Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLX


__ADS_3

"Kita akan segera menepi," ucap Emre berjalan mendekati, kualihkan pandanganku memandang jauh pelabuhan kayu yang ada di hadapan kami.


Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu yang kami habiskan di lautan, akan tetapi... Melihat daratan yang masih terpampang jauh di hadapan kami membuat perasaanku rindu tak beraturan.


"Kudamu," ucap Izumi berjalan ke arahku seraya mengarahkan tali kekang kudaku ke arahku.


"Terima kasih," ungkapku seraya meraihnya, berjalan aku mendekati kuda putih milikku itu.


Melangkah aku menaiki kuda seraya kugerakkan tali kekang yang ada di genggamanku itu. Kuda yang aku tunggangi berbalik berjalan mendekati Haruki...


Menoleh aku ke belakang, kutatap Izumi yang tengah membantu Eneas naik ke atas kuda miliknya. Pandanganku terjatuh pada Aydin yang juga telah menunggangi kudanya dengan Emre dan juga Erol di belakangnya...


"Apa dia harus ikut, nii-chan?" bisikku pada Haruki.


"Kita mengunjungi mereka bukan hanya untuk mendatangi pernikahan Danurdara, melainkan juga untuk mengajak mereka untuk ikut bersekutu dengan kita. Jadi aku pikir, dengan adanya Aydin, dapat meyakinkan Raja Balawijaya untuk berkerja sama," ucap Haruki menatap padaku.


"Tapi yang lebih penting, apa kau akan baik-baik saja?" ucapnya lagi padaku.


"Semoga, tapi seperti yang kau katakan nii-chan, tujuan kita ke sini tidak lain tidak bukan untuk mengajak mereka bersekutu," ungkapku seraya kuarahkan pandanganku menghindarinya.


Kapal terhenti, kualihkan pandanganku pada para awak yang melompat turun seraya bahu-membahu mereka menurunkan papan yang ada di sisi kapal untuk kami turun...


Berjalan aku mengikuti langkah kaki kuda Haruki menuruni kereta, pandangan mataku tertegun menyaksikan pemandangan sekitar. Kutatap para perempuan yang hilir mudik berjalan di tengah keramaian, bahkan ada di antara mereka justru membuka lapak berdagang...


Tubuh mereka ditutupi lilitan kain dengan kain yang lain menjadi rok mereka, semua rambut hitam mereka tersanggul rapi. Tak ada tatapan pilu, tak ada senyum getir, yang ada hanyalah kebersamaan...


Kualihkan pandanganku pada para laki-laki yang juga mengenakan celana yang terbuat dari lilitan kain, yang membedakan mereka dengan para perempuan... Mereka tidak memakai lilitan kain lagi untuk menutupi tubuh bagian atas mereka.


"Apa mereka tidak merasa kedinginan sedikitpun?" ucapku tanpa sadar menatapi mereka.


"Seharusnya kami yang bertanya, apa kau sama sekali tidak kepanasan?"


"Eh?" ungkapku seraya kugerakkan kepalaku menatap Izumi yang tengah mengipas-ngipas tubuhnya menggunakan telapak tangan, tampak terlihat wajahnya yang penuh diguyur keringat.

__ADS_1


"Aku mempunyai pendingin alami, jadi... Aku tidak akan merasakan kepanasan," ucapku balas menatap mereka.


"Lihatlah wajahnya yang datar itu, jika bukan karena dia Adikku. Aku ingin sekali melemparnya ke laut," ucapnya lagi seraya mengalihkan pandangannya dariku.


"Apa aku salah mengatakan sesuatu?"


"Kau bodoh! Jika tidak ada banyak manusia di sini, aku ingin sekali segera keluar dari rambutmu," ikut terdengar bisikan Lux di telingaku.


"Apa di sini memang panas?"


"Jangan mengajakku berbicara, tidak bisakah Kou memberikan sedikit sihirnya untukku juga," sambung Lux berbisik kembali.


