
"Sa-chan."
Terdengar panggilan tersebut berulang-ulang, aku berjalan mendekati pintu kamar yang tak henti-hentinya berbunyi ketukan dari luar. Suara deritan kayu terdengar samar saat kedua kakiku berjalan menyusuri lantai kayu cokelat yang berbaris rapi di kamar.
"Ada apa nii-chan?" Ungkapku saat kubuka pintu kamar.
"Kita akan memutari pasar, semuanya telah menunggu di bawah," ucap Haruki berdiri tegap menatapku di samping pintu.
"Sekarang? Tapi, kalau sekarang... Aku harus memasang kembali rias..."
"Tidak perlu, berpakaian saja seperti biasanya. Kau tidak perlu menyamar," ucap Haruki memotong perkataanku.
"Eh?" tanyaku menatapnya kebingungan.
"Kami akan menunggumu di bawah. Cepatlah bersiap-siap," tukasnya melangkah menjauh.
"Aku mengerti," ucapku seraya kugerakkan kembali tanganku menutup pintu kamar.
__________________
"Kau telah siap?" Tukas Haruki menggerakkan kepalanya menoleh menatapku.
"Aku tidak menyangka, di kamarku sudah tersedia banyak sekali gaun," ungkapku menggerakkan kaki melangkah menuruni tangga.
"Karena dia selalu mengajak perempuan ke sini, jadi wajar saja jika tempat ini dipenuhi pakaian perempuan," ucap Haruki mengalihkan pandangannya kepada Costa.
"Kamar itu sengaja aku persiapkan untuk Putri Sachi sejak surat yang kau kirimkan datang padaku. Semua gaun yang ada di kamarnya, dipersiapkan khusus untuknya," ucap Costa membalas tatapan Haruki.
Aku bergerak semakin mendekati Haruki, kubalas tatapan perempuan sebelumnya yang masih menatapku tajam. Kugerakkan kepalaku menatap ujung kaki lalu beralih kembali naik ke atas... Apakah ada yang salah dengan penampilanku? Kenapa tatapannya seperti itu.
"Kita pergi sekarang," ucap Haruki berbalik melangkah pergi, ikut kugerakkan tubuhku mengikuti langkah kakinya.
Kedua kakiku melangkah keluar, terpaan sinar matahari menusuk-nusuk kulitku dengan cepat. Kuangkat telapak tanganku yang telah banjir akan keringat... Gaun biru yang aku kenakan terasa semakin berat menggantung di tubuhku.
Kami berenam berjalan menyusuri jalan, bangunan-bangunan kayu yang megah tampak berbaris rapi di sisi kanan dan kiri jalan. Mereka yang keluar masuk bangunan tersebut tampak mengenakan pakaian yang mungkin tak akan dikenakan oleh rakyat biasa.
__ADS_1
Para perempuan yang berjalan bersama mereka, semuanya terlihat anggun dan cantik. Pakaian kumuh dan robek yang sering ditemui pada perempuan pada umumnya, tak ditemukan di sini. Semuanya cantik, semuanya anggun dan semuanya...
"Sekarang aku mengerti, kenapa kau membawa perempuan ke sini Costa," ucap Haruki sembari terus melangkah maju tanpa menoleh.
"Apa kau harus selalu membahasnya wahai Pangeran?"
"Tentu, aku akan selalu membahasnya," ucap Haruki kembali seraya kepalanya bergerak ke kiri dan juga ke kanan.
Mataku tertegun saat bangunan jalan yang berisikan bangunan berakhir. Aku... Ini pertama kalinya untukku menemukan pasar seramai ini selama aku hidup sebagai Sachi. Bahkan dari kejauhan, kau dapat mencium aroma yang siap memanjakan hidung.
Aku bergerak mengikuti langkah kaki Haruki yang berjalan di depan kami. Kedua mataku bergerak menatapi keadaan pasar tersebut. Kugerakkan tangan kiriku bergerak meraih dan mencengkeram lengan Kakakku saat pandangan mataku terjatuh pada potongan lengan manusia yang tersusun rapi di depan sebuah toko, tampak darah masih menetes dari potongan lengan yang tergantung tadi.
"Apa kau ketakutan Putri?"
"Ah maaf, aku pikir aku menggandeng lengan Kakakku," ucapku mengangkat tanganku dari lengannya, kulangkahkan kakiku menyusul Haruki yang telah berjalan semakin menjauh.
"Nii-chan," ucapku mendekati Haruki, diraih dan digenggamnya tanganku saat kepalanya menoleh menatapku.
"Jangan berjalan terlalu jauh dariku," ucapnya, kubalas perkataannya tersebut dengan anggukan pelan kepalaku.
