
“Jadi seperti itu,” ungkap Haruki yang berjalan lalu berjongkok di samping ranjang menatap Ryuzaki.
“Ryu,” sambung Haruki dengan meraih lalu menggenggam tangan Ryuzaki, “kakakmu ini, akan menjagamu,” lanjut Haruki kembali sambil tersenyum menatapnya.
Haruki melemparkan pandangannya ke arahku, “jadi Arata yang ditugaskan Ayah untuk menjaganya?” Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Haruki, “Tsubaru turut membantu Arata untuk menjaganya. Terlalu berbahaya jika banyak orang yang mengetahui tentangnya,” ungkapku kembali dengan mengarahkan pandangan kepada Ryuzaki.
“Aku mengerti, aku akan menemui Tatsuya. Kalian berdua, beristirahatlah sebelum makan malam,” ungkap Haruki beranjak berdiri sebelum berbalik lalu melangkah dengan melirik ke arah Izumi dan Eneas bergantian.
“Sachi, bisakah kita berbicara … Berdua,” ungkap Izumi sambil melirik ke arah pintu kamar.
Aku mengangguk pelan lalu beranjak berdiri, “Ryu, aku pergi dulu,” ungkapku tersenyum menatapnya sebelum berbalik melangkahkan kaki mendekati pintu.
“Tsu nii-chan, tolong jaga dia,” tukasku kembali saat kedua kakiku berhenti di hadapan Tsubaru.
Tsubaru membungkukkan tubuhnya tanpa sedikit pun mengangkat wajahnya, “serahkan semuanya kepadaku, Putri,” ungkapnya yang masih enggan untuk mengangkat wajahnya itu.
Aku mengalihkan pandangan ke arah punggung Izumi yang masih menungguku di luar. Kedua kakiku melangkah mengikutinya dengan pandangan mata yang mengarah kepada Eneas dan juga Lux yang berjalan menjauh dengan arah yang berbalik dari yang Izumi tuju, “nii-chan,” ucapku pelan sambil tetap menatapi punggungnya yang terus berjalan di depanku.
Izumi menghentikan langkah kakinya, dia berbalik dengan berjalan pelan ke arahku, “Sachi,” ucapnya yang tiba-tiba saja sudah duduk berjongkok di hadapanku, “terima kasih, terima kasih, terima kasih,” ucapnya berulang-ulang dengan tetap membungkukkan kepalanya dariku.
“Kenapa? Kenapa Izu-nii harus berterima kasih? Aku, hanya membawa pulang kembali Ibu … Itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang anak,” ungkapku yang masih menatapi kepalanya itu.
Dengan perlahan, Izumi mengangkat wajahnya menatapku, “kau benar,” ungkapnya yang kembali menatap kosong ke depan.
Aku menghela napas sebelum duduk berjongkok di hadapannya, “dibandingkan itu, bagaimana dengan Zeki saat dia tahu aku menghilang? Apa dia mengatakan sesuatu?” tanyaku hingga Izumi kembali menatapku.
__ADS_1
“Ah, beruntung kau mengingatkanku. Dia menitipkan surat untukmu,” tukas Izumi, dia sedikit menunduk dengan sebelah tangannya bergerak merogoh ke dalam tas yang ia bawa.
“Suratmu,” ucapnya lagi dengan memberikan selembar kertas kepadaku.
Aku seperti mendapatkan firasat buruk akan surat itu.
Aku menarik napas dalam sebelum meraih surat yang ada di tangan Izumi, “kau ingin aku membacakannya?” tukas Izumi yang kembali menarik surat tadi sebelum aku sempat meraihnya.
“Nii-chan, berikan! Berikan suratnya kepadaku!” tukasku ikut beranjak saat dia telah beranjak terlebih dahulu dengan membuka lembar surat yang ada di tangannya.
“Aku … Aku tidak akan memaafkanmu jika kau membacanya, nii-chan,” ungkapku sambil melompat berusaha mengambil surat tersebut.
Izumi semakin berjinjit dengan mengangkat tinggi sebelah tangannya yang menggenggam surat tadi, “kau tahu harus melakukan apa, bukan?” tukasnya sambil melirik tajam ke arahku.
Aku menghela napas dengan mengusap keningku sendiri, “kakakku yang tampan, kakakku yang baik hati, kakakku yang tiada duanya … Kasihanilah Adikmu ini,” aku memelas dengan mengangkat kedua tanganku ke arahnya.
