Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXXXVI


__ADS_3

“Ryu?” Izumi kembali bersuara dengan mengarahkan pandangan ke arah Ryuzaki yang duduk di samping Eneas.


“Kak Haruki pernah bertanya kepadaku, siapa-siapa saja yang nantinya akan mendukung kita. Jadi aku, memberitahukan nama-nama Kerajaan yang selalu membantu kita-”


“Dan, Kerajaan ini, salah satu yang akan menjadi sekutu kita kedepannya,” tukas Haruki menimpali perkataan Ryuzaki.


“Jika benar seperti itu, kenapa tidak langsung mengatakannya saja,” sambung Izumi kembali terdengar.


“Karena jika kalian mengetahuinya sejak awal, aku khawatir kalian akan menolaknya. Akan tetapi, jika kalian mengetahuinya di saat-saat sebelum kita melakukannya, kalian tidak lagi memiliki alasan untuk menolaknya,” lanjut Haruki, kepalanya sedikit ke depan dengan mengukir senyum membalas lirikan Izumi kepadanya.


“Kami adikmu, apa kau lupa?”


“Justru karena kalian adikku, kalian memliki hak untuk menolak semua perkataan yang aku perintahkan,” ungkapnya kembali menjawab ucapan Izumi.


“Lalu? Apa yang ada di sini? Kerajaan apa ini sebenarnya? Dan apa istimewanya Kerajaan ini, kakak?”


Haruki kembali tersenyum diikuti tangannya yang semakin menggenggam erat cangkir yang ada di tangannya, “sesuatu menarik, yang di mana kita sebagai kakak tidaklah baik untuk melewatkannya Izumi,” jawab Haruki dengan lirikan matanya mengarah kepadaku yang ada di sampingnya.


______________.


“Apa kita tidak menaiki kuda untuk ke sana?” tanya Eneas saat dia telah keluar dari dalam rumah dengan Izumi di belakangnya.


“Kita telah membeli banyak sekali ikan dari nelayan sekitar, kita tidak akan datang ke sana sebagai pengelana, namun sebagai pedagang ikan,” jawab Haruki sambil menunjuk ke arah beberapa baris gerobak berisikan tong-tong kayu di atasnya.


“Kacper, apa kau telah melakukan apa yang aku perintahkan?” Haruki berbalik dengan menoleh ke arah laki-laki tersebut yang berjalan mendekati dengan lumuran darah di tangannya.

__ADS_1


“Semuanya, telah aku lakukan sesuai perintah darimu, Tuan,” ucapnya, ketika langkah kakinya berhenti di samping Haruki.


“Dia tidak ikut?” timpal Izumi, aku melirik ke arahnya yang telah berdiri di samping kananku.


“Dia memiliki keluarga, aku tidak ingin jika keluarganya mendapat masalah ketika para penjaga mengetahui kalau dia ikut membantu kita,” jawab Haruki, dia menoleh ke arah kami dengan kedua tangannya yang saling bersilang.


“Itu memakai gerobak, bukan? Tidak ada salahnya jika kita juga membawa kuda untuk menariknya,” timpal Izumi, dia sedikit maju membelakangi dengan tangannya menunjuk ke arah samping rumah.


“Nelayan-nelayan di sini, tidak memiliki uang yang banyak untuk membeli sebuah kuda. Bahkan, ikan-ikan yang akan kita bawa nanti akan dibeli dengan sangat murah di sana,” jawab Haruki yang membuat kami terdiam.


“Jika kalian mengerti, mari kita bahu-membahu membawa gerobak-gerobak itu ke pusat kota Kerajaan, wahai adik-adikku,” sambungnya, Haruki menepuk sekali telapak tangannya dengan tersenyum menatap kami bergantian.


__________________.


Aku berjalan sedikit ke belakang lalu menyandarkan diri ke gerobak yang kami bawa. Aku menatap ke arah dua gerobak yang dibawa oleh Haruki dan juga Ryuzaki yang berjalan di depan kami, “oi, kenapa kalian berhenti?” Aku melirik ke samping, ketika Izumi turut memberhentikan gerobaknya di samping kami.


“Aku lelah, nii-chan. Bisakah kita beristirahat sejenak?”


