Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXXXI


__ADS_3

Aku melirik ke samping saat kutatap salah seorang perempuan yang memakai topeng burung berjalan melewati kami, perempuan tersebut berlutut dengan kedua tangannya meraih nampan berisi bunga di atasnya, dia kembali beranjak berdiri lalu berjalan membawa nampan tersebut menjauhi kami.


Dua orang bertopeng burung lainnya yang tiba-tiba muncul dari kerumunan penduduk berjalan mendekati kami, laki-laki dan perempuan yang bertopeng burung tersebut menghentikan langkah kaki mereka di samping kami lalu meraih masing-masing satu nampan berisikan helaian kulit yang dikeringkan.


Mereka kembali beranjak berdiri lalu berjalan menyusul perempuan sebelumnya dengan nampan di tangan mereka. “Kalian, ikuti mereka bertiga,” aku kembali melirik ke arah perempuan tua tadi yang telah membuka suaranya.


Kepalaku sedikit mendongak ke samping saat bayangan Izumi telah beranjak berdiri, ikut kugerakan tubuhku beranjak berdiri dengan sebelah tanganku mengenggam kuat telapak tangan Cia. Aku berjalan berdampingan dengan Cia mengikuti langkah kaki Haruki, suara aliran sungai semakin terdengar jelas saat kedua kakiku semakin melangkah maju.


Kutatap obor-obor menyala yang bersusun rapi di pinggir sungai, sesekali api yang ada di atas obor tersebut bergoyang mengikuti angin yang berembus di sekitarnya. Aku melirik ke belakang ketika ikut terdengar suara langkah kaki mengikuti, kutatap iring-iringan penduduk desa yang mengikuti kami dari belakang, lengkap dengan obor-obor yang menyala di tangan beberapa dari mereka.


Langkah kaki kami berhenti saat ketiga orang yang membawa nampan tadi menghentikan langkah kaki mereka di pinggir sungai. Mataku melirik ke kiri, saat kutatap delapan orang yang tengah memanggul kotak kayu milik perempuan tia itu sebelumnya. Mereka berdelapan dengan perlahan menuruni kotak kayu tersebut ke tanah, disusul perempuan bertopeng serigala yang telah berdiri di depan kotak kayu tersebut.


Salah seorang dari mereka yang mengangkut kotak tadi, mengangkat tangannya membuka tirai yang menutupi tirai tersebut, saat seseorang itu melakukannya … Perempuan bertopeng serigala yang sebelumnya hanya berdiri diam, melangkahkan kakinya semakin mendekati kotak tersebut.

__ADS_1


Perempuan tua itu dengan perlahan bergerak keluar dari dalam kotak kayu itu, tubuhnya yang telah renta itu bergerak tergopoh-gopoh dibantu oleh perempuan bertopeng serigala sebelumnya. “Sucikan diri kalian di sungai, setelah selesai … Ganti pakaian yang kalian kenakan sekarang, dengan kulit hewan yang telah kami persiapkan. Jika semuanya telah selesai, kalian resmi menjadi salah satu di antara kami,” ucapnya menatapi kami bergantian dengan sebelah tangannya memegang punggungnya yang sedikit membungkuk.


Haruki melangkah maju diikuti Izumi dan juga Eneas yang berjalan di belakangnya, saat salah satu perempuan menuangkan kelopak bunga yang ada di atas nampan yang ia pegang tadi ke dalam sungai, Semakin melangkah ke depan, tubuh mereka semakin tenggelam ke dalam air sungai. Perempuan tua itu mengangkat sebelah tangannya yang mengarah ke arah sungai saat kedua mata kami saling bertemu.


Aku berjalan dengan mengenggam tangan Cia di sampingku, kurasakan genggaman Cia di tanganku menguat tatkala kami berjalan semakin ke dalam air. Aku mengendong Cia di depan dadaku saat air sungai telah menyentuh pinggangku, genggaman tanganku di tubuh Cia semakin kuat tatkala air sungai semakin meninggi hingga menyentuh leherku.


