Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXC


__ADS_3

Aku tertegun menatap punggung Kou dengan sesekali melirik ke arah Ibuku yang masih duduk bersandar di dekat perutnya tak sadarkan diri. “Ada apa, My Lord?” tanya Kou yang membuatku beralih menatapnya.


“Aku, tidak bisa menjaga mereka berdua sekaligus di atas punggungmu, Kou,” gumamku dengan berbalik lalu melemparkan pandangan ke sekitar.


“Bibi!” Aku berteriak memanggilnya lalu melangkahkan kaki mendekati perempuan muda cantik yang berdiri tidak terlalu jauh dariku.


“Bibi, apa Bibi bisa mengendalikan batang pohon? Maksudku membentuk batang-batang pohon tadi menjadi benda lain?” tanyaku dengan meraih lalu menggenggam kedua tangannya.


“Mana mungkin aku bisa melakukannya. Sihirku tidak sekuat itu, akan tetapi … Jika kau bisa membujuk Kakekmu itu, mungkin dia akan melakukannya,” bisiknya di samping telingaku.


Aku menarik napas dengan melirik ke arah laki-laki yang juga melirik ke arah kami dari atas rusa yang ia naiki. Aku meneguk air ludahku sendiri dengan kedua kakiku melangkah mendekati laki-laki yang disebut sebagai kakekku itu, “Kakek,” ucapku saat kedua kakiku berhenti melangkah di dekat rusa yang ia tunggangi.


“Aku tahu jika Kakek tidak suka dengan kedatanganku, maka dari itu … Bisakah kakek membantuku? Anggap saja itu sebagai pengusiran untukku. Boleh ya, kek? Kumohon,” ungkapku dengan duduk berlutut di dekat rusanya itu.


Aku menoleh ke belakang saat suara tawa perempuan terdengar keras dari arah belakang, “bukan hanya wajah kalian yang sama. Bahkan sifat kalian pun hampir mirip … Ardella, Putrimu benar-benar menakjubkan,” ungkap perempuan yang menjadi bibiku itu berjalan mendekat.


“Kemarilah, Sachi! Jika Ayah hanya berdiam diri tanpa menjawab permintaanmu, maka sudah dipastikan dia akan membantumu. Tinggallah bersama dengan Bibi untuk beberapa hari, pinta hewan milikmu itu untuk membawa Ibu dan Adikmu ke rumah Bibi,” ucapnya tersenyum dengan menepuk pelan belakang punggungku.


______________.


“Astaga, punggungku,” ungkapku dengan menepuk-nepuk punggung saat aku telah menuruni tubuh saudaraku itu ke ranjang. “Aku, akan membuatkanmu makanan. Tunggulah di sini,” ucapku kembali saat dia menahanku dengan menggenggam kuat lenganku.


“Aku, akan segera kembali,” sambungku dengan melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tanganku.


Aku berjalan ke luar dari kamar, langkahku kembali berhenti … Kubuka tirai kamar yang ditempati Ibuku, kupandang dia yang masih lelap tertidur tak sadarkan diri. Aku menghela napas sebelum berjalan kembali menyusuri rumah kayu milik Bibiku itu. “Bibi, apa aku bisa meminjam dapurmu?” tanyaku dengan berjalan ke arahnya yang tengah duduk di salah satu kursi yang ada di tengah ruangan.

__ADS_1


“Kau bisa memasak? Tapi Bibi tidak memiliki persedian makanan apa pun sekarang, apa kau ingin berburu?”


“Apa Bibi memiliki panah?”


“Kau bisa memanah?” Aku segera menganggukkan kepalaku dengan cepat saat dia menanyakannya.


“Tunggu di sini, Bibi akan menyiapkan semua senjata. Aku tidak menyangka, akan ada hari di mana, aku bisa berburu dengan keponakanku sendiri,” ucapnya dengan kegirangan sambil berjalan meninggalkanku.


Aku berbalik lalu berjalan ke arah pintu, kedua kakiku berhenti di depan pintu dengan melirik ke arah beberapa Elf yang berdiri menatap rumah kami dari kejauhan. “Kou, tetaplah berjaga dan berhati-hatilah,” ungkapku dengan melirik ke arah Kou yang duduk berjaga di samping rumah.


“Sachi!”


Aku kembali menoleh ke belakang, kutatap Bibiku yang tengah berjalan mendekat dengan dua busur panah di tangannya. “Panah untukmu,” ucapnya dengan mengarahkan salah satu busur yang ada di tangannya ke arahku.


Dia berjalan ke samping pintu dengan membungkuk meraih sebuah tabung kayu berisi beberapa puluh anak panah di dalamnya. “Ikuti aku, Sachi! Abaikan mereka semua,” ucapnya kembali beranjak berdiri lalu melangkah keluar dari rumah meninggalkanku.


