
Kereta kuda yang kami naiki terus berjalan dan terus berjalan mendekati Istana, gerbang di Istana terbuka saat salah seorang kesatria yang berdiri di belakang kami meneriakkan perintah untuk membuka gerbang tersebut. Kereta kuda kembali berjalan semakin masuk ke dalam Istana, “jangan tiba-tiba menghening seperti itu. Kau benar-benar terlihat menakutkan saat melakukannya.”
“Aku hanya sedikit lelah. Kenapa kau suka sekali mencubit pipiku,” ungkapku dengan menepuk pergelangan tangannya.
“Karena kau menggemaskan, hanya itu,” timpalnya beranjak berdiri lalu berjalan turun dari atas kereta saat kereta kuda yang kami naiki itu berhenti.
Aku berjalan mendekatinya dengan menjulurkan kedua lenganku ke arahnya, “gendong aku,” ucapku pelan menatapnya.
Zeki melirik ke atas sebelum dia berdiri membelakangiku, aku sedikit maju dengan merangkulkan kedua lenganku tadi di lehernya, “apa kau ingin langsung beristirahat?” ucapnya pelan sembari dia mulai melangkah maju dengan menggendongku di punggungnya.
Aku mengangguk dengan sedikit membenamkan wajahku di pundaknya, “kau membuatku tidak bisa tidur semalaman, aku benar-benar ingin beristirahat walau sejenak,” gumamku sembari memejamkan dengan perlahan kedua mataku.
_____________.
Aku beranjak duduk dengan kedua tangan mengusap wajahku yang tertunduk, kugerakkan kedua kakiku mendekati bibir ranjang sebelum aku beranjak berdiri dengan meraih sandal yang menyelip di bawah ranjang.
Berkali-kali aku mengusap kedua mataku saat kedua kakiku masih terus menyusuri lorong Istana, “ke mana semua orang?” gumamku dengan mengarahkan pandangan melirik ke sekitar.
Kedua mataku membesar, langkah kakiku bergerak semakin cepat saat aku melihat Zeki tengah berjalan dengan Kabhir dan juga Akash di belakangnya, “mau ke mana mereka?” Aku berbisik pelan dengan tetap membuntuti mereka.
Apa mereka ingin bertemu dengan kedua Kakakku?
Aku terus berjalan membuntuti mereka secara diam-diam dari kejauhan, kedua mataku membelalak saat pandanganku terjatuh kepada kerumunan perempuan yang duduk berlutut di depan Istana, seorang laki-laki paruh baya yang juga ikut berlutut bersama perempuan lainnya beranjak berdiri lalu kembali berlutut dengan menggenggam kedua tangan Zeki yang berdiri di hadapannya.
“Yang Mulia. Laila, Putriku tidak mungkin melakukannya. Yang Mulia pasti sudah tahu sendiri, bagaimana pendiam dan baiknya Putriku itu,” aku berusaha mengatupkan bibirku saat mendengar kata-kata yang laki-laki paruh baya itu katakan.
“Aku mendapat laporan jika dia telah menghina seseorang,” ungkap Zeki, dia menundukkan pandangannya, menatap laki-laki paruh baya yang berlutut di hadapannya itu.
“Zeki, apa saya salah membela diri? Perempuan tersebut menghina saya habis-habisan saat pelayan di restoran kami memperingatkannya."
“Zeki, kamu percaya pada saya, kan?”
__ADS_1
Aku mengepal kuat kedua tanganku saat perempuan tersebut beranjak berdiri dengan meraih lalu menggenggam tangan Zeki, “bagus, lanjutkan! Tempel saja terus … Jangan sampai lepas! Apa aku harus membuatkan kalian lem yang sangat kuat? Hingga kalian tidak perlu repot-repot lagi untuk saling melepaskan diri?!” Aku segera mengatupkan bibirku saat tersadar telah mengatakannya.
“Apa yang kau lakukan di sana?”
Aku menghela napas sebelum berbalik menatapnya, “Yang Mulia, apa Yang Mulia bertanya kepada saya? Seperti yang telah Yang Mulia lihat, saya tengah memperhatikan semut yang ada di dinding,” ucapku sembari memukul kuat dinding yang ada di dekatku menggunakan telapak tangan.
“Di-dia,” ucap Laila dengan sedikit tertahan menatap ke arahku, “dia yang telah menampar saya, Zeki,” dia mengalihkan pandangannya ke Zeki diikuti jari telunjuknya yang mengarah padaku.
