
"Apakah masih jauh? Kerongkonganku rasanya kering sekali," ucap Eneas berjalan di sampingku tampak sesekali telapak tangannya bergerak menyapu dahinya.
"Aku lelah sekali, bisakah kita berisitirahat sejenak, nii-chan," ucapku membalas perkataan Eneas, berkali-kali kugerakkan kedua kakiku bergantian menghentak tanah.
"Tapi, tak ada tempat untuk beristirahat di sini. Kita tidak mungkin beristirahat di tanah lapang ini, terlalu berbahaya," ucap Haruki menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Bagaimana jika kita menumpang?" Sambung Izumi menggerakkan kepalanya ke arah belakang.
"Maksudku, menumpang kereta itu," ucapnya kembali dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah yang sama.
Aku ikut menggerakkan kepala ke arah yang ia tujukan, sebuah kereta kuda bergerak cepat dengan kepulan debu berterbangan di sisi kanan dan kirinya. Izumi maju beberapa langkah, berdiri ia tegap dengan kedua tangannya terangkat ke kanan dan ke kiri.
Kereta kuda tadi berhenti tepat di hadapannya, kusir yang mengendarai kereta tersebut berteriak kencang kepada Izumi. Kugerakkan kepalaku saat pintu kereta tersebut terbuka, seorang laki-laki berambut pirang melangkah keluar dari dalam kereta.
"Apa yang kalian lakukan? Jangan menghalangi jalanku," ucapnya menatapi kami bergantian.
"Kami ingin menumpang kereta milikmu, kami akan membayar untuk tumpangan itu," ucap Haruki melangkah maju melewati.
"Aku, tidak ingin satu tempat dengan manusia rendahan seperti kalian," ungkapnya menggerakkan tubuhnya berbalik kembali mendekati kereta kuda tersebut.
"Bagaimana kereta kuda milikmu dapat berjalan jika kusir nya saja tak sadarkan diri seperti itu," ucap Izumi kembali mengarahkan jari telunjuknya pada laki-laki paruh baya yang duduk mengendarai kereta.
"Apa yang kau lakukan! Bangun!" Teriak laki-laki tadi dengan sesekali mengarahkan tangannya menggoyang-goyangkan tubuh kusir kereta tadi.
"Sudah aku katakan, dia tidak akan bangun untuk sekarang. Jadi, aku akan mengendarai kereta ini untukmu. Silakan duduk dengan hati-hati di dalam kereta Tuan," ucap Izumi melangkahkan kakinya berjalan dan duduk di samping sang kusir yang tak sadarkan diri tadi.
__ADS_1
"Beruntung, manusia itu tak melihat keberadaanku," ikut terdengar suara Lux diikuti bagian belakang rambutku yang bergerak pelan.
"Apa kau yang melakukannya Lux," bisikku pelan dengan sesekali kutatap laki-laki tadi agar tak curiga akan keberadaan Lux.
"Kau benar, itu aku. Saat kalian sibuk berbicara, aku terbang lalu menaburkan bubuk yang aku buat sebelumnya pada laki-laki tersebut," balas Lux berbisik pelan padaku.
"Kalian bertiga tunggu apalagi, naiklah ke dalam kereta!" Ungkap Izumi dengan nada meninggi, ikut kurasakan tarikan pada tanganku yang dilakukan Haruki.
"Aku tidak mengizinkan kalian memasuki kereta milikku. Pergilah!" Tukasnya dengan nada lebih tinggi dibandingkan Izumi.
"Tutup mulutmu! Aku bisa saja menebas kepalamu saat ini juga," ucap Haruki padanya, didorongnya tubuh laki-laki tadi menggunakan tubuhnya seraya diangkatnya sebelah tangannya yang lain membuka pintu kereta.
Pandangan mataku tertegun saat kedua mataku terjatuh pada seorang perempuan yang duduk bersandar di dinding kereta. Tubuhnya berselimut kain putih, matanya memandang kami dengan pandangan yang terlihat sinis.
"Maafkan kami," ucapku mengikuti perkataan Haruki, kugerakkan kepalaku menunduk seraya kedua kakiku bergerak mendekatinya.
Eneas ikut berjalan masuk dan duduk di sampingku sedangkan laki-laki tadi duduk di samping perempuan tadi tanpa suara. Kugerakkan kepalaku menyentuh punggung Haruki, bau yang menyelimuti ruangan kereta benar-benar membuatku sedikit mual.
"Apa kau seorang bangsawan? Atau seorang pedagang?" Ucap Haruki memecah keheningan di antara kami.
Kugerakkan kepalaku kembali menatap mereka, tampak sesekali kulirik perempuan tadi yang mencuri pandangannya menatap Haruki. Berkali-kali juga selimut putih yang ia kenakan ditariknya ke atas berusaha menyelimuti seluruh tubuhnya saat kedua mata kami tak sengaja bertemu.
Kau sekarang sedang menyamar sebagai seorang laki-laki Sachi. Jaga sikapmu, jaga pandanganmu.
"Untuk apa aku mengatakannya kepadamu?"
__ADS_1
"Hanya jawab saja, apakah pengawal milikmu mengikuti kereta ini secara diam-diam, atau mereka telah menunggu kereta ini sampai di tempat tujuan?" Ucap Haruki lagi padanya, laki-laki tadi kembali diam, hanya matanya saja yang memandang Haruki dengan sinis.
"Siapa kau?" Ucap laki-laki tersebut menatapnya.
"Kei, aku hanyalah seorang pengelana. Begitupun dengan ketiga Adikku," sambung Haruki kembali padanya.
"Begitukah?" Ucapnya membalas perkataan Haruki.
"Kami tidak akan melakukan apapun padamu, kami hanya ingin menumpang untuk sampai ke tempat itu. Setelah kami sampai di sana, kami tidak akan mengganggumu lagi," ungkap Haruki menggerakkan kepalanya menatapi jendela.
"Aku tidak tahu apa yang ingin kalian lakukan di sana, tapi... Memaksakan tumpangan, bukankah sebuah kejahatan?" ucapnya kembali.
"Kami tidak memaksakan tumpangan, kami hanya membantumu... Bukankah Adikku, membantumu mengendarai kereta ini?" Ucap Haruki tanpa menoleh menatapnya, kedua tangannya bergerak saling menyilang di dada.
"Heh, angkuh seperti biasanya. Benar-benar seorang Pangeran," ucap laki-laki tadi, mataku sedikit membesar mendengarnya, kugigit sedikit kuat lidahku untuk menenangkan diri.
"Apa maksudmu? Pangeran?" Ungkap Haruki menggerakkan kepalanya menatap laki-laki tadi.
"Apa aku kurang jelas mengatakannya? Benar-benar seorang Pangeran," ucapnya kembali dengan kedua tangannya bersilang di dada.
"Aku bukanlah seorang Pangeran. Bagaimana mungkin, orang sepertiku seorang Pangeran," ucap Haruki kembali, tubuhnya sedikit bergerak bersandar pada dinding kereta.
Laki-laki tadi ikut menggerakkan tubuhnya bersandar di dinding yang ada di dekat pintu kereta. Kedua lengannya masih bersilang di dada seraya kepalanya yang bersandar masih tetap menatapi Haruki. Tampak sesekali terdengar helaan napas yang dikeluarkan darinya...
"Lama tidak bertemu, Pangeran Takaoka Haruki," ucap laki-laki tadi kembali tersenyum menatapi kami.
__ADS_1