Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXXIV


__ADS_3

“Selamat Pagi.”


Aku menoleh ke samping saat suara laki-laki terdengar ketika aku membuka pintu kamar, “selamat pagi,” jawabku kepada Kabhir yang membungkukkan tubuhnya di samping pintu.


“Kau sudah kembali? Bagaimana dengan Kakak dan Adikku?” tanyaku kepadanya.


“Kami semua telah kembali sejak semalam,” jawabnya ketika dia mengangkat kembali tubuhnya menatapku.


“Benarkah?” tukasku menunduk lalu merogoh ke dalam celana yang aku kenakan, “berikan uang ini kepada Akash, katakan jika aku tidak jadi meminjamnya,” sambungku sembari mengarahkan sekantung uang yang sebelumnya aku dapatkan dari Akash kepada Kabhir.


“Terima kasih,” ucapku lagi sambil melenggang pergi saat dia meraih sekantung uang yang aku berikan kepadanya.


Aku berjalan dan terus berjalan menyusuri lorong Istana, “Putri, kami telah menyiapkan sarapan pagi untukmu,” tukas suara Kabhir yang lagi-lagi terdengar di belakangku.


“Aku ingin berjalan-jalan sejenak. Kalian, bisa memakannya jika ingin. Dan juga, selamat atas pernikahan kalian,” ungkapku tetap melanjutkan langkah tanpa menoleh ke arahnya.


Kedua kakiku berhenti melangkah saat dua orang pengawal yang berjaga di depan gerbang menghentikanku, “Kapten, melarang kami untuk membukakan gerbang jika Putri berjalan sendirian,” ucap salah satu Kesatria saat aku meminta mereka untuk membukakan gerbang tersebut untukku.


“Aku akan membunuh diriku sendiri jika aku dikurung seperti ini, sebelum aku melakukannya … Aku akan menulis surat wasiat, dengan memberitahukan jika penyebab kematianku karena kalian berdua. Jika aku melakukannya, bayangkan saja apa yang akan terjadi kepada kalian dan keluarga kalian. Jadi buka gerbangnya. Aku akan segera kembali setelah semua urusanku selesai,” ungkapku lagi sambil menatap mereka bergantian.


Salah satu dari mereka berjalan mundur setelah sebelumnya mereka saling tatap satu sama lain. Aku berjalan ke luar dengan melirik ke arah dua Kesatria yang berjaga di luar gerbang saat gerbang tersebut terbuka. Kedua tanganku bersilang diikuti kedua kakiku yang terus melangkah menjauhi Istana.


Aku terus melangkah dan terus melangkah hingga menemukan sebuah pemukiman. Aneh … Semuanya terasa sunyi, tak ada suara kehidupan pun yang terdengar di sekitar. Aku tetap melanjutkan langkah dengan menggenggam erat kedua lenganku sendiri, suara-suara riuh kembali terdengar saat aku semakin melangkah maju ke depan.


“Jadi dia sudah pulang,” ungkapku pelan saat pandanganku terjatuh pada kereta hitam mewah yang berjalan di tengah-tengah kerumunan manusia.


Aku mempercepat langkah mendekati kerumunan tersebut, aku menghentikan langkah saat kutatap Zeki yang telah berdiri di hadapan seorang laki-laki paruh baya dengan tiga orang perempuan di belakangnya. Laki-laki paruh baya itu membungkukkan tubuhnya ke arah Zeki yang dibalas dengan anggukan kepala yang Zeki lakukan.

__ADS_1


Kedua mataku membelalak saat perempuan bernama Laila itu berjalan mendekati Zeki lalu memeluknya, aku melemparkan pandangan ke sekitar, menatap ke beberapa orang yang berdiri mengelilingi. Mereka hanya diam, seperti hal tersebut tidak terjadi dalam satu atau dua kali.


“A-” kata-kataku terhenti, kugigit kembali kuat bibirku sembari berjalan mundur lalu berbalik menjauhi kerumunan.


Apa yang kau lakukan Sachi? Kau ingin berteriak, jangan memeluk tunanganmu? Begitukah? Ingatlah, kau sudah mati! Jangan berharap mendapatkan pengakuan jika kau sendiri yang memutuskan untuk membunuh diri sendiri.


____________


“Jika kau ingin berkunjung ke sini. Harusnya beri kabar kepadaku dulu?!”


Aku mengarahkan pandangan ke sekitar, berusaha mencari suara yang terdengar dari padang rumput yang mengelilingi. “Apa yang kau lakukan di sini? Aku seharian mencarimu ke mana-mana?!” teriakan laki-laki kembali terdengar, aku menghela napas saat bayangan Zeki kian jelas terlihat melangkah mendekati.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku kepadanya saat langkah tubuhnya kian mendekat.