"Ada apa itu?" Ucap Haruki menatap Costa yang telah berdiri di sampingku.
"Permainan. Jika kau menang, kau akan mendapatkan uang yang sangat banyak," ucapnya kembali mengarahkan pandangannya pada kerumunan tersebut.
"Permainan?"
"Dua orang akan bertarung, dan masing-masing akan memegang pisau di tangan mereka. Mereka akan bergantian menyerang dan menghindar. Intinya, jika kau kalah... Tanganmu akan tertancap pisau yang dipegang oleh lawan di dekatmu," ucap Costa menjawab pertanyaan Izumi.
"Apakah hadiahnya besar?"
"Apa kau penasaran ingin mencobanya Putri?"
"Bukan aku, tapi... Izu nii-chan," ucapku menoleh menatapnya yang telah berjalan mendekati kerumunan.
"Izumi. Si bodoh itu," ucap Haruki yang juga berjalan menarikku menyusul langkah Izumi.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Tukas Haruki mengangkat sebelah tangannya yang lain, Izumi menghentikan langkah kakinya saat genggaman tangan Haruki mencengkeram kuat lengannya.
"Aku ingin mencobanya, kita juga membutuhkan uang untuk perjalanan," ucapnya menatapi kami berdua bergantian.
"Tanganmu yang akan menjadi taruhannya. Apa kau telah kehilangan akalmu?" Ungkap Haruki kembali padanya.
"Aku akan baik-baik saja, asalkan... Adikku, apa kau punya saran untuk Kakakmu ini memenangkan semua permainan itu," ucap Izumi mengalihkan pandangannya menatapku.
"Kemarilah, aku akan memberitahukan cara memenangkan permainan ini," ungkapku melepaskan genggaman di tangan Haruki, kulangkahkan kakiku bergerak maju mendekati dan berbisik di telinganya.
"Kau yakin?"
"Semuanya tergantung padamu nii-chan, jika kau menghitungnya dengan benar. Kemenangan akan berada di tanganmu," ucapku tersenyum menatapnya.
"Baiklah. Haruki, berikan aku modal bermain," tukas Izumi membuka kedua tangannya ke arah Haruki.
"Jika kau kalah, aku akan menghabisi mu," ucap Haruki menggerakkan lengannya merogoh ke dalam jubah yang ia kenakan, dilemparkannya sekantung uang yang keluar dari dalam jubahnya tadi ke arah Izumi.
Izumi berbalik dan berjalan menjauh, kutatap tubuhnya yang bergerak membelah kerumunan lalu duduk di hadapan seorang laki-laki yang tengah memegang sebuah pisau di tangannya. Laki-laki tersebut meletakkan kantung besar berwarna cokelat di atas meja saat Izumi meletakkan kantung uang milik kami di atas meja.
Izumi meletakkan telapak tangan kirinya di atas meja sedangkan telapak tangan kanannya menggenggam pisau yang sebelumnya memang telah tertancap di atas meja. Seorang laki-laki berdiri di samping mereka, dengan sebuah aba-aba darinya... Laki-laki yang duduk di hadapan Izumi menggerakkan pisau yang ia genggam...
Izumi menarik lengannya hingga pisau yang ada di genggaman laki-laki tadi tertancap di meja. Laki-laki yang memberi aba-aba tadi meminta lawan Izumi mengangkat kembali pisaunya yang tertancap. Kembali, aba-aba permainan di antara mereka kembali terdengar tapi Izumi masih menahan laju pisaunya...
Berselang, jeritan laki-laki yang menjadi lawan Izumi terdengar. Pisau yang Izumi genggam menancap kuat di atas telapak tangannya, kutatap laki-laki tadi yang banjir air mata saat genggaman Izumi pada pisau tersebut masih belum terlepas.
"Kau berhasil melakukannya nii-chan," ucapku pelan, senyumku mengembang melihat kemenangannya.
"Apa yang kau bisikkan padanya?"
"Bukan apa-apa Haru-nii, aku hanya mengajarkan dia fakta unik tentang tubuh manusia," ucapku tersenyum menatapnya.
"Fakta unik?"
"Rata-rata manusia akan berkedip lima belas kali selama enam puluh hitungan. Jadi bisa dikatakan, setiap manusia akan berkedip setiap hitungan ke empat. Aku hanya meminta Izu nii-chan memanfaatkannya, maksudku... Hitung sampai hitungan ke empat saat musuhmu mengedipkan matanya, lalu serang mereka secepat mungkin..."
__ADS_1
"Jadi Haru nii-chan, bersiap-siaplah untuk mendapatkan uang yang banyak dari permainan yang dilakukan Izu nii-chan," ucapku kembali sembari tetap tersenyum menatap Izumi yang kembali memenangkan permainan keduanya.