“Apa yang Nona katakan? Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Nona?” ungkapku sembari memainkan jari menatapnya.
“A-apa yang kamu katakan?”
“Lalu apa yang kau maksudkan?” Aku balik bertanya kepadanya.
“Kalian berdua, lepaskan tanganku!” tukas Zeki yang membuat mereka berdua menoleh ke arahnya.
“Apa kalian tidak mendengar apa yang aku perintahkan?!” sambung Zeki sekali lagi dengan meninggikan suaranya.
“Yang Mulia, panggil aku, Yang Mulia,” tukas Zeki memotong perkataan Laila.
“Aku telah memperlakukan keluarga kalian dengan baik, apa ini balasan yang kalian berikan untukku?!”
“Laila, apa kau bermimpi menjadi calon Isteriku?”
Perempuan tersebut mengangkat wajahnya, “Yang Mulia, apa yang engkau maksudkan?” tukasnya dengan nada bicara sedikit bersemangat.
“Khabir!”
“Kau diam-diam menyebarkan kabar bohong kepada para penduduk dengan mengatakan jika Yang Mulia sedang mencari calon isteri. Di sisi lain, kau selalu memperlihatkan dirimu terlihat akrab bersama Yang Mulia. Apa kau, merencanakan semua ini agar dapat menggiring pendapat penduduk tentang kau yang akan menjadi calon Ratu?”
“A-apa maksudmu? Omong kosong seperti apa itu?” Laila menjawab perkataan Kabhir dengan suaranya yang terdengar terbata.
__ADS_1
“Apa yang sedang kau perhatikan?”
Aku sedikit tertegun sebelum menoleh ke belakang saat suara laki-laki terdengar di sampingku, “sesuatu yang menarik untuk ditonton. Lagi pun, dari mana saja kau, nii-chan?” balasku bertanya, sembari mengarahkan pandangan kembali ke arah mereka.
“Aku baru saja menemani Haruki menjemput seseorang. Justru, aku mencarimu,” ungkapnya yang lagi-lagi terdengar.
“Seseorang? Siapa?”
“Keponakan Viscount yang akan menggantikan Viscount Okan untuk sementara,” tukas Izumi kembali menjawab pertanyaanku.
“Kemarilah,” ucap Zeki menoleh lalu melambaikan tangannya ke arahku.
“Dia memanggilmu. Apa yang kau lakukan di sini? Temui dia” timpal Izumi diikuti usapan yang menyentuh punggungku.
Aku berjalan mendekati Zeki, “apa kalian mengingatnya?” tanya Zeki sembari meraih tanganku untuk berdiri di sampingnya.
“Dia perempuan, yang kalian permalukan. Apa kalian tidak tahu siapa dia?!” Pertanyaan kuat yang Zeki lemparkan terdengar menusuk di telingaku.
“Dia sengaja mengenakan pakaian seperti ini, karena dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Dan berani-beraninya kalian melecehkan dia?!”
“Aku akan mengatakan hal ini dengan sangat mudah agar pikiran kalian pun bisa mengerti … Dia, calon Isteriku. Seseorang, yang kelak menjadi Ratu yang bersanding denganku. Ratu, yang akan menjadi Ibu dari Pangeran dan Putri Kerajaan Yadgar,” ungkapnya dengan menyentuh punggungku menggunakan telapak tangannya.
"Lalu dengan beraninya kalian merendahkan dia! Akash, penjarakan para perempuan ini! Jika perlu, eksekusi mereka semua!"
"Yang Mulia."
Aku melirik ke arah Laila saat suaranya itu terdengar bergetar. "Aku akan mengatakannya hanya untuk menyadarkanmu. Aku, berteman denganmu hanya karena, kau dulu dengan bodohnya selalu memberikanku informasi apa pun yang kau dengar dari orang-orang itu."
"Jika kau berpikir aku melakukannya karena aku, tertarik kepadamu ... Kau hanya bermimpi. Untuk apa aku tertarik pada perempuan lain, jika tunanganku sendiri sangat mengagumkan," sambung Zeki dengan beralih menatapku.
"Tunangan?"
__ADS_1
Aku kembali melirik ke arah Laila yang mengangkat kepalanya menatapku, "Putri Takaoka Sachi, tunangan dari Raja Zeki Bechir. Kuharap kalian semua, mengingat wajahku dengan sangat baik," ungkapku dengan melemparkan pandangan ke arah para pelayan restoran yang duduk terdiam menatapku di belakang Laila.