
Diletakkannya kembali obor yang sebelumnya dia ambil ke tempat sebelumnya, didorongnya pintu Kuil yang besar itu menggunakan tubuhnya. Masuk kami berdua kembali ke dalam ruangan.
Upacaranya sendiri masih belum dimulai, mereka semua yang berada di dalam ruangan tampak berbicara satu sama lain sedangkan para laki-laki yang memakai jubah putih berdiri berbaris di sudut ruangan memperhatikan mereka yang akan ikut upacara.
Tampak dari kejauhan, Julissa tengah berbicara dengan seorang anak laki-laki berambut hitam, berkulit sawo matang di salah satu bangku yang ada disana.
Berdiri kami berdua di depan pintu masuk seraya menjatuhkan pandangan ke setiap orang yang berada di dalam Kuil. Seorang anak memperhatikan kami berdua yang tengah berdiri, pandangan dari anak tersebut mengundang satu persatu orang mengalihkan pandangannya kepada kami.
"....." Julissa membelalakkan kedua matanya ke arahku
"Ada apa?" tukasku menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan sepatah suara apapun
"......" tukas Julissa menggerakkan bibirnya sembari diangkatnya kedua telapak tangannya yang saling menggenggam satu sama lain ke udara
"Kenapa juga Julissa mengangkat tangannya.." bathinku seraya bingung menatapnya
"Eh? tangan?" ucapku lagi di dalam hati seraya ku alihkan pandangan mataku ke sebelah kiriku
Pandangan mataku terjatuh di telapak tanganku yang masih menggenggam erat tangan Zeki. Kulepaskan secara perlahan genggaman tanganku di tangannya, kuperhatikan wajahnya yang tampak menatap kosong ke depan. Ku ikuti arah dimana pandangan matanya terjatuh...
Berjalan aku ke salah satu bangku yang kosong, kudorong bangku itu dengan semua tenagaku yang tersisa menuju ke arahnya..
"Berat sekali." gumamku dalam hati seraya berusaha mendorong bangku tersebut agar bergerak
Semua yang ada disana kembali memperhatikan apa yang tengah aku lakukan, kutatap kembali Zeki yang masih diam membisu. Kudorong bangku tadi tepat di hadapannya, naik aku ke atas bangku seraya berdiri di hadapannya...
"Apa yang kau lakukan?" ucapku seraya memegang kedua pipinya dengan kedua tanganku, pandangan matanya masih terlihat kosong seperti sebelumnya
"Kau bodoh!!" ucapku setengah berteriak seraya ku benturkan kepalaku ke kepalanya
"Sakit.. ini sakit sekali." ucapku dalam hati seraya langsung tertunduk menahan sakit di kepala
"Ini sakit sekali. Apa yang kau lakukan?" tukasnya seraya mencengkeram kepalaku yang tertunduk
"Itu karena ekspresi wajah yang kau buat membuatku sangat khawatir. Kau bodoh!" teriakku ke arahnya seraya langsung beranjak berdiri menatapnya
"Dengar..." ucapku lagi seraya kembali memegang kedua pipinya
"Aku tidak tahu apa yang menyebabkan tubuhmu gemetaran hebat seperti itu setelah kau melihat bara api besar yang ada di belakangku ini..." tukasku seraya melirik ke arah bara api di belakangku yang baru dinyalakan beberapa saat lalu oleh salah satu laki-laki berjubah putih
"Tapi, bukankah sekarang yang berada di hadapanmu adalah aku. Hanya lihat saja aku, fokuskan saja pandanganmu kepadaku yang ada di hadapanmu ini..."
"Aku telah mengatakannya kepadamu sebelumnya bukan? Aku akan mendukungmu..."
"Tutup telinga mu jika kata-kata yang kau dengar disekitar terdengar menyakitkan, tutup matamu jika apa yang kau lihat di hadapanmu terasa menyakitkan, tutup hatimu jika perlakuan mereka yang ada disekitar terasa meremukkan. Hanya buka semuanya untukku, buka telinga, mata dan hatimu hanya untukku..."
