Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXXXV


__ADS_3

"Aku sampai sekarang tidak mengerti, apa hubungannya biji padi kering dengan pengkhianatan?" Tanya Niel mengalihkan pandangannya menatapku.


"Biji padi yang telah kering kugunakan untuk mendeteksi kebohongan."


"Tubuh manusia itu unik, dan semua keunikannya akan sangat sayang sekali jika dilewatkan," sambungku mengalihkan pandangan dari tatapannya.


"Saat manusia berbohong, mereka terbiasa merasakan kecemasan agar kebohongan mereka tak terkuak. Saat itu, otak atau yang ada di dalam kepala kalian, memberikan respon balik kepada tubuh kalian akan hal itu," ucapku seraya kuarahkan pandanganku menatap para Kesatria yang masih berlutut tadi.


"Dan air ludah salah satu respon dari otak. Saat seseorang mengalami kecemasan, air ludah di dalam mulutnya akan bertambah lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Karena itulah," ucapku kembali seraya kuangkat kepalaku menatap Niel yang masih menoleh ke arahku.


"Aku memintamu untuk menanyakan mereka satu-persatu secara langsung untuk melihat reaksi mereka. Dan biji padi kering itu, bisa dikatakan... Saat air ludah di dalam mulut terlalu banyak, tentu saja biji padi tersebut akan tertelan dengan mudah tanpa sadar oleh mereka. Trik mudah ini, sudah lebih dulu dilakukan oleh para nenek moyang untuk mendeteksi kebohongan pada para tahanan yang mereka dapatkan..."


"Jadi, apa kalian masih tidak ingin berkata jujur kepada kami?" Sambungku kembali mengalihkan pandangan dari Niel, kulirik kakakku Haruki yang telah berdiri di belakang lima Kesatria tadi.


"Yang Mulia, ampunilah hamba," ucap seorang Kesatria menggerakkan tubuhnya bersujud di hadapan kami, kualihkan pandanganku pada tiga orang Kesatria lainnya yang masih diam tertunduk.


"Untuk apa? Apa yang ingin aku ampuni? Aku ingin mendengarnya dengan sejelas mungkin!" Ungkap Niel melangkahkan kakinya mendekati Kesatria tadi.


"Anakku, anakku ditangkap oleh mereka. Aku, tidak bisa menolak perintah mereka. Maaf, maafkan hamba mu ini, Yang Mulia," tangis Kesatria tadi dengan masih berlutut.


"Jika yang kau katakan itu benar, maka aku akan membantumu menyelamatkan anakmu," ucapku, diangkatnya kepalanya tadi menatapku.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengingkari janji. Karena itu, katakan semuanya padaku! Siapa itu Tuan? Dan dimana tempat persembunyiannya?" Ucapku lagi padanya.


"Aku... Aku tidak bisa mengatakannya, Tuan itu sangatlah berkuasa. Dan... Dan," ucapnya, kuikuti gerakan matanya yang melirik ke arah lain.


"Eneas, Lux." Ucap Haruki, mengalihkan pandangan pada Eneas yang masih berdiri di samping salah satu Kesatria.


Eneas berjalan mendekati Haruki dengan sebuah botol kaca berisi beberapa benda bulat di dalamnya. Diletakkannya botol tadi ke atas telapak tangan Haruki yang telah mengarah padanya.


"Daisuke, bantu aku membuka mulut mereka!" Ucap Haruki kembali dengan kedua tangannya bergerak membuka penutup botol tadi.


Daisuke mengangkat kakinya dari atas kepala Kesatria yang sudah tak bergerak itu. Dia berjalan dan berdiri di samping Haruki seraya tangannya meraih dan mencengkeram pipi salah satu Kesatria.


Haruki menggerakkan telapak tangannya mendekati mulut Kesatria tadi yang dipaksa terbuka oleh Daisuke. Lama tangannya membekap mulut Kesatria tersebut...


Salah seorang Kesatria tiba-tiba terjungkal ke belakang, tubuhnya mengejang-ngejang. Sisa darah yang masih sedikit mengalir di lengannya semakin menempel di pakaian yang ia kenakan saat tubuhnya kembali dan kembali mengejang-ngejang tanpa henti.


"Apa dia sudah mati?" Ucap Haruki mengarahkan kakinya menepuk-nepuk pipi Kesatria tadi yang sudah tak bergerak.


"Apa yang kalian berikan pada kami?!" Teriak salah satu Kesatria yang sebelumnya diberikan benda yang sama oleh Haruki.


"Hanya biji pala. Kami mendapatkannya dari sebuah desa, memakannya secara langsung dapat menyebabkan reaksi yang sama seperti kalian mengonsumsi serbuk memabukkan itu, dan akibat buruknya adalah kematian seperti temanmu tadi," ucapku menatap tajam pada dua Kesatria tadi.

__ADS_1


"Sepertinya mereka memerlukan lebih banyak hal tersebut. Daisuke, buka kembali mulut mereka!" Ucap Haruki kembali melangkahkan kakinya mendekati salah seorang Kesatria tadi.


"Jangan, jangan lakukan! Kumohon," ucapnya mengalihkan pandangannya menatap Haruki, ikut terdengar suara tawa dari Kesatria lainnya yang memenuhi ruangan.


Pandangan mataku terjatuh pada Kesatria lainnya tadi yang telah menggulingkan tubuhnya di lantai. Kembali suara cekikikan keluar dari dalam bibirnya diikuti sebelah tangannya yang terangkat ke atas.


"Tuan, kau memang menawan," ucap Kesatria tadi menggerak-gerakkan tangannya di udara.


"Aku, akan melakukan apapun untukmu, Tuan," ucapnya lagi diikuti senyum yang tak kunjung hilang dari wajahnya.


"Sepertinya hanya kalian berdua yang masih hidup dan juga sadar," ucap Haruki mengarahkan pandangannya pada dua orang Kesatria yang masih berlutut di hadapanku.


"Teman kalian yang itu sedang tak sadarkan diri. Akan mudah sekali menarik informasi dari seseorang sepertinya... Akan tetapi, aku memberikan kalian kesempatan khusus untuk membela diri," ucap Haruki menggerakkan kedua tangannya menyilang di dada.


"Tuan ... Tuan," ucap Kesatria yang tak sadarkan diri tadi berulang kali.


Dua orang Kesatria yang masih berlutut tadi masih diam tanpa suara, salah satu diantaranya tampak menggenggam celana yang ia kenakan hanya dengan sebelah tangannya.


"Aku akan menjamin keselamatan kalian. Bagaimana pun, kalian telah menjagaku dan juga Anakku... Jadi, tidak bisakah kalian mengatakan yang sebenarnya padaku?" Tukas Niel memecah keheningan.


"Yang Mulia," ucap salah seorang Kesatria yang menangisi anaknya tadi.

__ADS_1


"Aku hanya ingin masalah ini cepat terselesaikan. Sebelum, korban yang jatuh semakin banyak," ucap Niel kembali, kuarahkan pandanganku menatap tangannya yang tergenggam kuat.


__ADS_2