“Yasinta. Apa kau tidak ingin bertanya usia bibi juga?” Dia balik bertanya dengan menoleh ke arahku.


“Aku hanya merasa, itu tidak sopan,” ungkapku tersenyum lalu melemparkan pandanganku lagi ke depan.


“Apa kau baik-baik saja?”


Aku kembali menoleh ke arahnya saat suaranya terdengar mengatakannya, “ah, kakiku? Aku bahkan tidak sadar jika aku sama sekali tidak mengenakan alas kaki,” ungkapku ketika ikut mengarahkan pandangan mata ke arah kakiku.


“Berbahagialah. Akhirnya, kalian bisa bertemu kembali,” ucapnya sembari ikut kurasakan tepukan bercampur usapan yang menyentuh punggungku.

__ADS_1


Aku menundukkan pandangan, menatap ke arah kedua kakiku yang terus melangkah, “Bibi benar. Tidak ada yang membahagiakanku, selain kebahagian dari keluargaku sendiri,” ucapku, aku menarik napas lalu mengembuskannya kembali saat aku mengangkat lagi wajahku.


____________.


Bibi Yasinta mengajakku menjauhi pemukiman, lempengan es yang sebelumnya menutupi rumput kini telah menghilang, “Bibi, bisakah aku bertanya sesuatu?”


Dia kembali menoleh ke arahku dengan kedua kakinya yang terus melangkah, “bertanya apa? Tanyakan saja,” ucapnya yang tersenyum lalu merangkul tubuhku saat aku telah kembali berjalan di sampingnya.


“Aku, memiliki seorang rusa yang sama seperti kalian semua miliki. Aku, hanya tidak mengerti … Untuk apa rusa itu,” ungkapku, aku melirik ke belakang … Ke arah seekor rusa besar yang terus-menerus mengikuti kami dari kejauhan.


“Rusa Agung, sama seperti nyawa kita. Mereka, menyimpan semua sihir kaum Elf, sebelum melakukan sebuah kontrak … Kita pasti memberikan nama untuk mereka, bukan? Jangan pernah memberikan nama rusa milikmu kepada musuh yang akan kau hadapi … Dia akan mati saat rusa itu dipanggil oleh seseorang selain Tuan yang ia layani, ketika dia mati, Tuannya pun akan ikut kehilangan nyawanya. Ingatlah itu, Sachi,” ucapnya yang dengan seketika merubah intonasi suaranya.


“Rusa Agung, tidak akan terluka atau mati, hingga Tuannya sendiri mati. Tidak ada yang bisa melihat mereka, kecuali kita yang memiliki mata hijau,” ucapnya kembali tersenyum menatapku.


“Jadi seperti ini telinga manusia,” kepalaku sedikit tertunduk saat dia menekan kepalaku ke samping, “telinga manusia aneh sekali. Bagaimana kalian bisa mendengar dengan jelas, dengan telinga pendek seperti ini,” ucapnya kembali diikuti jari-jemarinya yang bergerak memainkan telingaku itu.


“Telinga kami bahkan bisa mendengar sangat jelas, ketika ada yang membicarakan kami,” jawabku dengan mengusap telingaku tadi saat jari-jemarinya terlepas dari telingaku.


“Pinta kepada Ayahmu, untuk benar-benar menjaga Adikku. Jika dia kembali dengan keadaan terluka lagi, aku sendirilah yang akan menjauhkan mereka berdua,” ungkapnya sambil membuang kembali pandangannya ke depan.


“Ayahku, orang yang paling terluka saat dia kehilangan Ibuku. Dibanding mengutuk Ayahku, kenapa tidak membantuku untuk membalaskan dendam pada Kaisar yang telah membuat Ibuku seperti itu,” ucapku sembari menghentikan langkah hingga bibi Yasinta ikut menghentikan langkahnya di sampingku.


“Aku memiliki banyak sekali makhluk selain manusia yang melayaniku, itu karena … Aku, ingin sekali membalaskan semua dendamku pada mereka yang telah menyakiti keluargaku. Bibi, aku hanya memberitahukan hal ini, hanya karena kau, bibiku,” ucapku, dia melepaskan rangkulannya di pundakku saat aku mengatakannya.


“Dunia ini akan hancur, semua makhluk akan musnah … Kaisar, memiliki Robur Spei-”

__ADS_1


“Robur Spei?” Dia melangkah maju dengan wajah penuh khawatir menatapku.


“Apa bibi, mengetahui tentang bunga itu?” tukasku balas bertanya kepadanya.


__ADS_2