Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXV


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?!"


"Lepaskan tanganmu darinya!" teriaknya lagi seraya digenggamnya lenganku yang merangkul kepala Zeki.


"Apa kau ingin aku melepaskan pelukanku, Sayangku?" ucapku seraya kugenggam kuat tanganku yang ditarik-tarik Putri Khang Hue.


"Sayang ... Ku?" ucap Putri Khang Hue, kurasakan tarikan yang ia lakukan di lenganku terhenti.


"Jika kau ingin sekali menciumku, setidaknya bersihkan dulu mulutmu. Kau benar-benar menghancurkan impianku," ucap Zeki yang mengangkat kepalanya menatapku.


"Membersihkan mulutku?" ungkapku, kuarahkan telapak tanganku mendekati mulutku seraya kuembuskan napasku ke sana lalu kuhirup kembali.


"Maaf, aku lupa kalau aku memakan buah berduri tadi. Tapi aku melakukannya tanpa sadar karena dia menamparku, rasanya sakit sekali kau tahu," ucapku seraya kugerakkan wajahku menyentuh pundaknya.


"Apa maksudnya ini?" suara Putri Khang Hue terdengar bergetar di telingaku.


"Apa kau benar-benar tidak mengerti? Atau kau hanya berpura-pura bodoh? Sachi, temanku lah tunangan dari Pangeran Zeki. Aku sendiri yang menjadi saksi mereka bertunangan sebelas tahun yang lalu," ikut terdengar suara Julissa dengan nada meninggi.


"Seseorang yang telah mati, untuk apa disebut-sebut kembali. Akupun berjuang untuk membahagiakan Pangeran Zeki enam tahun terakhir," ucapnya lagi dengan nada bergetar.


"Apa kau tahu, laki-laki seperti apa dia dulu?"


"Apa kau tahu, bagaimana pengorbanannya untuk bisa mencapai posisinya yang sekarang?"


"Apa kau tahu, berapa botol tinta yang aku gunakan untuk selalu menyemangatinya?"

__ADS_1


"Apa kau tahu, berapa ratus lembar kertas yang aku gunakan untuk selalu mendukungnya?"


"Jika kau tidak tahu apa-apa, tutup mulutmu!" ucapku lagi seraya kuangkat kepalaku menatapnya.


"Akulah yang mendidiknya menjadi laki-laki seperti ini, akulah yang mendukungnya menjadi Pangeran yang diakui di Kerajaannya sekarang, akulah pemilik asli dari laki-laki ini," sambungku seraya kembali kulingkarkan lenganku di leher Zeki.


"Membahagiakan? Jangan membuatku tertawa. Apa kau tahu kenapa ia selalu menguncir rambutnya? Itu karena aku sendiri yang mengatakan bahwa aku menyukai laki-laki yang rambutnya dikuncir..."


"Jika saja kau tidak menamparku, mungkin aku akan meminjamkannya sedikit lebih lama padamu. Sayang sekali, kau membuat kesabaranku menghilang," ucapku lagi, kuarahkan kepalaku kembali bersandar di pundaknya Zeki seraya mataku masih menatap Putri Khang Hue yang juga menatap tajam ke arahku.


"Katakan Zeki, buah apa yang paling aku sukai?" ungkapku seraya kugerakkan tanganku yang merangkul lehernya tadi ke arah dadanya lalu mengetuk-ngetuknya pelan menggunakan ujung jariku.


"Apel atau Jeruk, tapi yang paling kau sukai adalah Melon," jawabnya menjawab pertanyaanku.


"Lalu katakan kebiasaan buruk dari Adikku," terdengar suara Izumi segera kuangkat kepalaku berbalik menatapnya.


"Tidak bisakah kau menutup mulutmu?" ucapku memotong perkataanya seraya kugerakkan telapak tanganku menutup mulutnya.


"Aku belum selesai mengatakannya, baik itu semua kebaikan maupun keburukanmu... Aku menerima semuanya," ungkapnya seraya tersenyum menatapku, digenggamnya telapak tanganku yang menutup mulutnya tadi dengan kedua telapak tangannya.


"Maafkan aku, tapi sudah kukatakan sejak awal jika aku tidak tertarik pada perempuan lain bukan? Aku akan mengantarmu kembali ke Kerajaanmu lagi nanti, selepas acara pernikahan temanku Danurdara selesai dilakukan," ucap Zeki seraya mengalihkan pandangannya pada Putri Khang Hue.


"Jangan bercanda! Aku tunanganmu, kau tetap harus bertunangan denganku! Atau Ayahku akan membunuhku," teriaknya, ditatapnya aku dengan matanya yang merah berair.


"Kumohon, kau akan membuatku mati terbunuh jika aku kehilangannya sebagai tunanganku. Kau sudah dinyatakan mati bukan? Jadi kau akan baik-baik saja," ucapnya bergerak mendekati, ditarik dan digenggamnya tanganku yang kugerakkan kembali menyentuh dada Zeki sebelumnya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana denganku? Jika mereka mengetahui jika aku masih hidup dan aku kehilangan tunanganku, aku akan mati dieksekusi," ungkapku balas menatapnya.


"Aku akan memberikanmu semua keperluan untukmu bertahan hidup, berapapun banyaknya uang yang ingin kau dapatkan."


"Apa kau lupa? Aku juga seorang Putri, aku bisa meminta uang dan perhiasan sebanyak apapun dari Ayah dan kedua Kakakku. Aku bahkan bisa meminta mereka untuk menaklukkan Kerajaan yang aku inginkan jika itu perlu," ucapku lagi membalas perkataannya.


"Hanya katakan, katakan apa yang kau inginkan! Aku tidak ingin kehilangan nyawaku," ucapnya lagi, kurasakan genggaman tangannya semakin kuat mencengkeramku.


"Aku akan memberikannya padamu, aku sadar kalau aku sendiri yang telah meninggalkannya. Kumohon, jaga dia untukku..."


"Aku bercanda, apa kau pikir aku akan mengatakan kata-kata seperti itu padamu? Sebelum aku mati dieksekusi, aku pasti sudah mati di tangannya terlebih dahulu..."


"Jangan membuang waktu dan hidupmu untuk laki-laki sepertinya. Karena tidak ada yang bisa mengendalikannya seperti aku mengendalikannya..."


"Bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi mau bagaimana lagi jika pesona yang aku miliki terlalu kuat untuk dihadapi laki-laki seperti mereka," ucapku lagi seraya sesekali suara batuk keluar mengiringi perkataanku.


"Maaf, tapi aku tidak bisa menyerahkannya padamu. Aku mengerti benar ketakutan yang kau rasakan..."


"Aku dan Julissa, sama-sama perempuan sama sepertimu. Kamipun selalu dan selalu dihantui ketakutan akan kehilangan nyawa kami jika laki-laki yang menjadi tunangan kami tidak mau menerima kami..."


"Bukan hanya kau, kamipun berjuang untuk bertahan hidup sama sepertimu. Kau bahkan membiarkan tunanganmu sebelumnya dibunuh keluargamu bukan?"


"Katakan! Bagaimana caranya aku menyerahkan laki-laki yang aku cintai pada perempuan lemah sepertimu..."


"Aku pikir kau baik dan bisa sedikit diharapkan, tapi aku benar-benar salah menilai seseorang kali ini. Kau hanya manusia egois yang mementingkan dirimu sendiri... Dan itu, menjijikan untukku lihat."

__ADS_1


"Bisakah kau melepaskan tanganmu dariku? Atau aku harus mematahkan tanganmu untuk melepaskannya?" ucapku lagi, kutatap ia yang menangis tertunduk di hadapanku.


__ADS_2