Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXXXIV


__ADS_3

Niel melangkahkan kakinya mengitari para Kesatria, kutatap postur tubuh para Kesatria yang berdiri semakin tegap saat Niel berjalan di depannya. Sesekali Niel menghentikan langkah kakinya di hadapan seseorang Kesatria seraya berulang kali dia bertanya pertanyaan yang sama kepada para Kesatria tersebut satu-persatu.


"Apa kau berkhianat padaku?"


"Apa kau mencoba menusukku dari belakang?"


Perkataan tersebut selalu terlintas di bibirnya, sembari suasana hening memenuhi ruangan. Kualihkan pandanganku pada Eneas yang sibuk melangkahkan kakinya di belakang Niel yang tengah berjalan, saat Niel berhenti di hadapan salah seorang Kesatria, maka Eneas pun akan ikut menghentikan langkahnya.


Niel berbalik berjalan mendekatiku, kuarahkan pandanganku meliriknya yang telah berdiri di sampingku. Kuangkat kembali pandanganku menatapi para Kesatria tersebut satu-persatu.


"Dimulai dari sebelah sana, mendekatlah padaku!" Ungkapku seraya kuangkat jari telunjukku mengarah pada seorang Kesatria yang berdiri di pojok kanan.


Kesatria tadi menoleh lalu berjalan mendekatiku, tubuhnya yang tinggi besar membuatku sedikit mendongak saat menatapnya. Pandangan mataku teralihkan saat kurasakan tepukan pelan di pundakku.


"Nii-chan, apa kau sudah siap?" Ungkapku pelan pada Izumi yang juga telah berdiri di sampingku.


"Aku selalu siap," balasnya menjawab perkataanku.


"Baiklah..." Ucapku terdiam sejenak menatap laki-laki tadi.


"Keluarkan biji padi kering tadi dari dalam mulutmu!" Perintahku, masih kutatap matanya yang juga masih menatapku.


Kesatria tadi mengangkat telapak tangan kanannya mendekati bibirnya. Diarahkannya lagi telapak tangannya tersebut ke hadapanku, lama kutatap biji padi yang sedikit basah di atas telapak tangannya itu.

__ADS_1


"Baiklah. Kembalilah lagi ke barisanmu!" Perintahku padanya, Kesatria tadi bergerak melangkahkan kakinya menjauhi kami.


Seorang Kesatria yang lain telah berdiri di hadapanku, Kesatria tadi masih diam tak bergeming dengan wajahnya yang sedikit tertunduk. Aku kembali mengulangi perkataanku, sama persis seperti yang aku katakan pada Kesatria sebelumnya.


Kesatria yang ada di hadapanku menggerakkan telapak tangannya menutupi mulutnya. Langkah kakiku sedikit nunduk ke belakang saat lengan Izumi bergerak di hadapanku.


Tangan Izumi mencengkeram lengan Kesatria tadi, ditariknya tangan Kesatria tadi mendekatiku. Lama kutatap telapak tangan Kesatria tadi... Biji padi kering yang aku berikan sebelumnya, tak nampak di atas telapak tangannya.


Pandangan mataku sedikit membesar tatkala kutatap sebelah tangan Izumi yang lain bergerak di hadapanku. Tangan tersebut berhentil di bawah lengan Kesatria tadi yang masih ia cengkeram dengan tangannya yang lain.


Genggaman tangan Izumi yang ada di bawah lengan Kesatria tadi bergerak cepat ke atas memukul lengan Kesatria tadi dengan sangat keras. Suara benda patah diikuti teriakan pilu memenuhi ruangan...


Kesatria tadi berlutut di hadapanku, kutatap lengannya pakaiannya yang mulai basah oleh daranya yang merembes, ikut terlihat tulang siku nya yang sedikit mencuat menembus lengan pakaiannya itu.


"Daisuke!" Teriakku diikuti suara langkah kaki mendekat.


"Seret dia menjauh dariku! Aku ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya," ucapku membalas tatapannya.


Daisuke menunduk dengan sebelah tangannya meraih kerah pakaian Kesatria tadi. Izumi melepaskan genggamannya diikuti Daisuke yang berjalan dengan menarik kerah pakaian Kesatria tadi.


Suara jeritan kesakitan Kesatria tadi masih mengetuk telingaku, kuangkat sebelah telapak tanganku menutupi telinga seraya mataku kembali menatap para Kesatria yang masih berbaris bergantian.


"Kau, kemarilah!" Ucapku dengan jari telunjuk mengarah pada seorang Kesatria lainnya.

__ADS_1


Kesatria tadi menoleh dan berjalan mendekati. Sama seperti sebelumnya, aku meminta hal yang sama kepada mereka. Saat biji padi kering yang aku berikan ada di telapak tangan mereka, maka akan aku bebaskan kembali ke barisannya. Akan tetapi, jika sebaliknya... Izumi akan langsung mematahkan lengan mereka.


Kualihkan pandanganku pada lima orang Kesatria yang meringis kesakitan di sudut ruangan, tampak mereka memegang erat lengan mereka masing-masing yang dipatahkan Izumi sebelumnya. Kualihkan pandanganku pada Haruki yang berjalan mendekati dengan sedikit senyum dingin tersungging di bibirnya.


"Kalian,Bawa kembali lima orang tak berguna itu kepadaku!" Ucap Haruki mengalihkan pandangannya pada Kesatria yang masih berbaris rapi.


Beberapa Kesatria tadi berjalan mengikuti perintah Haruki, ditariknya kerah pakaian rekan-rekan mereka yang lengannya dipatahkan oleh Izumi sebelumnya. Reaksi penolakan dari lima Kesatria tadi membuat ruangan semakin riuh.


"Katakan, siapa yang telah memerintahkan kalian?!" Ucapku dengan nada lantang saat lima orang Kesatria tadi berbaris berlutut di hadapanku.


"Aku tidak tahu apa-apa, bebas..."


Perkataannya terhenti, kutatap wajah salah seorang Kesatria tersebut yang menghadap ke kanan akibat tendangan keras yang aku lakukan. Kesatria tadi balas menatapku seraya dibuangnya air ludahnya yang telah bercampur darah ke arahku.


Kepala Kesatria tadi tiba-tiba membentur keras lantai saat kaki Daisuke menginjak kuat kepalanya. Darah kembali mengalir semakin banyak saat injakan yang Daisuke lakukan berkali-kali menghantam kepala Kesatria tadi.


"Jika kalian jujur padaku, mungkin aku akan memberikan keringanan hukuman pada kalian. Jadi, katakan... Siapa yang telah memerintahkan kalian?!" Ucapku sekali lagi, kutatap keempat Kesatria yang masih tersisa bergantian.


"Kalian masih tidak ingin berbicara?" Ucapku, kuangkat kaki kananku menyentuh pipi Kesatria yang lainnya.


"Kalian pikir, kenapa hanya kalian berlima yang duduk berlutut seperti sekarang sedangkan yang lainnya tidak," sambungku lagi seraya kutarik kembali kakiku dari pipi Kesatria tadi.


"Mereka para pengkhianat, apa yang akan kau lakukan pada mereka," ucapku mengalihkan pandangan kepada Niel.

__ADS_1


"Yang Mulia, para Kesatria ku tidak mungkin berkhianat."


"Tutup mulutmu! Aku sama sekali belum menyelesaikan semua perkataanku," ucapku memotong perkataan Tem, kubalas tatapan matanya yang menatapku tajam dari kejauhan.


__ADS_2