Aku menggigit kuat bibirku saat dinginnya air sungai semakin menusuk tulang, kedua mataku sedikit melirik ke arah Cia saat terdengar suara gemeretak giginya tepat di sampingku. Aku kembali menatap perempuan tua tersebut dengan para penduduk desa yang juga berdiri di belakangnya. Perempuan tua itu mengangkat kedua tangannya ke udara, sebuah lantunan lagu dari bahasa yang tak kukenal membuat tubuhku bergidik.


Angin semakin kuat berembus tatkala lantunan lagu yang dinyanyikan perempuan tua tadi masih terdengar. Aku menoleh ke arah Cia, telapak tanganku yang telah mengerut itu, menyentuh pelan pipinya yang berangsur berubah pucat saat sinar dari obor menjatuhi wajahnya. Cia membenamkan kepalanya di pundakku, aku semakin kuat memeluknya saat suara giginya yang bergemeretak menyentuh telingaku.


Haruki menoleh ke arahku, kepalanya mengangguk pelan, “pergilah terlebih dahulu Sachi, kami akan menyusul,” ucap Haruki sedikit melirik ke arah Cia yang ada di gendonganku.


Aku mengangguk pelan menatapnya, “baiklah,” ucapku membalas perkataanya dengan suara bergetar.

__ADS_1


Aku tertunduk dengan mengembuskan napas sekuat mungkin, kedua kakiku yang terasa membeku sebelumnya … Kugerakan dengan perlahan membelah air sungai, mendekati kerumunan para penduduk yang masih menatapi kami dari pinggir sungai itu.


“Ikutilah dia, lalu ganti pakaian kalian,” ucap perempuan tua itu kembali diikuti kedua matanya yang melirik ke arah perempuan bertopeng burung yang membawa nampan di tangannya.


Aku melangkahkan kaki mengikuti perempuan bertopeng burung tadi saat dia telah melangkahkan kakinya menjauhi penduduk desa dengan sebelah tangannya memegang nampan, sedangkan sebelah tangannya yang lain memegang obor yang menyala. Kedua tanganku bergerak semakin kuat merangkul tubuh Cia yang ada di gendonganku, kutatap punggung perempuan yang memakai topeng burung tersebut, sepatah kata pun tak keluar darinya.


Perempuan itu menghentikan langkah kakinya di sebuah gubuk yang ada di tengah hutan, dia berbalik menatapku dengan sebelah tangannya mengarahkan nampan yang ada di tangannya tadi ke arahku. Aku melangkah maju mendekatinya, meraih nampan yang ada di tangannya tadi dengan sebelah tanganku. Perempuan itu kembali berbalik lalu berjalan membuka pintu yang terbuat dari ikatan bambu yang ada di hadapan kami itu, aku berjalan mengendong Cia memasuki gubuk tadi saat perempuan tersebut tak kunjung keluar.


Suasana di dalam gubuk kecil itu menerang tatkala api yang menyala di obor yang ada di tangan perempuan tadi menyambar pada obor yang menempel di dinding anyaman bambu pada gubuk itu. Perempuan itu mengucapkan kata yang tak aku mengerti saat nampan yang ada di tanganku tadi aku letakan di atas meja kayu yang ada di dalam gubuk tersebut.


Aku menatap perempuan bertopeng burung itu dengan sedikit mengerutkan kening, “pakailah pakaian itu, aku akan menunggu kalian di depan,” dia kembali berbicara, kali ini bahasa yang ia ucapkan dapat kumengerti.


Perempuan itu menghentikan langkah kakinya di depan pintu, “panggil saja, jika kalian membutuhkan bantuan untuk memakainya,” ungkapnya kembali melangkahkan kakinya ke luar dari dalam gubuk.

__ADS_1


Aku menurunkan tubuh Cia saat perempuan itu kembali menutup pintu. Kugerakan tubuhku berlutut di hadapan Cia yang mengenggam kedua tangannya, dia masih tertunduk enggan mengangkat wajahnya. Dengan perlahan, kedua tanganku membuka pakaian yang Cia kenakan, “apakah kami harus mengenakan pakaian yang sama seperti yang mereka kenakan?” Gumamku pelan saat kedua mataku kembali melirik ke arah tumpukan kulit hewan yang ada di atas nampan.


__ADS_2