Fake Princess

Fake Princess
Chapter DII


__ADS_3

Aku berjalan dengan kepala tertunduk, beberapa kali aku menghela napas dengan sesekali mengusap kening hingga kepala. “Putri,” tukas suara yang terdengar, langkah kakiku terhenti diikuti wajahku yang terangkat ke depan.


“Tsu nii-chan, apa Tsu nii-chan telah menyiapkan semuanya?” tanyaku sambil melangkah mendekatinya.


Tsubaru berjalan mendekat dengan sebuah tas besar di pundaknya, “aku telah memindahkan beberapa pakaian yang akan Putri kenakan ke dalam tas. Apa Putri juga ingin aku menyiapkan makanan sebelum berangkat?” tanyanya saat dia menghentikan langkahnya di hadapanku.


“Tidak perlu, aku akan mandi lalu berganti pakaian terlebih dahulu. Tsu nii-chan, bisa membereskan barang-barang milik Tsu nii-chan yang ingin nii-chan bawa,” ucapku berjalan melewatinya.


“Putri,” tukasnya kembali terdengar, langkah kakiku terhenti kembali tepat di depan kamarku. “Bagaimana dengan punggungmu Putri?” tanyanya yang terlihat khawatir menatapku.


Aku tersenyum diikuti tangan yang bergerak membuka pintu, “aku bahkan lupa jika pungungku sebelumnya sangatlah sakit. Terima kasih, karena telah menanyakannya,” ungkapku tersenyum sebelum melangkahkan kaki masuk ke kamar.


_______________.


Aku berjalan menyusuri lorong Istana, langkah kakiku semakin cepat berjalan saat suara hiruk-pikuk terdengar dari kejauhan, Kedua kakiku berhenti, mulutku sedikit menganga saat kedua mataku terjatuh pada benteng akar berduri yang ada di depan Istana, “nii-chan, kenapa? Ada apa ini?” tanyaku dengan sedikit gelagapan melangkah mendekati Haruki dan juga Izumi yang juga berdiri menatap akar-akar itu.


“Ryu, apa yang kau lakukan, nak? Tarik kembali semua akar-akar ini!”


Aku melirik ke arah suara Ibu yang sedang berdiri berdampingan dengan Ayah di depan akar-akar tadi. “Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan ini,” gerutu Izumi yang kembali melangkahkan kakinya mendekati Ibu dan juga Ayah.


Aku menarik napas sebelum ikut melangkah mengikuti Izumi yang sebelumnya telah berjalan terlebih dahulu menyusul Haruki, “Ryu, apa yang kau lakukan?!” Aku berteriak kuat memanggilnya yang tengah berdiri membelakangi kami semua.


Ryuzaki perlahan berbalik, dia mengarahkan pandangannya ke arahku dengan lama sekali, “aku sudah mengatakan untuk jangan pergi, bukan?” tukasnya yang membuat semua yang ada mengelilingi kami mengalihkan pandangannya ke arahku.


Aku menarik napas dalam sebelum kuembuskan kembali saat kakiku melangkah mendekatinya, “aku, tetap akan pergi, Ryu. Jadi, turunkan semua akar-akar itu agar kami bisa berjalan keluar dari Istana,” ungkapku sambil menunjuk ke arah akar-akar yang ada di belakangnya.


“Apa yang kutunjukkan kepadamu sebelumnya tetap tidak bisa mengubah keputusanmu?” tukasnya menatapku, dia mengepalkan telapak tangannya dengan kuat sebelum dia membuang kembali pandangannya dariku.

__ADS_1


“Jika benar kau memang berniat untuk menyelamatkanku, akan lebih baik … Jika kau membawaku pergi dari dunia manusia sejak dahulu,” ucapku pelan sambil menundukkan sedikit pandangan.


“Apa yang kalian bicarakan?”


“Bukan sesuatu hal yang penting, Ibu. Ryu, hanya sedikit berat jika aku meninggalkannya,” ungkapku seraya berbalik tersenyum menatapnya.


“Kau ingin menghilangkan semua semak-semak itu, atau aku harus melompat, menjatuhkan tubuhku di atas semak berduri yang kau buat?” tanyaku menatap kembali Ryuzaki sembari melangkahkan kaki semakin mendekatinya.


“Ryu.” Langkahku kembali terhenti, wajahku menoleh ke belakang … Menatap Haruki yang berjalan mendekati, “aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Aku pun tidak tahu kenapa kau tiba-tiba bisa berbicara dengan lancar seperti kami, berhubung kau bisa mengerti dengan baik bahasa yang akan aku ucapkan ini, maka dengarkan baik-baik!”


Haruki menghentikan langkahnya di sampingku, “dibandingkan kau melarang Sachi untuk pergi, bukankah lebih baik jika kau pergi bersama kami? Kau, ingin menjaga Kakak perempuanmu ini, bukan?” Aku menoleh ke arah Haruki saat kurasakan sentuhan menyentuh pundak.