"Nona, apa kau ingin membeli daganganku?" terdengar suara anak-anak di sampingku disertai tarikan pelan pada celana yang aku kenakan, kuarahkan pandanganku menatap anak laki-laki yang tengah berdiri di sampingku dengan kotak kayu berbentuk persegi di kedua tangannya.


"Apa yang kau jual?"


"Hanya kerang," ucapnya tertunduk.


"Ujang!" teriak seorang perempuan, kuangkat kepalaku menatap ke arah seorang perempuan paruh baya bertubuh kurus berlari mendekati kami.


"Tapi akunih nak nolong kau Mak, aku dak galak jingok kau saket teros," ucap anak tadi, diangkatnya kepalanya menatap perempuan tadi.


"Kenapa? Apa yang mereka bicarakan?" ucap Haruki menoleh menatapku, menggeleng kuat aku menanggapi perkataannya.


"Maaf Ibu, apa aku bisa tahu apa yang terjadi?"


"Aku ingin menolong Ibuku, Nona. Ibuku selalu sakit-sakitan belakangan ini, jadi karena itu... Belilah kerangku," ucap anak laki-laki tadi, kutatap ia yang tertunduk dengan sebelah telapak tangan mengusap kepalanya.


"Maafkan anakku Nona, tapi kau bisa langsung melanjutkan perjalanan," ucap perempuan tadi seraya menurunkan tangannya yang ia genggam sebelumnya.


Menunduk aku menatapi punggung kudaku, kuarahkan kedua telapak tanganku ke belakang leher seraya kubuka kalung yang aku kenakan. Kuletakkan kalung tadi di sebelah telapak tanganku seraya sebelah telapak tanganku yang lain mencoba meraih tangan perempuan tadi...


"Ambillah kalung ini lalu jual untuk pengobatan, pastikan menjualnya dengan harga yang sangat tinggi, jika mereka membelinya dengan harga yang murah, kembalilah pergi menjualnya ke tempat yang lain," ucapku seraya meletakkan kalung milikku tadi di telapak tangannya seraya kugenggam telapak tangannya tadi dengan kedua tanganku.

__ADS_1


"Eh? Tapi aku..."


"Aku tahu, tapi aku juga akan melakukan hal yang sama jika saja aku mengalami hal yang sama seperti..."


"Siapa namamu?" ucapku seraya mengalihkan pandangan pada anak laki-laki tadi.


"Ujang," jawabnya singkat menatapku.


"Seperti Ujang, tapi sayangnya Ibuku sendiri telah meninggal. Jadi, kumohon terimalah," ucapku lagi seraya menatap perempuan tadi.


"Terima kasih, terima kasih," tangisnya seraya menarik tanganku menyentuh dahinya.


"Pastikan kau menjualnya dengan sangat mahal, apa kau mengerti?" ucapku pada anak laki-laki tadi, mengangguk ia membalas tatapanku.


"Apa kau telah selesai?" ucap Aydin, menoleh aku menatapnya.


"Maafkan kami," ucap perempuan tadi seraya dilepaskannya genggaman tangannya di tanganku.


"Memangnya mau kemana kita?" ucapku seraya mengalihkan pandangan pada Haruki, Izumi dan juga Aydin.


"Menemui temanmu tentu saja," jawab Aydin balas menatapku.


"Untuk apa? Dia sendirilah yang akan datang menjemputku," ucapku kembali.


"Apa maksudmu Sa-chan?"


"Jauh sebelum kita menepi..."


"Nona, kami permisi pergi, terima kasih," ucap perempuan tadi, menoleh aku ke arahnya yang masih membungkukkan tubuhnya ke arahku.


"Sama-sama, semoga lekas sembuh," balasku tersenyum menatap mereka berdua, kutatap mereka yang berbalik dan berjalan menjauhi.


"Jauh sebelum kita menepi, apa maksudnya?"

__ADS_1


"Aku meminta Kou memperkuat sihirnya," ungkapku balas menatap Izumi.


"Sa-sachi!" teriak seseorang dari kejauhan, kuarahkan pandanganku pada seorang laki-laki menunggangi kuda berwarna hitam dengan puluhan Kesatria berkuda menuju ke arah kami.


__ADS_2