Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXVIII


__ADS_3

"Heh, jadi seperti itu tingkah laku Perempuan di Kerajaan kalian, benar-benar tidak tahu malu," ungkapnya melirik ke arahku.


Tubuhku sedikit terhentak saat suara benda pecah terdengar dari sebelah kananku. Mataku teralihkan pada piring kosong yang pecah berhamburan di bawah telapak tangan Izumi yang tergenggam.


"Katakan sekali lagi! Katakan kata-kata tersebut sekali lagi!" ikut terdengar suara Izumi yang sedikit bergetar, kutatap pipinya yang terlihat merah padam tertunduk.


"Tidak tahu..."


Perkataan Niel terhenti, kualihkan pandanganku menatap Haruki yang telah berdiri di samping Niel. Ujung pisau kecil yang ada digenggamnya tampak menempel erat di leher Niel.


Laki-laki paruh baya yang hendak bergerak mendekati Haruki tiba-tiba menundukkan kepalanya dengan sebelah tangannya menggenggam erat pisau kecil yang tertancap di pundaknya.


"Jika kau berani mendekati Yang Mulia Pangeran Haruki, aku akan melepaskan kepalamu dari tubuhmu saat ini juga," terdengar suara Daisuke dari arah kananku.


"Apa kau pikir, luka kecil ini akan menghentikanku menyelamatkan Tuanku," sambungnya membalas perkataan Daisuke.


"Lalu bagaimana dengan racun yang aku tebar untuk anak kecil yang ada di sana?" ikut terdengar suara Eneas menimpali keadaan panas di sekitar.


"Racun?" ungkap laki-laki paruh baya tadi dengan nada yang terdengar pelan.


"Apa kau lihat kain putih yang menggantung di kerah pakaiannya? Sebelum aku duduk di samping Kakakku, aku terlebih dahulu menabur racun yang aku simpan di sana," ungkap Eneas lagi padanya.


"Kau melakukan tugasmu dengan sangat baik Adikku," ungkapku ikut menimpali perkataan Eneas.


"Beraninya kalian!"


"Ayah, apa benar yang mereka katakan?" kembali terdengar suara Egil menimpali hentakan suara keras yang Niel keluarkan.


"Apa aku akan mati Ayah?" sambungnya dengan nada sedikit bergetar.

__ADS_1


"Aku menyarankan untukmu merendahkan suaramu, jika seluruh penjaga Istanamu menangkap kami. Anakmu akan kehilangan hidupnya, dan itu semuanya karenamu," ungkapku lagi melirik ke arah Niel yang balas menatapku dengan sangat tajam.


"Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Apa kalian salah satu dari penjahat-penjahat itu?" sambungnya lagi menatapi kami bergantian.


"Bagaimana bisa kau menjuluki kami penjahat, sedangkan dirimu sendiri adalah pemimpin di mana para penjahat berkumpul," ucapku membalas perkataannya.


"Lalu, apa yang kalian inginkan?" ucapnya lagi balas menatapku.


"Nii-chan, bolehkah aku meminta apapun?" sambungku mengalihkan pandangan menatap Haruki, mengangguk Haruki membalas perkataanku.


"Baiklah, Kakakku telah memberikan izin. Aku hanya meminta tiga permintaan, dan kau harus mengabulkan semuanya," ucapku kembali seraya mengalihkan pandangan pada Niel.


"Katakan saja, apa itu?!"


"Berikan kami kendali penuh atas semua Kesatria yang kau miliki, itu adalah syarat pertama," sambungku menatapnya, kuarahkan lengan kananku berdiri menempel di atas meja sedangkan telapak tangan yang terbuka memangku wajahku.


"Apa kau bercanda?" ucapnya dengan nada dingin bercampur pelan padaku.


"Kami, mungkin lebih tepatnya aku... Hanya akan menggunakan mereka untuk mengecek seluruh petunjuk yang aku dapatkan, hal ini juga akan memudahkan aku untuk mempersingkat waktu melakukannya. Jadi bagaimana Niel? Apa kau menyetujuinya?" ucapku lagi padanya.


"Yang Mulia, jangan dengarkan perkataannya!" terdengar suara meninggi yang keluar dari mulut laki-laki paruh baya yang ada di sampingnya, pandangan mataku beralih pada pinggir telapak tangannya di pundak yang semakin basah memerah.


"Berapa lama racun tersebut akan menampakkan reaksi nya?" ucapku pelan seraya kugerakkan mataku sedikit melirik ke kanan.


"Baiklah, aku mengerti. Aku akan menerima syarat pertama," ungkapnya ikut mengarahkan pandangannya menatap kembali padaku.


"Bagus, lalu syarat yang ke dua," ungkapku kembali padanya.


"Setelah semua kasus ini berakhir, aku ingin semua perempuan di wilayah ini mendapatkan kebebasannya, tanpa terkecuali. Bagaimana?" ucapku lagi seraya kuarahkan senyuman kecilku menatapnya.

__ADS_1


"Kau hanya melakukannya untuk kepentinganmu sendiri bukan?" ungkapnya lagi padaku.


"Benar, aku melakukannya untuk membebaskan semua perempuan di sini. Tidak ada perbudakan yang akan di dapatkan oleh perempuan lagi, jika kau menyanggupinya... Aku akan membantumu menghilangkan mereka semua dari wilayah kekuasaanmu."


"Lalu, apa syarat ke tiga?" ucapnya kembali menatapku.


"Berikan aku, berikan hanya padaku, kendali penuh penjara bawah tanah," sambungku balas menatapnya, masih kutatap matanya yang sedikit membelalak membesar dibandingkan sebelumnya.


"Apa yang ingin kau lakukan di sana?" ucapnya tertunduk dengan nada suara yang sedikit berubah dari sebelumnya.


"Apa yang ingin aku lakukan di sana... Itu bukanlah urusanmu," ucapku seraya kugerakkan kembali wajahku menjauhi telapak tanganku tadi.


"Aku ti..."


Perkataan Niel terhenti, pandangan mataku terjatuh pada Egil yang tertunduk dengan sebelah telapak tangannya menutupi mulutnya. Berkali-kali terdengar suara batuk yang keluar menyertainya...


"Ayah..." ucapnya dengan sangat perlahan, kembali suara batuk keluar dari sela-sela napasnya.


"Egil. Kau baik-baik saja Nak?" ucapnya yang beranjak berdiri saat Haruki melepaskan lingkaran pergelangan tangannya di leher Niel.


"Egil, sangat pusing Ayah. Tubuhku juga terasa dingin sekali," ungkapnya dengan kembali mengeluarkan batuk yang tak kunjung berhenti.


"Sembuhkan anakku!" ungkapnya dengan nada tinggi seraya pandangannya melirik tajam padaku.


"Aku akan melakukannya, jika kau mengeluarkan satu kalimat... Aku menyetujui semua syarat yang kau ajukan," ungkapku seraya kuangkat kembali tangan kananku menopang pelan daguku.


"Baiklah! Aku menyetujui semuanya!"


"Kau memilih keputusan yang sangat tepat," ucapku tersenyum sinis padanya.

__ADS_1


"Sialan, aku benar-benar ingin membunuh kalian semua," balasnya menatapku, kualihkan pandanganku melirik ke arah Egil yang juga melirik tersenyum padaku.


"Kau benar, aku adalah seorang sialan yang memiliki kepintaran melebihi dirimu," ucapku seraya kuarahkan pandanganku ke atas, tampak Lux yang sebelumnya ku pinta untuk menyampaikan semua rencanaku pada Haruki tengah bersembunyi duduk di atas kayu langit-langit ruangan.


__ADS_2