Ryuzaki menggeleng pelan sebelum dia kembali menundukkan pandangannya, “aku, ingin menjaga kalian semua,” gumamnya pelan diikuti akar-akar berduri yang ia buat kembali masuk ke dalam tanah.


Aku lagi-lagi menoleh ke arah Haruki saat kurasakan tepukan menyentuh punggung, Haruki menggerakkan sedikit kepalanya, “dia membutuhkanmu,” ucap Haruki pelan dengan kembali menepuk pelan punggungku tadi.


Aku mengangguk sebelum melangkah mendekati Ryuzaki yang masih berdiri tertunduk, “Ryu, jangan menakuti mereka semua,” bisikku pelan sambil meraih lalu menggenggam kuat tangannya.


“Kau menyelamatkanku, hanya itu … Kesalahanmu,” jawabnya yang masih tertunduk, enggan untuk mengangkat kembali wajahnya.


“Bagaimana jika kita bertaruh?”


“Bertaruh?” Dia mengulangi kata-katanya sembari mengangkat kembali wajahnya menatapku.


“Aku bertaruh akan mengubah semuanya. Aku bersumpah, tidak akan membiarkan Naga milik Kaisar membunuhku. Aku, akan melakukan apa pun untuk membayar semua pengorbananmu, Ryu,” ucapku sangat pelan diikuti wajahku yang sedikit maju ke arahnya.


“Itu mustahil, hasilnya tetap akan sama,” tukasnya yang langsung membuang pandangan.

__ADS_1


“Karena itu kita bertaruh. Kau, atau aku yang akan menang … Jika aku menang, bukankah bagus, jadi semua yang kau khawatirkan tidak terjadi. Keluarga kita pun akan hidup bahagia-”


“Bagaimana jika aku yang menang? Aku, akan kehilangan kalian semua,” tukasnya yang langsung memotong perkataanku.


“Sebenarnya, aku merasa tertanggu akan hal ini … Apakah, pembicaraan kita yang sekarang, juga terjadi di masa lalu?”


Ryuzaki terdiam, hanya kedua matanya saja yang sedikit terbelalak. “Lihat bukan … Berkat kau yang memberitahukan aku apa yang terjadi, masa sekarang sedikit berbeda dari masa ketika kau belum menyelamatkanku,” ucapku yang semakin menggenggam kedua tangannya diikuti bibirku yang tersenyum menatapnya.


“Aku akan ikut bersama kalian, aku tidak tahu … Tempat apa yang akan kalian kunjungi karena aku, hanya berdiam di Istana ketika kalian pergi mencari sekutu saat itu.”


Aku tersenyum sebelum berbalik ke belakang, “nii-chan, dia ingin ikut pergi. Tentu saja boleh, bukan?” tanyaku yang menatap ke arah Haruki dan Izumi bergantian.


Haruki menganggukkan kepalanya, “tentu. Bersama Izumi terus-menerus justru membuatku sulit berpikir,” ucap Haruki yang mengarahkan ibu jarinya ke arah belakang tubuhnya.


“Apa maksudmu? Justru jika bersamamu terus-menerus malah membuat kami semakin melakukan hal yang aneh-aneh!”


Haruki tertawa, dia menoleh ke arah Izumi yang berjalan mendekatinya. “Ayah, apa aku boleh membunuh kakakku sendiri?” ucap Izumi yang terus melangkah, tangannya menunjuk ke arah Haruki dengan pandangannya mengarah kepada Ayah.


“Tidak perlu panik seperti itu, mereka memang sudah terbiasa melakukannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, itu cara mereka bercanda,” ucap Ayah, dia menoleh ke arah Ibu yang menatapnya dengan tatapan khawatir.


“Arata, jika Pangeran Ryuzaki memang ingin mengikuti saudara mereka … Segera persiapkan semua keperluan untuknya,” ucap Ayah yang membuang pandangannya ke arah Arata.


“Laksanakan, Yang Mulia,” sambung Arata, dia sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum berbalik, berjalan meninggalkan kami.


“Tatsuya, Tsutomu, Tsubaru, dan juga Yuki ... Aku menitipkan anak-anakku di tangan kalian, jaga mereka dengan segenap nyawa kalian,” sambung Ayah sambil menatap mereka bergantian.


“Laksanakan, Yang Mulia,” timpal mereka sembari membungkukkan tubuh diikuti sebelah tangan yang terangkat menyentuh dada.

__ADS_1


“Haruki, Izumi, Sachi, Eneas dan juga Ryu … Dengarkan semua perkataan para wakil kapten yang melayani kalian. Pengalaman mereka, lebih banyak dibandingkan kalian dalam menghadapi dunia luar, jadi jangan coba-coba mengambil keputusan, tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan mereka.”


“Apa kalian mengerti dengan apa yang Ayah katakan?!” Aku sedikit terhentak kaget saat suara yang Ayah keluarkan tiba-tiba meninggi.


__ADS_2