
“Tidurlah, kau pasti lelah dengan semua upacara pernikahan hari ini,” ungkapnya sambil kali ini mencium keningku.
Zeki kembali beranjak lalu membaringkan tubuhnya, “besok Ayah meminta kita untuk berziarah ke pemakaman keluarga. Aku lupa menyampaikannya kepadamu,” sambungnya sembari memejamkan kedua matanya.
Aku masih tertegun, kedua mataku enggan terpejam karena degupan jantungku yang masih membuncah. Aku kembali melirik ke arah Zeki yang telah terlelap, bagaimana dia bisa tidur dengan mudahnya di saat seperti ini? Aku berbaring menyamping, kuangkat telapak tanganku mengusap wajah sebelum kedua mataku terpejam perlahan.
______________.
Aku beranjak duduk, sesekali kepalaku tertunduk dengan helaan napas keluar. Lirikan mataku beralih ke arah Zeki yang terpejam lelap, seakan tak terjadi apa pun di sekitarnya. Aku tidak bisa tidur semalaman, mataku benar-benar tidak ingin terlelap.
Aku beranjak turun dari atas ranjang lalu berjalan mendekati cermin, aku duduk di depan cermin tersebut sembari meraih sisir untuk merapikan rambut. Kutatap kedua mataku yang sembab dengan kedua tanganku yang tak berhenti memukul-mukul pelan kedua pipiku.
Tubuhku kembali bergerak ke arah kamar mandi, membuka pintu kamar mandi tersebut … Lalu berjalan kembali keluar setelah membasuh wajah. Kedua kakiku kembali melangkah mendekati lemari yang berdiri di samping lemari milik Zeki. Aku beberapa kali mencuri pandang ke arahnya yang terlelap saat aku membuka pakaian yang aku kenakan, lalu menggantinya dengan pakaian yang aku ambil dari dalam lemari.
Aku menggulung pakaian yang sebelumnya aku kenakan, lalu meletakkannya ke dalam keranjang yang tak terlalu jauh dari lemari. Langkahku lagi-lagi bergerak mendekati lemari milik Zeki, membuka pintu lemari tersebut sembari meraih beberapa potong pakaian yang akan ia kenakan.
Aku berbalik, dengan melangkah mendekatinya yang masih tertidur sambil membawa pakaian miliknya di tanganku. “Zeki, bangunlah! Sebentar lagi pagi,” ucapku pelan sembari menepuk-nepuk pipinya.
“Zeki, bersiap-siaplah! Keluargaku melakukan sarapan, pagi-pagi sekali. Apa kau ingin kita terlambat menghadirinya,” ucapku lagi saat dia menggerakkan tubuhnya ke samping.
Dia kembali membalikkan tubuhnya, kedua matanya yang terbuka itu berkedip pelan menatapku. “Bangunlah, aku telah menyiapkan pakaian yang akan kau kenakan,” ucapku sambil menggerakkan tangan, merapikan rambutnya yang menutupi wajah.
Dia beranjak duduk dengan kedua matanya yang masih sedikit terpejam, bahkan saat dia beranjak turun dari ranjang pun, dia berjalan dengan beberapa kali mengusap wajahnya sendiri. Aku turut beranjak, meletakkan pakaian miliknya di atas meja yang ada di samping ranjang, sembari tanganku bergerak merapikan ranjang dari semua kelopak bunga mawar yang ada di atasnya.
__ADS_1
Aku kembali duduk di ranjang, menatapi sisa-sisa lilin yang tersebar di lantai. Kualihkan pandanganku, ke arah pintu kamar mandi yang terbuka dengan Zeki yang berjalan keluar mendekati. Dia berdiri di dekatku tanpa mengenakan pakaian, diraihnya lipatan pakaian miliknya yang ada di atas meja sembari menggerakkan kedua tangannya itu mengenakan pakaian tersebut. “Aku masih belum terbiasa dengan kebiasaan dari keluargamu,” ucapnya saat aku beranjak, membantunya memasang kancing dari pakaian yang ia kenakan.
“Keluargaku, hanya keluarga yang tidak suka membuang waktu, kecuali waktu untuk berkumpul bersama. Semakin cepat kau melakukan sesuatu di awal hari, semakin kuat juga keberuntungan yang akan kau dapatkan. Mungkin seperti itu, prinsip yang telah mendarah-daging di sini,”jawabku, aku tersenyum sambil merapikan pakaiannya dengan usapan yang dilakukan telapak tanganku.
Zeki menganggukkan kepalanya, “aku akan mengingat semuanya. Namun sebelum itu, berikan aku penyemangat di pagi hari,” ungkapnya sambil merangkulkan kedua tangannya di pinggangku.