Aku dengan cepat menoleh ke belakang, “nii-chan, apa kau membaca suratnya?!” bentakku saat dia telah selesai berbicara dengan tetap melanjutkan langkahnya.
Izumi tertawa kencang tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, “kau benar, aku membacanya sampai habis saat di perjalanan. Tidak perlu berterima kasih, kakakmu ini dengan senang hati membacakannya untukmu,” sambung Izumi sambil melambaikan telapak tangannya saat kedua kakinya masih lanjut melangkah.
Mulutku terbuka lebar sebelum aku menggigit kuat bibirku, "eruntung kau Kakakku, jika tidak … Entah apa yang akan aku lakukan,” aku mencengkeram kuat kertas yang ada di tanganku tadi dengan tetap menatap punggung Izumi yang kian jauh terlihat.
_________________.
Aku melangkah menyusuri Istana, kualihkan pandanganku ke arah taman yang terlihat gelap karena minimnya cahaya. “Nii-chan,” tukasku memanggilnya saat pandanganku terjatuh kepada Haruki yang tengah berjalan dengan Tatsuya yang juga ikut melangkah di sampingnya.
__ADS_1
Haruki berbalik, dia menggerakkan sedikit kepalanya seakan memintaku untuk segera mendekatinya. "Selamat malam, Putri,” tukas Tatsuya membungkukkan tubuhnya saat aku telah berdiri di dekat mereka.
“Selamat malam,” jawabku dengan mengangguk pelan menatapnya.
“Kau tidak bersama Tsubaru?”
Aku mengalihkan pandangan kepada Haruki dengan menggelengkan pelan kepalaku, “aku telah meminta Tsubaru untuk pergi terlebih dahulu, dia harus membantu Arata memapah Ryu ke ruang makan,” tukasku yang kembali melanjutkan langkah di sampingnya.
“Aku mengerti,” sambung Haruki, dia menoleh dengan mengusap pelan kepalaku.
Kami berdua berjalan dengan membicarakan masalah yang terjadi di Kerajaan. “kita akan melanjutkan pembicaraannya besok,” ucap Haruki yang dibalas dengan anggukan kepala Tatsuya.
Aku kembali melanjutkan langkah, mengikuti Haruki yang telah berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam ruangan, kulemparkan pandanganku ke arah Izumi, Eneas dan Ryuzaki yang telah duduk di kursi mereka masing-masing. “Apa Ayah dan Ibu belum datang?” tanya Haruki, dia menarik kursi yang ada di samping Eneas lalu mendudukinya.
“Mungkin sebentar lagi,” timpal Izumi, dia menarik kursi yang ada di sampingnya. “Terima kasih, nii-chan,” ucapku saat aku telah duduk di kursi yang sebelumnya Izumi tarik.
“Sepertinya Ibu berkerja sangat keras hari ini,” gumam Izumi kembali, ikut kuarahkan pandanganku ke arah hamparan piring-piring berisi penuh makanan yang ada di atas meja.
"Sepertinya," timpal Haruki yang juga menatapi hal yang sama.
Aku menoleh ke samping saat suara Kesatria yang berdiri di luar terdengar, kutatap ... Ibu yang berdiri membeku di samping Ayah diikuti kedua matanya yang melirik ke arah kami bergantian.
Ibu tertunduk, dia menutup rapat wajahnya diikuti suara isak yang hampir tak terdengar darinya. "Aku, sedang tidak bermimpi, bukan?" tukasnya suaranya yang terdengar terputus-putus di telinga.
"Semua anakku duduk untuk makan di meja yang sama. Suamiku," ungkapnya kembali sambil mengangkat wajahnya menatap Ayah yang berdiri di sampingnya, "keinginanmu tercapai. Aku, tidak tahu harus menga-"
__ADS_1
"Ibu," ucap Izumi yang langsung memotong perkataannya, "kami sangat kelaparan. Bahkan perut Sachi tak henti-hentinya berbunyi."
Aku dengan cepat menoleh ke arahnya, kugenggam kuat tanganku saat Izumi balas tersenyum menatapku, "Izu nii-chan benar, Ibu. Kami sudah tidak sabar mencicipi masakan Ibu," ungkapku saat wajahku berbalik menatapi Ibu yang masih tertegun mengawasi kami.