingga jatuh ia tersungkur ke tanah.


"Kau ingin melakukan damai bukan? Apa keuntungan yang bisa aku dapatkan dari perjanjian damai tersebut?" tanya Haruki menatapinya, berjalan ia seraya duduk di pinggir sebuah meja berisi penuh makanan di hadapan kami.


"Kerajaan ini memiliki hutang yang sangat besar kepada Kaisar, aku mengenal baik Kaisar... Dan... Dan aku akan membujuk Kaisar untuk meringankan hutang Kerajaan ini," ucapnya balas menatap Haruki.

__ADS_1


"Tawaran yang bagus, tapi sebelum itu... Berikan padaku surat perjanjian hutangnya, aku ingin membacanya secara langsung," tukas Haruki, diarahkannya telapak tangannya pada laki-laki itu.


"Tentu, berikan surat-surat tersebut padanya!" perintahnya seraya menoleh ia ke salah satu laki-laki yang kedua tangannya dipegang kuat oleh dua Kesatria.


Dua Kesatria itu menoleh menatapku, mengangguk aku seakan meminta mereka untuk melepaskannya. Dua Kesatria tadi melepaskan genggamannya, berlutut laki-laki tadi seraya diambilnya bungkusan kain yang tergantung di punggungnya...


Dibukanya bungkusan kain tersebut seraya diambilnya beberapa lembar kertas yang ada di dalamnya. Beranjak ia seraya tetap tertunduk menuju ke arah Haruki seraya diletakkannya kertas-kertas tadi ke atas telapak tangan Haruki dengan kedua tangannya yang gemetar kuat...


"Sa-chan," ucap Haruki menoleh ke arahku, diarahkannya lembaran kertas tadi padaku.


Berjalan aku mendekatinya, kuraih lembaran-lembaran kertas tersebut seraya kubaca dengan seksama. Berkali-kali helaan napas keluar dari mulutku seraya kuangkat kepalaku menatapi laki-laki yang mereka panggil Duke tersebut.


"Surat ini palsu, cap segel yang ada di surat ini palsu. Apa kau yang memalsukannya?" ucapku seraya menatap tajam padanya.


"Apa maksudmu? Itu asli, aku menjaminnya dengan hidupku!" teriaknya padaku.


"Baiklah aku akan membuktikannya. Kei nii-chan, bisakah kau mengambil kertas kosong yang ada disana lalu tempelkan segel Kerajaan di atas kertas tersebut. Setelah itu, aku ingin kau mengisi penuh dua gelas kaca yang telah aku persiapkan dengan air," ucapku seraya menatap ke arah Izumi, dilakukannya oleh Izumi seperti yang aku pinta.


"Segel Kerajaan yang digunakan Kerajaan ini, dibuat langsung oleh Kerajaan Sora dengan permintaan khusus yang diajukan oleh Raja sebelumnya, Ayah anak itu lebih tepatnya," ucapku seraya menunjuk ke arah Raja Dante.


"Dan aku sendiri, bekerja beberapa tahun langsung dibawah arahan mendiang Putri Takaoka Sachi."


Rasanya aneh sekali, memanggil diri sendiri yang masih hidup dengan sebutan mendiang.


"Setiap segel yang dibuat oleh Putri Takaoka Sachi mempunyai kode unik tersendiri untuk menghindari pemalsuan dokumen Kerajaan. Dan aku akan membuktikannya..."


"Kertas di tangan kananku berisi surat yang dibawa oleh Duke, dan bisa kalian lihat, terdapat segel di dalamnya. Sedangkan kertas di tangan kiriku ialah kertas kosong yang baru saja mendapatkan cap oleh Kakakku menggunakan segel Kerajaan," sambungku seraya kulangkahkan kakiku mendekati meja dan berdiri di belakang dua gelas berisi penuh air yang aku pinta dari Izumi sebelumnya.


Kuangkat kedua kertas tersebut seraya kuarahkan kertas yang berisi segel tadi tepat di belakang gelas yang terisi penuh dengan air tadi.


"Kau kemarilah!" perintahku pada seorang Kesatria, berlari ia mendekatiku.


"Pegang kedua kertas ini, dan jangan digerakkan sedikitpun," ucapku lagi padanya, diraihnya kertas tersebut seraya diarahkannya seperti yang aku lakukan sebelumnya.


Melangkah aku menjauhinya seraya berdiri aku di depan dua gelas tadi, menunduk aku seraya menatap bayangan kedua segel yang ada di kertas di gelas terisi penuh air tersebut...


"Kalian dapat melihatnya sendiri. Kertas yang dibawa Duke hanya bertuliskan Kerajaan Paloma, sedangkan kertas yang ada di sampingnya terdapat simbol singa yang sangat kecil terletak di pojok kanan segel tersebut..."


"Jadi Duke, hukuman mati seperti apa yang ingin kau dapatkan?" sambung Haruki memotong perkataanku, tersenyum dingin ia menatapi laki-laki paruh baya yang terduduk lemas penuh keringat di hadapannya itu.

__ADS_1


__ADS_2