
"Tari yang akan ditampilkan, adalah sebuah tarian khas Kerajaan kami yang akan dibawakan langsung oleh mempelai pengantin perempuan. Tarian ini disebutkan sebagai tarian pagar pengantin, sebagai perpisahan untuk sang mempelai pengantin perempuan melepaskan kehidupan lamanya menuju ke kehidupan barunya," terdengar suara Ajeng menyentuh telingaku, kualihkan pandanganku meraih kuku emas terakhir yang tergeletak tak terlalu jauh dari kakinya Wasfiah.
"Pemasangan kuku atau tanggai seperti yang kalian lihat sekarang, memiliki arti jika sang mempelai perempuan walaupun telah melepaskan kehidupan lamanya, ia haruslah selalu cantik dan anggun terlebih di hadapan suaminya..."
"Pangeran Danurdara Pangestu, sang mempelai laki-laki yang juga telah berdiri di belakang sang mempelai perempuan. Berartikan, bahwa ia sanggup untuk melindungi dan membahagiakan Istrinya kelak..."
"Dua tombak yang dibawa oleh dua orang Kesatria, berartikan sebuah harapan... Semoga pernikahan mereka selalu terlindungi dari marabahaya..."
"Sedangkan payung besar yang ada di belakang mereka, berisikan doa... Agar Deus selalu menjaga dan melindungi pernikahan mereka sampai akhir hayat," sambung Ajeng kembali, kugerakkan tubuhku beranjak berdiri di hadapan Wasfiah sembari kugerakkan kembali kakiku berjalan membelakanginya...
Kualihkan pandanganku ke sekitar, tampak ratusan pasang mata yang ada di ruangan luas ini menatap kepada kami. Alunan musik terdengar pelan dan mendayu-dayu, kugerakkan tubuhku bergerak mengikuti alunan musik tersebut... Kuku-kuku emas yang aku gunakan ikut menari bersamaan tubuhku yang hanyut terbawa alunan musik tersebut.
_______________
"Lelah sekali," ucap Julissa, kualihkan pandanganku padanya yang tengah mengarahkan pandangannya ke atas tampak juga terlihat kuku-kuku emas yang masih berada di jari tangannya bergerak pelan tatkala ia menggerakkan telapak tangannya tadi mengipasi wajahnya.
"Kau yakin baik-baik saja?"
"Aku lelah sekali, tubuhku basah penuh keringat. Dan rambutku, aku ingin cepat-cepat mandi," rengek Julissa, diarahkannya pandangannya tadi menatap padaku.
"Akupun lelah, kepalaku juga sedikit terasa berat. Ini pertama kalinya untukku memakai hiasan kepala sebanyak ini," ungkapku, ikut kualihkan pandanganku menatap ke depan.
Pandangan mataku terjatuh pada Zeki dan juga Adinata yang telah berdiri bersandar pada dinding lorong Istana. Tampak topi yang Zeki kenakan sebelumnya telah berada di genggamannya...
Kualihkan pandanganku pada Julissa yang telah berjalan mendekati Adinata, berbalik mereka sembari melangkah berdampingan meninggalkan Zeki. Ikut melangkah aku mendekati Zeki yang juga telah melangkahkan kakinya mendekati...
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak menyangka jika kau bisa menari seperti itu," ucapnya, kualihkan pandanganku padanya yang juga telah berjalan di sampingku.
"Bibi Ajeng benar-benar mengerikan, aku tidak sanggup jika harus mendengarkan semua celotehan darinya," ungkapku, kembali kuarahkan pandanganku menatap lurus ke depan.
"Sa-chan!"
Menoleh aku ke arah suara yang terdengar dari arah belakangku, kutatap Ayahku berjalan dengan Haruki, Izumi dan Eneas yang juga ikut berjalan di sampingnya.
"Bagaimana keadaanmu?" ucap Ayah, kutatap dia yang telah berdiri merangkul tubuhku.
"Hanya sedikit lelah Ayah, apa kau lihat kuku-kuku emas yang ada di jari-jemari tanganku?" ucapku ikut melangkahkan kaki berjalan di sampingnya, kuangkat seraya kugerakkan jari-jariku tadi ke hadapanku.
"Kau membuat Ayahmu ini terkagum-kagum melihatmu, kau terlihat sangat cantik sekali saat menari," ucap Ayah tersenyum menatapku.
"Terima kasih, aku pun sebenarnya tidak menyangka dapat melakukannya," ungkapku balas tersenyum menatapnya.
"Kalianlah yang menciptakan tubuhku seperti ini, aku jadi harus berusaha lebih keras untuk membuat tubuhku sedikit lentur," ucapku menjawab perkataan darinya.
"Apa kalian akan segera pergi?" terdengar kembali suara pelan Ayahku, kualihkan pandanganku menatapnya yang terlihat tertunduk mengalihkan pandangan.
"Semakin cepat kami pergi, semakin cepat kami berkumpul bersamamu lagi Ayah. Ayah tahu bukan? Aku sungguh-sungguh tidak ingin meninggalkanmu," ucapku, kuarahkan tanganku meraih dan menggenggam pelan tangannya.
"Tapi bukankah terlalu cepat, apa kalian tidak bisa tetap disini bersamaku sedikit lebih lama," ucapnya lagi, kutatap dia yang telah mengarahkan pandangannya menatap lurus ke depan.
"Ayah, sebenarnya... Kami ingin sekali pulang bersamamu, akan tetapi... Kaisar memiliki sebuah benih bunga, aku melupakan namanya... Jika benih tersebut tak segera kami dapatkan kembali darinya..."
__ADS_1
"Kita semua, dunia ini... Akan binasa," terdengar kembali suara Haruki, kuarahkan pandanganku menatap padanya yang telah mengarahkan pandangannya menatap pada Ayah.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan," ucap Ayahku, kualihkan pandanganku kembali menatapnya.
"Ayah, apa kau percaya adanya Naga?" ucapku, kutatap Ayahku yang menoleh balas menatapku.
"Naga? Seperti kabar simpang-siur yang dikabarkan jika Kaisar memilikinya?"
"Ayah, yang hampir membunuh kami dahulu adalah Naga milik Kaisar. Naga tersebut hampir membakar habis tubuh kami jika saja..."
"Jika saja apa?" ucapnya memotong perkataanku, kurasakan nada suaranya meninggi dengan sedikit gemetar.
"Jika saja Naga milik Sachi, tidak menyelamatkan kami," sambung Izumi ikut menimpali.
"Naga?"
"Apa yang kalian maksudkan?" Sambung Ayah, langkah kakinya terhenti seraya berbalik ia balas menatap Izumi.
"Kerajaan kita memiliki Naga sama seperti Kaisar, jika Naga miliknya adalah api, maka Naga yang dimiliki Sachi adalah es. Karena itu Ayah, kami tidak akan mendapatkan kesempatan apapun. Apapun itu, untuk menghancurkan Kekaisaran, jadi Ayah..."
"Tunggu sebentar," ucap Ayah menghentikan perkataan Haruki.
"Kau memiliki seekor Naga?" ucapnya menoleh menatapku, mengangguk aku membalas perkataannya tadi.
"Kau tidak berbohong pada Ayahmu ini bukan?"
__ADS_1
"Aku akan memanggilnya sekarang jika kau benar-benar ingin bertemu dengannya, Ayah," ucapku diiringi anggukan pelan kepalaku menatapnya.