Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXLIX


__ADS_3

Pandangan mataku masih tertuju ke arah benteng musuh, kudaku berjalan semakin maju ke depan tatkala suara keriuhan yang berasal dari benteng tersebut semakin jelas terdengar. Kepalaku sedikit mendongak ke atas, asap dari pembakaran daging yang dilakukan oleh para pasukan kami semakin tebal di langit.


Para pasukan kami yang bergerak membakar daging tadi, perlahan demi perlahan berbalik lari ke arah kami. Pandangan mataku kembali teralihkan pada gerbang benteng yang sedikit terbuka dari dalam. Gerbang itu bergerak terbuka lalu tertutup kembali, begitu seterusnya hingga berulang-ulang.


Gerbang kayu tersebut tiba-tiba terbuka lebar diikuti banyak sekali manusia yang lari tunggang-langgang dari dalam benteng tersebut. Orang-orang itu berebut berlari keluar, bahkan beberapa dari mereka ada yang jatuh tersungkur lalu terinjak oleh yang lain.


"Pasukan, serang!" Teriakku lantang diikuti suara terompet yang kuat terdengar.


Teriakan kuat yang dikeluarkan dari para pasukan yang berada di belakangku memenuhi udara. Mereka berlari melewatiku dengan pedang dan juga tombak di tangan mereka, orang-orang yang sebelumnya berlari mendekati api yang membakar daging tiba-tiba jatuh jungkir balik, berlari menghindari kejaran para pasukan milikku.


Salah seorang pasukan yang aku pimpin, jatuh tersungkur dengan anak panah menembus kepalanya. Pandangan mataku beralih ke arah pasukan musuh yang berderet memegang busur panah dari atas benteng, panah-panah milik mereka beberapa kali menghujani tubuh para pasukanku.


Pandangan mataku kembali beralih ke arah para pemanah pasukan musuh, satu per satu pemanah yang berdiri di atas benteng jatuh ke atas tanah dengan posisi kepala di bawah. Sebuah bendera berkibar di atas benteng tersebut, disusul robohnya bendera musuh yang sebelumnya berkibar kuat di puncak benteng.


"Hime-sama," suara Gritav memanggilku, "aku mengerti, semua pasukan! Serang!" Teriakku kembali lantang, kudaku berlari cepat saat tali kekang yang mengikatnya kugoyangkan dengan sangat kuat.


Gritav yang menunggangi kudanya di depanku mengangkat tinggi tombaknya, diayunkannya tombak yang ia genggam tadi ke arah pasukan pejalan kaki yang berlari mendekatiku. Percikan darah yang mengikuti ayunan pedangnya itu tampak memenuhi pemandangan di depan mataku.


Gritav kembali mengayunkan tombak yang ia pegang, seorang laki-laki yang semula berlari dengan sebilah pedang di tangannya tiba-tiba diam tak berkutik. Mata laki-laki itu membesar, tubuhnya berputar tatkala tombak milik Gritav terlepas dari lehernya, kutatap darah yang mengucur keluar dari leher laki-laki tersebut sebelum ia jatuh tersungkur ke tanah.

__ADS_1


Kudaku kembali bergerak, kualihkan pandangan mataku ke atas menatap Sanjiv yang telah berdiri di atas benteng tersebut tengah berdiri mengawasi kami. Sanjiv menggerakkan sedikit kepalanya, kubalas kode darinya itu dengan anggukan pelan dariku.


"Gritav! Buka jalan untukku! Lakukan dengan cepat!" Teriakku kembali lantang, Gritav mengangguk pelan tanpa menoleh ke belakang. Tombak yang ia genggam bergerak semakin cepat memotong tubuh pasukan musuh yang tak henti-hentinya berlari ke arah kami.


Beberapa pasukan musuh ada yang langsung tersungkur ke tanah dengan beberapa anak panah menembus punggung mereka. "Cepatlah!" Suara Sanjiv yang berteriak dari atas benteng mengalihkan pandangan mataku, puluhan pasukan pemanah yang berdiri di sampingnya kembali menembakkan anak panah mereka ke arah pasukan musuh yang menghalangi jalan kami.


"Hime-sama, ikuti aku!" Suara Arata terdengar, kugerakkan kudaku berlari menyusul kuda yang ia tunggangi membelah kerumunan manusia.