"Aku telah berjanji bukan? akan memberikan warna di hidupmu." ucapku seraya menatapnya
__ADS_1
"Geser!" ucapnya pelan seraya tertunduk
"Geser?" balasku bingung
"Aku ingin duduk." ucapnya seraya berjalan mendekatiku
Mundur aku dua langkah ke belakang, duduk ia di tempatku berdiri tadi. Matanya yang tertunduk masih terlihat sayu di hadapanku..
"Duduk!!" ucapnya tanpa menoleh ke arahku
"Baik." tukasku singkat seraya tanpa sadar telah duduk seperti yang ia perintahkan
"Bangunkan aku, jika upacara akan dimulai" ungkapnya seraya membaringkan kepalanya di kedua paha ku
Kupandangi wajahnya dalam, entahlah...
Firasatku mengatakan bahwa ia sudah terlalu banyak berjuang selama ini, penampilannya sendiri sama sekali tak terlihat seperti halnya seorang Pangeran. Berbanding jauh sekali dari kedua kakakku...
Kuletakkan telapak tanganku di atas kepalanya, kususuri rambutnya yang terasa kasar itu dengan jari jemariku...
Teringat aku dengan salah satu lagu anime yang dulu pernah aku nyanyikan bersama adik-adikku yang tinggal di Panti Asuhan pada kehidupan lamaku, ku nyanyikan lagu tersebut dengan suara pelan seraya terus mengusap rambut hitamnya..
*Aku menyadari jeritan kesakitan
Terdengar keras di pikiranku
Namun aku akan terus maju dengan luka ini
Aku telah mengunci hatiku yang terluka
Tak masalah jika aku terluka dan tidak merasa sakit lagi
Aku akan berlari meski jika harus menyeret kakiku
Aku kehilangan jati diriku sebenarnya
Hancur dalam suara yang pecah
Yang terdengar hanyalah deruan angin
"Pilihlah kebaikan yang tidak dapat melukai dengan kekuatan"
Suara itu masuk ke dalam diriku dengan penyesalan
Seperti kancing baju yang tidak sesuai
Hati dan tubuhku pun terpisah
__ADS_1
Mencoba memahami hati ini sekali lagi
Ingin kusampaikan padamu dan menyembuhkan lukamu
Sebelum aku hancur dalam beratnya dunia
Apakah kamu ingat langit yang penuh air mata?
Luka yang selalu menjagamu sejak itu
Luka yang sama akan selalu menjagamu
Suara tangisan yang terdengar
Tanpa diragukan lagi, merupakan tangisanku
Semua itu demi seseorang
Aku yakin kamu sudah tahu sejak awal
Maka jangan pernah menyalahkan dirimu lagi
Kamu harus merasakan tanda yang ku berikan untukmu
Luka yang selalu menjagamu sejak itu
Ingin kusampaikan padamu dan menyembuhkan lukamu
Dengan begitu dapat kukatakan "tak ada yang perlu ditakutkan"
Jangan pernah lupakan arti di balik senyuman itu
Luka yang selalu menjagamu sejak itu
Luka yang selalu menjagamu sejak itu
Luka yang sama akan selalu menjagamu*
"Eh?" ucapku yang terkejut ketika ia meraih tanganku yang mengusap rambutnya
Diangkatnya telapak tanganku tadi menutupi kedua matanya yang terpejam. Terdiam kami berdua beberapa saat..
"Apa itu lagu dari Kerajaan mu?" ucapnya pelan seraya tetap memegang tanganku yang menutupi matanya
"Itu, lagu menggunakan bahasa tradisional Kerajaan kami.." ungkapku pelan padanya
"Benarkah?" ucapnya
__ADS_1
"Walaupun aku tidak mengerti apa maksud dari lagu itu. Akan tetapi..."
"Terima kasih telah menyanyikan nya.." ungkapnya lagi seraya melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tanganku