“Aku bertemu dengan Eneas dan kedua kakakmu di Istana. Kau tidak kunjung kembali, karena itu aku mencarimu. Apa yang kau lakukan di sini sendirian? Sebentar lagi malam, pulang bersamaku ke Istana!”


“Apa katamu?”


“Lepaskan tanganmu! Apa aku memberikanmu izin untuk menyentuhku?” ungkapku lagi dengan melirik ke arah tangannya.


“Apa yang kau katakan?”


“Apa yang aku katakan?” Aku menarik napas panjang sebelum beranjak berdiri di hadapannya, “tunanganku menyembunyikan hubungannya dengan seorang perempuan. Mereka berpelukan di depan mataku sendiri. Kau masih bertanya apa yang aku katakan?!” Aku menarik kuat tanganku darinya sembari membentaknya dengan sangat kuat.


“Kenapa aku tidak memberikan kabar kepadamu? Apa kau … Apa kau berniat menyembunyikan hal ini terus-menerus dariku?!”


Aku tertunduk dengan memukul-mukul kuat dadaku, “rasanya sakit sekali,” ungkapku dengan kembali mengusap dadaku itu.

__ADS_1


Aku mengangkat tanganku membuka kalung yang dulu ia berikan, kuangkat sebelah tanganku meraih tangannya lalu meletakkan kalung pemberiannya tersebut di atas telapak tangannya, “tetaplah bersikap jika aku sudah meninggal. Dengan begitu, kau akan dapat dengan mudah mencari calon isteri tanpa terbebani oleh status pertunangan kita. Aku … Akan selalu mendo’akan kebahagianmu,” ungkapku mengatupkan telapak tangannya tadi.


“Omong kosong seperti apa yang kau katakan itu?”


Aku mengangkat kepalaku menatapnya. “Mencari calon isteri apa yang kau maksudkan?” tanyanya kembali kepadaku.


“Kau mencari calon isteri bukan? Selama beberapa hari di sini, aku terus-menerus mendengar kabar tersebut dari orang di sekitar. Karena itu-”


“Siapa yang menyebarkan berita itu?!” Kata-kataku berhenti sekejap saat bentakan dia menyentuh telingaku.


“Akash!”


Zeki kembali berteriak dengan melirikkan matanya ke samping. Aku ikut mengarahkan mataku ke arah yang ia tuju. “Temukan siapa yang telah menyebarkan kabar itu! Bawa dia kepadaku saat ini juga! Jika kau gagal menemukannya, aku akan mengeksekusimu karena gagal mencegah kabar yang tidak benar tentangku,” ancam Zeki sambil melirik ke arahnya yang membungkukkan tubuhnya sedikit jauh dari kami.


“Aku hanya meninggalkan Kerajaan sebentar. Dan kabar yang aneh-aneh tentangku telah tersebar. Lagipula, apa yang kau lakukan? Apa kau tidak tahu, berapa tahun aku mengumpulkan uang hanya untuk memberikanmu kalung ini?!” Aku sedikit terhentak saat dia tiba-tiba membentakku.


“Kenapa? Kenapa kau yang jadi membentakku? Aku yang terluka di sini … Aku! Kau tahu!” Aku balas membentaknya.


“Apa kau lihat aku membalas pelukannya? Apa kau lihat tanganku merangkul tubuhnya seperti yang sering aku lakukan kepadamu? Seperti ini!” tukasnya sembari merangkulkan kedua lengannya di pinggangku.


“Lalu, kenapa kau tak coba menolaknya? Kau pasti merasa senang, bukan? Dipeluk oleh seorang perempuan cantik sepertinya,” gumamku dengan sedikit membuang pandangan ke samping.


“Aku hanya tidak ingin mempermalukannya di tengah keramaian. Ayahnya baru saja diangkat menjadi Duke, Paman itu sudah banyak menolongku … Aku tidak ingin mempermalukan keluarganya dengan tiba-tiba mendorong anaknya menjauh.”


“Lagi pun, aku menjalin hubungan baik dengan keluarganya karena aku ingin memanfaatkan mereka. Mereka sering berbagi informasi kepadaku, jadi untuk mempertahankannya … Aku harus bersikap ramah-tamah kepada mereka.”


“Apa kau yakin?”

__ADS_1


Aku sedikit tertegun saat Zeki tiba-tiba mencium keningku, “apa kau telah berubah pikiran untuk menerima lamaranku?” tukasnya dengan kembali mencium keningku.


__ADS_2