
Kau bodoh sekali Sachi. Jawabannya sudah berada di depan mata, kenapa kau membuang-buang tenaga untuk menghindarinya.
Aku berlari menjauh dari meja saat sebuah kursi ia lemparkan ke arahku. Kedua kakiku berlari mendekatinya, tubuhku bergerak ke samping kanan dan kiri menghindari serangan yang ia lakukan.
Aku merendahkan tubuh saat tangannya bergerak ke arahku, pedang yang aku genggam ku arahkan ke atas hingga merobek lengan besar miliknya. Aku beranjak berbalik sembari mundur beberapa langkah ke belakang menjauhinya, ikut kuangkat lengan kiriku menyapu darah milik laki-laki tadi yang jatuh membasahi wajah.
Laki-laki tadi menatap tajam ke arahku, ia berlari cepat ke arahku. Suara langkah kakinya ikut menggetarkan lantai kayu yang kami pijak... Sebilah pedang yang aku genggam bergerak menghalau pedang milik laki-laki tersebut.
Kuat sekali. Tanganku bisa putus jika terus menghalaunya seperti ini.
Ku pegang pedang milikku tadi menggunakan kedua tangan, pedang miliknya perlahan bergerak mendekati lenganku. Jika sebelumnya aku menahan serangannya dengan sekuat tenaga, kini sebaliknya... Aku melemaskan kedua tangan yang memegang pedang milikku.
Pedangku bergerak dengan mulus melewati pedang musuh dari bawah diikuti kaki kananku yang bergerak pelan. Aku menunduk lalu beranjak kembali, ayunan pedang milikku merobek tipis perut laki-laki itu.
Pedang yang ada di tanganku kembali berayun ke bawah, darah mengalir saat ujung pedang milikku itu melukai pundak laki-laki itu. Saat sebelah tangannya terangkat, pedang milikku ikut terangkat merobek lengan laki-laki bertubuh besar itu.
Laki-laki itu kembali mundur ke belakang dengan sebelah tangannya yang menggenggam pedang mencengkeram sebelah lengannya yang terluka. Aku berlari cepat ke arahnya...
Tubuhku sedikit menghindar ke samping saat pedang miliknya berayun ke arahku. Aku memutar tubuhku sembari kuangkat sedikit kakiku menendang kuat tubuh bagian bawah laki-laki itu. Laki-laki itu tertunduk dengan sebelah tangannya menggenggam erat benda miliknya.
Pedang milikku bergerak cepat membelah dagu laki-laki itu ke atas. Aku kembali menarik langkah kakiku ke belakang, kedua kakiku melangkah ke samping berusaha mencari celah untuk langsung menghabisinya...
Harusnya, aku melakukan ini sejak awal.
Dia kuat... Tapi lamban.
__ADS_1
Aku sudah sering berlatih pedang bersama Haruki maupun Tsubaru.
Kecepatan mereka berpedang, tak akan pernah aku ragukan. Dan laki-laki ini...
"Lamban," ucapku kembali menebas lengannya yang masih berusaha mengayunkan pedang miliknya ke arahku.
Aku bergerak ke belakang tubuhnya lalu melompat ke punggungnya. Sebelah lenganku yang memegang pundaknya beberapa kali hampir terlepas...
Kubenamkan kepalaku di pundaknya, bau keringat di tubuhnya membuat perutku terasa mual saat menciumnya. Kurasakan rasa sakit yang amat terasa beberapa kali saat pukulan-pukulan kuat menghantam kepalaku.
Kugigit kuat bibirku saat kurasakan benda tajam menembus lengan kananku. Kuangkat kepalaku, kutatap pedang milik laki-laki tadi yang menancap kuat di lenganku itu.
Kuangkat lengan kiriku yang menggenggam pedang ke samping leher laki-laki itu. Tubuhku terhentak saat kurasakan pedang yang menancap di lengan kananku dicabut paksa oleh laki-laki itu.
Kugerakkan lengan kananku yang masih sangat gemetaran memegang erat ujung mata pedang milikku. Ku jatuhkan tubuhku ke bawah dengan kedua tanganku menggenggam erat sebilah pedang yang menempel di leher laki-laki itu.
Aku beranjak duduk dengan sebelah tangan menggenggam erat tanganku yang terluka. Laki-laki bertubuh besar itu, diam tak bergerak dengan kedua matanya membelalak lebar. Darah tak hentinya mengalir saat kutarik pedang milikku yang masih menancap di leher laki-laki itu.
Kuangkat sebelah tanganku saat ia tak sengaja menyentuh lantai. Kutatap luka akibat pedang yang ada di telapak tanganku... Baik lengan maupun telapak tangan... Aku bersyukur, aku tidak kehilangan mereka sama sekali.
"Cia? Lux?" Ucapku berusaha beranjak berdiri.
"Lux?" Ungkapku sekali lagi, kedua kakiku melangkah ke ruangan sebelumnya... Mereka tak ditemukan.
"Apa kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Kepalaku menoleh menatap Haruki yang berjalan mendekati, pedang hingga wajahnya dipenuhi darah. Tampak jelas sekali terlihat, raut wajah kekhawatiran memenuhi wajahnya.
"Nii-chan, aku tidak menemukan Cia dan juga..."
"Izumi dan Eneas mengejar mereka," ucap Haruki melangkah mendekat, diarahkannya sebelah tangannya meraih lenganku yang terluka.
"Mereka?"
"Mas'ud. Dia menarik paksa Cia untuk mengikutinya. Lux yang memberitahukan kami," ucapnya, ditariknya pelan lenganku tadi sembari berjalan ia menuntunku.
"Maaf, aku terlalu..."
"Aku tahu, kakakmu ini tahu. Lagipun, jika kau kehilangan konsentrasi saat pertarungan, nyawamu akan langsung melayang," ucapnya melepaskan genggamannya, Haruki menunduk meraih tas milikku yang jatuh di lantai.
"Apakah dia yang melukai tubuhmu?" Ucap Haruki berdiri menatapi mayat laki-laki tadi.
"Aku membunuhnya," ucapku sembari kugenggam kuat lenganku yang terluka tadi.
"Harusnya, kau membiarkan dia hidup. Agar aku bisa menyiksa dan menguliti tubuhnya secara hidup-hidup," ucap Haruki kembali.
Aku yang akan mati duluan jika membiarkan dia hidup.
Pintu kamar tiba-tiba terbanting dengan kuat diikuti tubuh Mas'ud yang jatuh terjungkal ke depan. Kutatap Izumi yang juga berjalan masuk dengan Eneas menggenggam kuat tangan Cia di sampingnya.
Izumi berjalan lalu menginjak tubuh Mas'ud dengan sebelah kakinya. Dia menunduk meraih lengan kanan Mas'ud seraya diputarnya lengan Mas'ud olehnya... Izumi menggerakkan sebelah kakinya yang lain menginjak kuat lengan kanan Mas'ud yang dipegangnya itu.
__ADS_1
Mas'ud menjerit kesakitan diiringi tulang yang menonjol keluar dari dalam kulitnya. Izumi berjalan mundur beberapa langkah sembari kedua tangannya bergerak menyilang di dada menatap Mas'ud yang masih berguling kesakitan.
"Manusia tak tahu terima kasih," ucap Izumi meludahi wajah Mas'ud yang menatapinya.