
"Dibawah sana, ada hutan. Kita berisitirahat di sana dulu malam ini," ucap Izumi kembali terdengar.
"Baiklah..."
"Kou, apa kau lihat hutan di sana? Turunkan kami semua di sana," ucapku lagi, diikuti tubuh yang bergerak menukik turun ke bawah.
Terdengar suara hentakan kaki yang keras, aku tak bisa melihat apapun... Berbeda ketika kami terbang, disini... Bahkan sinar bulan tak terjatuh sedikitpun. Semuanya gelap, kau tak akan bisa melihat apapun kecuali... Jika...
"Sachi, aku akan membantumu turun. Dan kau Eneas, jangan bergerak terlebih dahulu," terdengar suara Izumi diikuti genggaman di tangan kananku.
Kugerakkan kepalaku menoleh ke arah kanan, hanya mata Izumi yang bisa kulihat di kegelapan ini. Sesuatu meraih tanganku yang lain sembari tubuhku bergerak saat kurasakan rangkulan pada pinggangku.
"Berdirilah disini! Jangan bergerak sedikitpun," ucapnya lagi saat kurasakan kakiku menapaki sesuatu.
Rangkulan di pinggangku terlepas diikuti mata Izumi yang berbalik membelakangi. Kepalaku bergerak ke kanan saat terdengar suara gesekan yang berulang-ulang.
"Haru-nii, apa itu kau?"
"Ada apa? Apa kau memerlukan sesuatu?" Suara Haruki menjawab perkataanku diikuti suara gesekan sebelumnya yang menghilang.
"Apa yang kau lakukan? Maksudku, suara apa tadi?"
"Aahh, aku hanya menggerakkan kakiku menendang-nendang tan..."
Suara Haruki terhenti, angin kuat tiba-tiba menampar tubuhku. Angin dingin yang sudah sangat ku kenal, apa Eneas sudah turun dari atas tubuhnya? Apa Kou telah terbang kembali?
"Kalian semua, ikuti aku!"
Tangan kiriku bergerak mengikuti suara Izumi yang berbicara tadi. Genggaman di tangan kananku semakin kuat mengikuti langkah, tampak getaran pelan di tangan kananku terasa samar. Ayah pernah mengatakan, jika Haruki dulu menghabiskan waktunya di kegelapan. Apakah dia menyembunyikan ketakutannya?
__ADS_1
Seorang Pangeran haruslah menyembunyikan kelemahannya...
Kata-kata Ayah tiba-tiba kembali teringat, dan kedua Kakakku melakukannya dengan sangat baik. Sebagai Adik, bagaimana mungkin aku tidak mendukung mereka.
______________________
"Sa-chan, bangunlah," suara samar-samar tersebut menepuk-nepuk pelan telinga.
Mataku terbuka pelan diikuti tepukan beberapa kali di pipi. Kutatap Haruki yang menatapku, wajahnya tampak sedikit mengabur di pandangan mengikuti sinar yang sedikit menusuk silau.
"Bangunlah, ini sudah pagi," ucapnya kembali, kugerakkan tubuhku beranjak duduk saat wajahnya bergerak menjauh.
"Dimana Izu-nii dan juga Eneas?" Ungkapku bergerak duduk di sampingnya.
"Mereka sedang membersihkan tubuh di air terjun yang ada di sana," ungkapnya menggerakkan jari telunjuknya ke arah kanan.
"Air terjun?"
"Kau sudah bangun Sachi?" Ikut terdengar suara Lux dari arah kanan tubuhku.
"Kau darimana saja Lux?" Ucapku menggerakkan telapak tangan menutupi bibirku yang menguap lebar.
"Aku hanya mencari tumbuh-tumbuhan yang mungkin dapat kita gunakan nanti kedepannya," ucapnya bergerak terbang lalu duduk di atas tanah yang ada di hadapan.
"Kau bisa mandi sekarang di sana, kami sudah selesai," ikut terdengar suara Izumi dengan langkah kaki yang berjalan mendekat.
Izumi berjalan mendekat dengan Eneas yang berjalan disampingnya, buliran air tampak menetes dari ujung rambut mereka. Aku beranjak berdiri dengan kedua tangan meraih tas kulit cokelat milikku.
Izumi menghentikan langkah kakinya di hadapanku, bibirnya bergerak diikuti jari telunjuknya yang juga ikut bergerak menunjukkan arah. Berjalan lurus, jika nanti kau melihat pohon yang sudah aku tandai... Tinggal kau ikuti saja arah yang ada di pohon tersebut... Begitulah yang Izumi katakan.
__ADS_1
Kedua kakiku bergerak mengikuti pahatan kecil yang ada di sepanjang pohon yang ada di hutan. Samar-samar terdengar suara gemericik air yang memenuhi telinga...
Suara tersebut terdengar semakin kuat tatkala kedua kakiku berjalan semakin masuk ke dalam hutan. Pandangan mataku terpaku pada air terjun yang ada di hadapan, air-air tersebut jatuh mengenai tebing batu tinggi yang ada di bawahnya.
Kedua kakiku semakin mendekati air terjun tadi, kuletakkan tas kulit yang aku pegang di atas salah satu batu besar yang ada di samping sungai kecil tersebut. Ikut kugerakkan jari-jemariku membuka seluruh pakaian yang aku kenakan.
Dingin, begitulah yang kurasa saat kedua kakiku menyentuh air sungai tersebut. Tubuhku berjalan semakin mendekati air terjun tadi, tetesan-tetesan air yang memantul dari bebatuan menampar tubuhku berulang-ulang.
Kugerakkan tangan menyusuri rambutku yang mulai sedikit basah dikarenakan percikan dari air terjun tadi. Rasanya segar sekali, saat percikan-percikan air tersebut semakin membasahi tubuhku yang sebelumnya penuh akan keringat.
Aku berdiri membelakangi air terjun tadi, air yang jatuh ke bawah terasa nyaman sekali memijat-mijat tubuhku. Rasa lelah seakan sirna dari tubuh, terlebih saat aku bergerak berenang menyusuri sungai tersebut.
_______________________
"Kau sudah selesai?" Ungkap Izumi menoleh menatapku yang berjalan mendekatinya, kujawab pertanyaannya tadi dengan anggukan pelan dariku.
"Kemarilah, makanlah terlebih dahulu daging ini," ucap Haruki mengarahkan setusuk penuh daging bakar padaku.
"Terima kasih," jawabku meraih daging tadi sembari bergerak aku duduk di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan Lux?" Ungkapku menatapnya yang tengah membungkus sesuatu dengan dedaunan yang terpotong kecil.
"Menyiapkan racun sebelum kita meneruskan perjalanan. Racun yang aku buat sebelumnya telah menipis ketika di sana," ucapnya tanpa menoleh menatapku.
"Apa kau juga memberikan dua penjaga yang berjaga di pintu semalam dengan racun yang kau buat?" Ucapku lagi padanya.
"Itu hanya ramuan tidur. Aku meminta Izumi memberikan ramuan tersebut pada penjaga bodoh itu, jika tidak... Bagaimana caranya aku mempunyai waktu mengunci pintu dan bahkan membuat asap yang lain dari luar ruangan," ungkap Lux sambil tetap membungkus serbuk-serbuk berwarna putih menggunakan daun-daun tadi.
__ADS_1
"Aku sudah katakan, serahkan semuanya padaku. Aku memanglah bertubuh kecil, tapi aku tidaklah bodoh seperti mereka," ucapnya lagi menoleh dan tersenyum menatapku.