“Sa-chan, kita hampir sampai. Semangatlah!”


Aku menghela napas dengan menepuk pelan dadaku beberapa kali ketika teriakan darinya terdengar. “Sachi,” kepalaku kembali menoleh ke arah Izumi ketika suaranya ikut menyentuh telinga.


“Kau mendengar apa yang laki-laki itu katakan kemarin, bukan? Maksudku, Kacper,” kepalaku mengangguk dengan masih menatapnya, “biasanya, kau yang paling bersemangat untuk menghancurkan tempat yang ditemukan menyiksa perem-”


“Kau ingin mengatakan, kenapa aku sama sekali tidak berniat untuk menolong mereka? Aku, benar, bukan?”

__ADS_1


Lirikan mataku kembali mengarah ke depan saat Izumi menganggukkan kepalanya, “itu karena mereka memiliki pilihan, tidak seperti perempuan yang aku temui sebelum-sebelumnya,” ungkapku dengan bersandar sambil mendongakkan kepalaku ke atas.


“Di desa itu, tidak terdapat laki-laki yang menjaga mereka. Memang, pertunangan bukan keinginan mereka … Tapi setelah apa yang terjadi di sana, mereka memiliki kesempatan yang besar untuk melarikan diri. Mereka, memiliki peluang yang besar untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, namun sayangnya mereka tidak berniat atau mungkin tidak pernah berpikir untuk melakukannya.”


“Lalu, kenapa kau tidak membantu untuk menyelamatkan mereka?”


“Aku sekarang tengah berusaha, aku meninggalkan rumah hanya untuk memberikan kebebasan bukan hanya untuk mereka … Namun untuk semua perempuan yang ada di dunia ini. Setelah perempuan mendapatkan kemerdekaannya sendiri, perjuangan mereka akan lebih berat.”


“Mereka harus belajar banyak hal untuk menyaingi kekuatan laki-laki, jika mereka saja tidak cukup kuat melindungi diri mereka sekarang. Apa yang akan terjadi kepada mereka kedepannya? Bukankah, kalian sendiri yang mengatakan … Aku bukanlah Deus, aku tidak berkewajiban menyelamatkan semua orang. Maafkan aku, karena terlambat menyadari semua itu.”


“Eneas, dalam hitungan ketiga kita gerakkan lagi gerobaknya,” sambungku beranjak dengan menggenggam pegangan gerobak yang melintang di hadapanku.


“Kau, jangan mencoba untuk membohongi dirimu sendiri.”


Aku tersenyum kecil sambil menatap kedua tanganku yang menggenggam erat pegangan gerobak, “aku sedang tidak mencoba untuk membohongi diri sendiri, nii-chan. Jika aku yang lemah ini saja, dapat berjuang untuk meraih kebahagianku sendiri … Kenapa, aku harus memandang rendah mereka. Aku tahu, jika semua orang itu berbeda, tapi itu bukan berarti mereka tidak memiliki kekuatan untuk melindungi diri mereka sendiri.”


"Lagi pun, kita di sini untuk dapat menjalin kerja sama seperti yang dikatakan Haru-nii. Jika kita tiba-tiba menyerang wilayah mereka, bagaimana mungkin mereka akan mempercayai kita," jawabku dengan kembali menundukkan kepala.


"Yang lebih penting sekarang, adalah bagaimana kita mendapatkan bantuan sebanyak mungkin untuk membantu kita melawan Kaisar. Lagi pun, jika nantinya kita dapat berkerja sama ... Kita dapat memberikan syarat untuk membebaskan para perempuan itu kepada calon sekutu kita."


"Aku, tidak akan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan Keluargaku. Jadi percayalah kepadaku, nii-chan," sambungku dengan memperkuat genggaman tanganku di pegangan kereta.


“Eneas, dalam hitungan ketiga. Satu, dua, tiga … Dorong Eneas!” perintahku sambil menggerakkan tubuh membawa gerobak berisi tong penuh ikan itu.


Jika menjadi naif menghancurkan hidupku sendiri, menghancurkan keluargaku. Maka aku, tidak ingin lagi memiliki sifat ini.

__ADS_1


__ADS_2