"Gritav! Eneas!" Teriakku bergantian tanpa menoleh ke arah mereka.


"Aku akan segera menyusul nee-chan."


Suara Eneas dan juga Gritav yang terdengar bergantian mengetuk telingaku. Kuangkat sebelah tanganku meraih pedang yang sebelumnya menggantung di pinggangku, kugerakkan pedang tersebut menghalau pedang seorang kesatria musuh yang bergerak ke arahku.


"Hime-sama, bertahanlah!" Suara Arata terdengar kuat, dengan cepat kuangkat kaki kananku menendang kuat dada Kesatria tadi hingga kuda yang aku tunggangi hampir jatuh ke kiri.


Kesatria yang kutendang tadi terjatuh ke belakang menimpa dua Kesatria yang ada di belakangnya. Kujatuhkan pedang yang aku pegang tadi dengan sangat cepat seraya sebelah tanganku meraih busur panah yang sengaja kuikatkan di samping kuda milikku.


Tangan kananku meraih anak panah yang ada di punggung, kuarahkan panah milikku ke arah Kesatria tadi. Anak panah milikku melesat cepat menembus mata kiri Kesatria tadi, Kesatria itu tertunduk dengan kedua tangannya memegang kayu di anak panah tersebut.

__ADS_1


Kuraih anak panahku yang lainnya, anak panah itu menembus kepala salah seorang Kesatria yang hendak berlari mendekatiku, sebuah tombak tiba-tiba berayun di hadapanku ... Tombak tersebut memutus leher salah seorang laki-laki yang berdiri di depan kuda milikku.


Tubuh laki-laki tersebut berdiri mematung, darah mengucur deras dari lehernya yang terpotong tersebut. Pandangan mataku terpaku pada percikan darah yang keluar dari leher laki-laki tersebut, "Hime-sama," suara laki-laki tiba-tiba terdengar, kugerakkan kepalaku menatap Arata yang telah memegang lenganku dari atas kudanya.


"Naiklah ke atas kudaku," ucapnya dengan sebelah tangannya yang lain bergerak memotong batok kepala salah seorang laki-laki dengan tombak besar yang ia pegang.


Laki-laki tersebut berdiri mematung sebelum jatuh ke samping dengan isi kepalanya yang tumpah di sekitar kepalanya, "Hime-sama," ucapnya lagi, kali ini lirikannya ke arahku terlihat tajam.


"Di mana Cia?" Aku balik bertanya menatapnya, "keempat anak buahku menjaganya, dia akan aman. Hime-sama, aku hanya mengkhawatirkan keselamatanmu dan juga kedua Pangeran," ucapnya kembali, Arata mengarahkan tangannya merangkul pinggangku, ditariknya tubuhku hingga aku jatuh dari atas kuda yang aku tunggangi.


Rangkulan Arata di pinggangku semakin kuat, kugerakkan tanganku mencengkeram pundaknya sembari kugerakkan kakiku berusaha menaiki kuda yang ia tunggangi. "Berpeganglah yang kuat," ucapnya saat aku telah berhasil duduk di belakangnya.


Kuda yang Arata tunggangi berlari cepat melewati kerumunan beberapa Kesatria yang bertarung di kanan dan juga kiri. Tombak yang ia genggam berkali-kali memotong leher, lengan atau bahkan membelah kepala pasukan musuh yang berusaha menghalangi jalan kami.


Kuraih pedang milik Arata yang ada di pinggangnya, kuayunkan pedang tersebut dengan tangan kananku menebas wajah salah satu Kesatria musuh yang hendak mengarahkan pedang miliknya ke arahku. Aku menoleh ke samping kiri, kuangkat lengan kiriku hingga busur panah milikku jatuh menyentuh pundakku.


Kuda yang kami tunggangi semakin cepat bergerak saat kulingkarkan lenganku di baju zirah yang Arata kenakan. Kuda tersebut membawa kami semakin masuk ke dalam Kerajaan Tao, mayat-mayat bergelimpangan sepanjang jalan saat kedua mataku bergerak menatapi sekitar.


"Bawa aku, langsung menuju Istana!"

__ADS_1


"Sesuai perintahmu, Hime-sama," ucapnya, tali kekang yang ia genggam bergerak kuat disusul kuda yang kami tunggangi berlari semakin cepat ke depan.


__ADS_2