“Ini masih terlalu pagi untuk bercanda. Semuanya mungkin telah berkumpul, cepatlah!” tukasku berusaha mengelak darinya.
Dia menghela napas sambil membuang pandangannya ke samping, dilepaskannya rangkulan yang ia lakukan di pinggangku sembari ia berjalan meninggalkan dengan sebelah tangannya menggaruk belakang kepalanya sendiri. Kami berdua berjalan berdampingan keluar kamar, sepanjang perjalanan … Tak keluar sedikit pun suara, kecuali suara dari langkah kaki kami masing-masing.
“Zeki,” panggilku pelan hingga ia menoleh menatapku, “aku, akan berusaha menjadi isteri yang baik. Jadi, berikan aku waktu untuk terbiasa,” ucapku pelan sambil menggenggam sedikit lengan pakaiannya.
“Aku masih belum terbiasa dan masih merasa sangat canggung jika berdekatan denganmu. Ini rasanya terasa sangat berbeda sekali saat kita masihlah belum menikah,” sambungku, kepalaku bergerak pelan membalas tatapannya.
“Jadi, jangan terburu-buru untuk kecewa padaku,” lanjutku yang dibalas kedua mata Zeki yang membesar menatapku.
“Eh?” tukasku saat dia telah berdiri di hadapanku.
“Aku bertanya, apa sarapan ini wajib untuk kita ikuti?” tanyanya yang semakin bergerak mendekati.
Kepalaku menggeleng pelan menatapnya. “Baiklah, jika seperti itu … Sudah diputuskan, kita tidak perlu mengikuti sarapan untuk hari ini.”
“Zeki! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” perintahku saat dia tiba-tiba mengangkat kedua tangannya menggendongku.
__ADS_1
“Aku suamimu, apa kau akan tetap berontak saat suamimu sendiri yang menggendongmu?”
“Tapi-”
Perkataanku terhenti saat tatapannya itu, tak berkedip menatapku. “Aku mengerti jika kau ingin kita melakukannya. Namun, tunggulah hingga malam tiba. Setidaknya, keluargaku sudah tertidur saat itu,” ucapku, cengkeraman tanganku di pakaiannya semakin menguat tatkala aku membenamkan wajah di dadanya.
“Aku akan menurunkanmu kembali sekarang,” kepalaku mengangguk pelan ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya.
Lama aku menatapnya yang terlihat menahan senyum saat aku sudah kembali ia turunkan dari gendongannya. “Mereka semua, pasti telah menunggu kita,” ungkap Zeki sambil meraih lalu menggenggam tanganku.
Aku kembali menundukkan pandangan ketika langkah kaki kami terus berlanjut menyusuri Istana. Kedua kaki kami berhenti di sebuah pintu tertutup dengan dua orang pengawal di depannya, kami berdua berjalan masuk melewati pintu tersebut saat kedua pengawal tadi membukakan pintunya.
Langkahku dan langkahnya kembali berhenti, ketika kami memberikan hormat kepada Ayah yang telah duduk di kursinya dengan Ibu dan juga yang lainnya, duduk mengisi kursi yang lain. Zeki melepaskan genggaman tangannya sembari menarik sebuah kursi kosong yang ada di dekat Eneas, aku bergerak menduduki kursi tersebut sembari ia menarik kursi yang ada di sebelahku lalu mendudukinya.
“Kau, terlihat tidak baik-baik saja.”
Aku melirik ke arah Ayah yang bertanya, “aku baik-baik saja, Ayah. Aku, hanya tidak bisa tidur semalam,” jawabku meraih gelas yang ada di samping piring lalu menyeruputnya.
“Apa itu karenaku?”
Aku menoleh ke arah Zeki yang menatapku, “kau baru menyadarinya? Selama semalaman, kau baru menyadarinya?”
“Gejolak pengantin baru. Bagaimana menurutmu, Kudou?”
__ADS_1
Tatapanku dengan cepat beralih ke arah Duke yang tiba-tiba berbicara. “Kau, seharusnya tidak perlu menyindir mereka dengan jelas seperti itu Masashi,” lirikanku pada Duke beralih kepada Ayah yang menimpali perkataannya.
Ayah mengangkat tangan kanannya yang mengepal, saat dia melakukannya, ikut terdengar pula suara batuk kecil yang ia keluarkan, “entah itu laki-laki atau perempuan, berikan Ayah seorang cucu secepatnya,” ungkap Ayah, entah apa yang terjadi … Bahkan Ibu yang duduk di dekat Ayah pun, tak berhenti tersenyum menatapku.