Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDV


__ADS_3

Kedua mataku kembali terbuka, kuangkat sedikit kepalaku menatapnya yang masih lelap tertidur, “Zeki,” ucapku beberapa kali memanggil namanya, ikut kuangkat telapak tangan kananku menepuk-nepuk pipi kirinya.


“Berisik sekali, aku baru saja ingin tertidur,” dia bergumam, aku lagi-lagi mengangkat telapak tangan mendorong dagunya ke atas saat kurasakan pelukannya di tubuhku itu semakin kuat terasa.


“Aku harus segera kembali, seti … Setidaknya, lepaskan aku terlebih dahulu,” ungkapku kembali padanya.


Zeki, membuka perlahan kedua matanya. Beberapa kali kedua matanya itu berkedip ke arahku dengan sesekali mulutnya yang menguap ke samping, “apa sudah pagi?” Tanyanya dengan menggaruk kepalanya.


“Sepertinya, aku harus kembali,” ucapku kepadanya, “aku mengerti, aku akan memeriksa keadaan di luar,” ungkapnya dengan sebelah tangannya kembali membuka pintu geser yang ada di samping kami itu.


Aku bergerak sedikit maju ke depan, Zeki merangkak ke luar saat aku melakukannya. Dia beranjak berjalan menyusuri beberapa rak penuh buku lalu membuka pintu yang telah terbuka setengah tersebut. Aku ikut merangkak ke luar, lalu beranjak berjalan mengikuti langkahnya.


Zeki berdiri di luar pintu dengan kepalanya bergerak ke kanan dan juga kiri sebelum tangannya yang ada di punggungya itu bergerak. Aku melangkah ke luar kamar, melewati punggungnya lalu berlari ke kanan meninggalkannya.


Kedua kakiku melangkah menyusuri lorong, semakin lama aku berjalan, semakin cepat juga kedua kakiku bergerak. Aku tertunduk dengan sebelah tangan menutupi hidung saat kurasakan wajahku menabrak sesuatu, “sakit,” gumamku menggosok-gosokkan telapak tanganku tadi di hidung.


“Apa kau baik-baik saja?”


Kedua mataku membelalak saat mendengar suaranya, aku menoleh ke samping diikuti tanganku yang menepis telapak tangannya yang hendak menyentuhku. Dia terpaku menatapku dengan sesekali melirik ke arah tangannya yang sebelumnya aku tepis, “Yang Mulia, maafkan saya. Tapi saya belum membersihkan tubuh. Saya takut, jika tangan Yang Mulia kotor karenanya,” ungkapku berbohong dengan membungkukkan tubuh ke arahnya.


Aku kembali beranjak berdiri menatapnya, “maafkan saya Yang Mulia, saya akan segera membersihkan tubuh,” ucapku bergerak menyamping lalu berlari cepat meninggalkannya yang tengah berdiri di samping laki-laki yang sempat aku lihat ketika mencari bayangan hitam kemarin.


Mengingat kejadian semalam, membuatku jijik tiap kali melihatnya. Aku tidak menyangka jika dia tega melakukan hal tersebut pada tunanganya sendiri.

__ADS_1


Langkah kakiku terhenti di depan gubuk, kutatap para perempuan yang telah berbaris di halaman dengan perempuan pemilik penginapan yang berdiri di hadapan mereka, “dari mana saja kau semalam?” Tanya perempuan pemilik penginapan saat dia menoleh ke arahku.


Melihat sesuatu yang sepantasnya tak aku lihat.


“Aku tertidur di bawah pohon yang ada di sana, maafkan aku,” tukasku membungkukkan tubuh ke arahnya, “bersiap-siaplah, Yang Mulia memerintahkan kalian semua untuk ikut ke perjamuan makan,” ucapnya dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


Aku berjalan masuk ke dalam gubuk, mengikuti dua orang perempuan yang sebelumnya telah berjalan di depanku, mereka meletakkan pakaian yang mereka ambil di dalam lemari ke atas ranjang, “aku bisa melakukannya sendiri,” ucapku dengan mengangkat tangan ke arah mereka, saat mereka hendak melangkahkan kaki mendekatiku.


Kalian ingin mencari tahu informasi tentangku bukan? Jangan bermimpi.


Aku melangkahkan kaki mendekati pakaian tadi “berbaliklah,” ucapku dengan melirik ke arah mereka, “aku tidak ingin memperlihatkan tubuhku kepada kalian,” sambungku kembali kepada mereka berdua.


Mereka berbalik, aku menunduk lalu menggerakkan kedua tangan melucuti pakaian yang aku kenakan satu per satu. Dengan perlahan, aku mengenakan pakaian yang mereka berikan dengan mengingat-ingat cara mengenakan pakaian ini, seperti yang mereka lakukan dulu kepadaku.


Kami kembali melangkah ke ruangan yang sama seperti kemarin, perempuan itu langsung saja melangkah masuk melewati pintu yang dibiarkan terbuka, “salam Yang Mulia,” ucap perempuan itu membungkukkan tubuhnya saat kami telah berdiri di tengah-tengah ruangan menatapnya.


“Salam, Yang Mulia,” aku ikut membungkuk, mengikuti para perempuan lainnya yang memberikan salam padanya.


Aku melirik ke arah kanan dan juga kiri saat aku sudah mengangkat kembali kepalaku, ada sekitar sepuluh orang laki-laki kecuali Zeki dan juga Raja In-Su di ruangan ini. Para laki-laki paruh baya itu duduk di kursi dengan pandangan mata yang tak henti-hentinya melirik ke arah kami, “mereka semua adalah bangsawan yang berada di bawah kekuasaanku, dan tugas kalian … Pilih salah satu laki-laki kecuali aku, layani dan hibur mereka,” ucapnya dengan tersenyum ke arah kami.


Para perempuan itu mengikuti sayembara untuk menjadi isterinya, malah dipinta untuk menghibur laki-laki lain? Aku tidak akan melakukannya, aku tidak ingin disentuh oleh salah satu di an-


Pandangan mataku kembali mengarah ke arah Zeki yang telah duduk bersandar melirik ke arahku dengan sebelah tangannya memangku kepalanya. Kedua kakiku melangkah mendekatinya, “Tuan, saya akan melayanimu,” ucapku dengan membungkukkan tubuh di hadapan Zeki.

__ADS_1


Zeki menepuk pahanya dengan sebelah tangannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku berjalan melewati meja yang ada di hadapannya lalu duduk di pangkuannya seperti yang dia perintahkan, “apa yang kau lakukan?” Aku melirik ke arah Raja In-Su yang menatapku dengan kedua matanya yang membesar.


“Melaksanakan perintah, melayani laki-laki selain Yang Mulia. Laki-lakinya tidak ditentukan, jadi saya bebas memilihnya,” ucapku dengan kembali menatapi Zeki.


“Tuan, apa ada yang ingin Tuan makan saat ini?” Ungkapku dengan menggerakkan jari menyelipkan sedikit rambutnya ke telinga.


“Aku akan memakan apa pun yang kau berikan,” ucap Zeki kembali bersandar, aku sedikit melirik ke bawah saat rangkulan yang ia lakukan di pinggangku semakin menguat.


Aku berbalik, meraih setangkai anggur hijau yang ada di atas meja. Kupetik sebutir anggur itu dari tangkainya, lalu kuarahkan anggur tadi mendekati bibirnya, “Tuan, apa Tuan tidak menyukai anggur?” Tanyaku kepadanya.


“Apa seperti itu, caramu menyuapiku?”


“Tuan, apa yang Tuan maksudkan?” Aku kembali bertanya dengan memaksakan senyum menyungging di ujung bibir.


“Aku tidak tahu, tanganmu itu bersih atau tidak. Jadi, gunakan anggota tubuhmu yang lain,” ucapnya yang balas tersenyum padaku.


“Anggota tubuh yang lain?” Gumamku dengan sedikit melirik ke atas.


Aku tertegun ketika menyadari apa yang ia maksudkan, “Tuan, apa saya harus melakukannya?”


“Aku sudah sangat lapar, jangan membuang waktuku,” ucapnya kembali memangku kepalanya menatapku.


Aku mengangkat setangkai anggur tadi lalu menggigit salah satu anggur yang ada di sana, aku mengarahkan kembali wajahku ke arah Zeki dengan buah anggur yang masih berada di bibirku. Zeki beranjak mendekatiku dengan sebelah tangannya menyentuh leherku yang tertutupi rambut, “selamat makan,” bisik Zeki saat wajahnya bergerak semakin mendekatiku.

__ADS_1


Anggur yang aku gigit terlepas saat kurasakan sesuatu menarik dan mencengkeram tanganku ke atas, “beranjak dari pangkuannya, atau aku akan mengeksekusimu saat ini juga!” Mata Raja In-Su melotot ke arahku saat aku telah mengangkat wajah menatapinya.


__ADS_2